Aswandi As’an
Aktif dengan tulis-menulis sejak masa kuliahnya dengan menulis di majalah kampus dan majalah internal perkumpulan mahasiswa daerahnya. Kesenangan ini dia tekuni bersamaan dengan kegiatannya sebagai aktifis intra (Senat Mahasiswa) dan ekstra kampus (HMI). Beberapa cerita pendek atau cerpennya tentang kecintaan pada kampung halaman dan kelestarian alam dan lingkungan, terbit di “Bangka Pos”, seperti: Bak. Semungkel, Mimbar, Blue Mountains, Sulai Sembilang, Atok Man, Pohon Terakhir dan lain-lain Thema cerpennya itu tak lepas dari kehidupan masa kecilnya sebagai nelayan bersama orang tuanya, dan keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan di kampungnya akibat penambangan timah yang serampangan.
Kebiasaan menulisnya dilanjutkan dengan masuk dunia professional menjadi researcher dan penulis jurnal dan synopsis di lembaga kajian “Dharmapena Nusantara”, Jakarta, tahun 1997. Memulai karier jurnalistiknya dengan menjadi wartawan pada tabloid “Demokrasi” pada tahun 1998. Awal tahun 2.000 beralih menjadi jurnalis televisi (reporter) dengan bergabung ke Metro TV hingga akhir 2008. Kemudian menjadi manager PR (public relations) sebuah group usaha, yang bertanggung jawab menangani website dan publikasi perusahaan tersebut. Saat ini, aktif sebagai redaktur di The phrase.id dan Co-Consultant di PT. Cika Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konsultan PR dan komunikasi.
Lahir di Bangka, 13 oktober 1970, Aswandi As’an menyelesaikan S1 di IAIN Sunan Kalijga, Yogyakarta. Sempat mengambil S2 Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia (UI). Pernah tinggal di Woodford, NSW, Australia untuk mendalami bahasa dan budaya. Pendidikan jurnalistik diperdalamnya di Ohio University (OU), Amerika Serikat dan magang di sebuah TV Swasta di Dayton, Ohio, USA. Selain itu, pendidikan dan pelatihan jurnalistik banyak diperoleh melalui lembaga seperti Internews, CNN, Centurions, Mabes TNI (khusus bertahan di daerah konflik) dan lain-lain. Profesi sebagai jurnalis membawanya keliling Indonesia dan banyak negara untuk meliput beragam peristiwa terutama kasus konflik, baik konflik sosial maupun konflik bersenjata.
Kesehariannya, selain sebagai sebagai suami dan ayah dari 1 putra dan 2 putri, Aswandi As’an aktif di lingkungan tempat tinggalnya sebagai pengurus RT RW dan takmir mesjid. Selain itu, intens mengikuti kajian dan aktifitas sebagai murid di Majelis Dzikir “Assamawaat Al Maliky” di bawah bimbingan Mursyid, Syaikh KH. Saadi AlBatawy.
“Pengayuh Gelombang” adalah novel pertamanya, setelah sebelumnya pernah menulis novel yang berisi potongan-potongan kisah tentang kehidupan orang-perorang yang mengandung kisah hikmah dan pelajaran hidup yang dikompilasi menjadi satu buku.
Saat ini, sedang menulis novel “Pewaris Para Atok” dan “Kebon Cinta” yang memiliki alur kisah kelanjutan dari novel pertamanya ini.