Tentang

Pengayuh Gelombang adalah sebuah novel yang diangkat dari kehidupan masyarakat pesisir di Pulau Bangka, Bangka Belitung.  Kisahnya dpotret dari keseharian  sebuah keluarga nelayan di Selat Bangka pada kurun waktu antara  tahun 1980 an  – 2000-an. Kisahnya seputar perjuangan kepala keluarga nelayan itu untuk mewujudkan cita-cita anak-anaknya di tengah keterbatasan ekonomi dan fisiknya.  Dia menutupi kekurangannya  itu dengan membangun mental juang anak-anaknya agar tak mudah menyerah dengan keadaan.  Kesulitan bukan untuk diratapi tetapi disyukuri sebagai latihan   dan penempaan diri karena  itu berarti kita sedang dipersiapkan untuk menghadapi tantangan yang lebih besar dengan peluang yang lebih besar pula.

Kisah ini diwarnai dengan semangat cinta kepada kampung halaman. Cinta yang membuatnya dengan sadar memilih pekerjaan sebagai nelayan yang ramah dengan alam dan lingkungan. Cinta yang mengharuskannya untuk mengulang-ulang  pesan untuk anak-anaknya agar menjaga kampung dari kerusakan akibat tambang yang serampangan.  Cinta yang mewajibkannya bekerja keras yang untuk bisa bertahan dalam situasi genting yang tak punya pilihan. D bagian ini akan menyingkap sedikit kisah tentang awal mula Pulau Bangka menjadi jarahan dan “bancakan”  karena kandungan timah di perut buminya.

Pergolakan bathin dan perubahan kehidupan spiritual yang kerap terjadi pada semua orang di usia tertentu digambarkan  dalam  pergumulan bathin Bak, tokoh utama novel ini yang tiba-tiba merasakan rasa sesal dan bersalah atas perjalanan hidupnya selama ini yang jauh dan abai terhadap Tuhannya.

Nilai dan kearifan local masyarakat Melayu pesisir banyak disajikan melalui prosesi ritual adat  menjaga lingkungan kampung dan prosesi perkawinan serta hidup sehari-hari saat menghadapi momen-momen khusus seperti bulan puasa dan hari raya.

Keindahan alam  Pulau Bangka dengan pantai-pantainya yang eksotik juga disinggung melalui melalui kisah “bulan madu” salah satu tokoh dalam novel ini  yang berkeliling merayakan pernikahnnya yang dihiasi kisah romantic pasangan baru, juga ada bumbu cemburu ketika pertemuan tak sengaja dengan mantan yang berpisah karena keadaan.

Kisah-kisah kenakalan masa anak-anak disajikan di bagian-bagian awal yang akan membuat pembaca hanyut dan masuk dalam alur cerita,   berkelana menjadi anak-anak lagi dengan segala kenakalan dan keindahannya.

Secara keseluruhan, thema besar novel ini adalah kritik terhadap kecendrungan kehidupan sosial kita yang lebih berorientasi pada “dunia” dengan semangat flexingnya. Kritik yang disampaikan melalui cara pandang dan cara hidup tokoh utama novel ini.  Dia menolak untuk menjadi “orang kaya”  dengan ikut memiliki kapal besar  dan memilih perahu kecil untuk menopang nafkah keluarganya. Sama ketika dia memilih membangun kebun sahang sendiri, dan tak tergiur dengan tawaran pemodal yang ingin berinvenstasi memperluas kebunnya.   “lebih baik sedikit tetapi merdeka, daripada memiliki banyak tapi tersandera”

Scroll to Top