09. Tukang Jualan Hebat

Hamdan atau yang biasa dipanggil Dan itu adalah anak ketiga  dari enam bersaudara.  Duduk di kelas 2, Sekolah Dasar Negeri 145 Penagan.  Berbadan sedikit berisi dari anak-anak seusianya  dengan penampilan khas baju kemeja yang tak berkancing lengkap dan celana yang diikat dengan tali ubur-ubur.  Mak sudah sering memasang kancing bajunya  yang terlepas tapi beberapa hari setelah itu hilang lagi.  Demikian juga kancing kait  celananya  hanya bertahan seminggu, setelah itu dia sering pulang dengan ujung celana yang di ikat simpul karena kancingnya hilang entah kemana. Agar celananya tak melorot dia memilih cara praktis dengan mengikat celananya dengan tali ubur-ubur sebagai sabuk ikat pinggangnya.

Dan  satu kelas dengan kakaknya, Rahima yang berumur setahun  di atasnya. Semula masuk sekolah hanya sebagai “anak bawang” ikut sang kakak karena umurnya belum cukup.  Guru Suratman, Kepala Sekolah mengizinkannya masuk ke dalam kelas setelah Bak meminta agar anaknya  itu dapat ikut sekolah bersama kakaknya. Namun, ternyata dia lebih cepat menangkap pelajaran dari kakaknya bahkan di akhir tahun  Dan berada di ranking satu di kelasnya. Belajar hanya di kelas saja dengan mengandalkan ingatan dan kalau di rumah banyak  bermain, ikut Bak melaut  atau berjualan.

Setiap ada keramaian seperti  hari raya atau orang hajatan Dan memilih berjualan pempek atau makanan lain buatan neneknya.  Bila pohon Rukam dan Rumbia sedang berbuah, dia kerap membawa manisan buah-buah  itu ke sekolah yang dijual kepada teman-temanya.  Manisan itu dibuat bersama kakaknya,  Rahima.  Jika disuruh memilih antara mengerjakan pekerjaan sehari-hari dengan berjualan, Dan lebih memilih berjualan. Bahkan dia rela mengorbankan waktu bermainnya jika ada barang dagangan yang bisa dijual.  Baginya, berjualan itu adalah kesenangan kedua setelah bermain.  Mendapatkan uang upah hasil jualan itu, yang paling membuatnya senang.

Pulang dari ngelumpor kemarin Dan sudah berpesan kepada Mak agar kerang itu dia yang menjualnya. Selesai jam sekolah  dia buru-buru pulang untuk menjaja kerang itu  keliling kampung.

“Mak! kerangnya sudah  siap?” Dan terengah-engah di depan pintu.

“Sudah. Itu sudah Mak keteng di dulang, ada 10 cumpuk. Satu cumpuk harganya 150  rupiah. Hati-hati jangan sampai daun Simpur pembatasnya terlepas agar tak tercampur,” Mak  menunjuk ke arah lantai  tempat dulang kerang itu diletakkan.

Dan menyelesaikan makan siangnya dengan buru-buru,  menggantikan seragam sekolahnya dengan baju kemeja lusuh yang kancingnya tinggal dua, kemudian  mengikat tali ubur-ubur untuk mengeratkan celananya yang kancing kaitnya sudah tak ada di tempatnya.

“Mak, angkat dulangnya!” Dan meminta Mak meletakkan dulang  ke kepalanya.  Dia pun berlalu  berjalan menyelusuri  gang  bertelanjang kaki menuju jalan kampung menjajakan kerang dengan berteriak memanggil  orang untuk membeli, “keraaang….,keraaang…,!”

Dan tidak menghiraukan teriknya matahari siang itu. Dulang tempat kerang yang dijunjungnya cukup jadi pelindung. Dia hanya fokus bagaimana agar kerangnya itu cepat habis dan segera menerima upah sebagai imbalan.  Bagi Dan berjualan adalah satu-satunya cara mendapat uang cepat karena Mak hampir tidak pernah memberikan uang jajan cuma-cuma  kepada anak-anaknya. Sebagai gantinya Mak telah menyiapkan banyak makanan  yang dibuat dan dan diolah  dari ubi, mulai dari rebus ubi, goreng ubi, kipeng ubi, kelamai ubi, buk ubi,  sagak ubi, kue ubi,  bubur ubi, pempek ubi, celepon ubi hingga keroket ubi.

“Daan..! bawa ke mari kerangnya,” seseorang memanggil dengan melambaikan  tangannya.

“Iya Ngah,” Dan menjawab dengan berbalik menuju orang yang memanggilnya itu. “ooh.. Ngah Senah,” Dan menyebut nama orang itu begitu sampai di pintu rumah orang yang memanggilnya.

“Berapa secumpuk?”

“150 rupiah,”

“Kerangnya besar-besar ya,  kerang mana ini, Dan?” tanya Ngah Senah.

“Kerang Paloh,”

“O, pantes, kalo kerang suwak atau kuala tidak sebesar ini.  Saya ambil dua cumpuk,“  Ngah Senah mengangkat 2 cumpuk kerang  dan memasukkan ke dalam sauki.  “yang mau kerang ke sini..!  Isah, Nur,  Halimah…! Mau beli kerang enggak?” Ngah Senah memanggil tetangganya.  Ngah Senah dan para tetangganya ini adalah langganan yang biasa membeli ikan, ketam dan udang yang biasa dijual Dan.

“Ketam enggak ada, Dan?” tanya Ngah Isah

“Enggak Ngah, karena beberapa hari ini Bak tidak mukat,”

“Berapa secumpuk kerangnya?” tanya Ngah Isah lagi

“150, Ngah.”

“Kalau beli 3 cumpuk bisa 400 rupiah?” Ngah Isah menawar.

“Kalau 3  cumpuk 450, Ngah,” Dan bertahan.

“Ya, sudah saya ambil 3 cumpuk sekalian untuk lauk besok siang. Sudah lama  juga tidak ngelempah katis  rampai kerang pakai kelapa,” Ngah Isah menyebut menu kesukaannya. “kamu ambil berapa, Nur?’ Ngah Isah bertanya kepada Ngah Nur yang berdiri di sebelahnya.

“Saya 2 cumpuk untuk selingan ikan asin yang sudah dua hari ini menjadi panto nasi,” Ngah Nur beseloroh.  “kamu masih mau terus makan lauk pucuk ubi, Mah?” Ngah Nur menggoda Ngah Halimah yang baru datang.

“Kalau kamu traktir saya 2 cumpuk kerang ini, nanti malam saya sudah mulai libur makan lauk pucuk ubi,” Ngah Halimah balik menggoda sambil menunggu reaksi tetangganya itu.”bagaimana?” desaknya setelah melihat Ngah Nur belum beraksi.

“Boleh, tapi gini saja, saya beli satu cumpuk lagi untuk kita bagi dua, sedangkan dua cumpuknya kamu bayar sendiri,” Ngah Nur merasa tidak enakan kalau diminta untuk traktir.

“Setuju,!” Ngah Halimah buru-buru menyetujui karena akan dapat tambahan setengah cumpuk kerang dari tetangganya itu.

Dan menerima uang dari pelanggannya itu dengan hati berbunga-bunga. 10 cumpuk kerang sudah habis sebelum sampai  di ujung gang. Dia menenteng dulang pulang dengan tergesa-gesa untuk mengambil 10 cumpuk kerang  lagi.  Dan membayangkan upah yang akan didapatnya jika dia bisa menjual 30 cumpuk. Mak akan memberinya upah Rp.100  setiap penjualan Rp.1.000.

“Mak!, Sudah habis. Tambah 10 lagi,”  Dan dengan napas tersengal begitu sampai di depan pintu.  “ini uangnya.”  dia menyodorkan uang hasil penjualan beberapa lembar uang kertas dan koin pecahan Rp. 100 dan Rp.50.

“Mak simpan 1.000 rupiahnya, yang 500 bawa lagi untuk kembalian. Sekarang istirahat dulu,  Mak siapkan kerangnya.”

“Iya Mak,” Dan duduk di lantai  melihat Mak menyiapkan kerang sambil mengunyah rebus ubi sisa sarapan mereka pagi tadi. “Akak kemana? Belum kelihatan?” Dan menanyakan Wan, kakaknya.

“Belum pulang.  Mungkin masih di sekolah atau main sama teman-temannya,” jawab Mak tanpa menoleh meneruskan pekerjaaannya.

“Setelah yang  ini apa masih bisa satu dulang lagi?” Dan ingin memastikan dia bisa menjual 3 dulang.

“Masih.  Itu  masih bisa satu dulang lagi. Sekarang, yang ini udah siap.  Ke sini! Mak angkat!” Mak mengangkat dulang itu ke atas kepala Dan.

Dan berjalan menyusuri gang menuju jalan raya.  Di ujung gang itu dia berteriak memanggil pembeli. Matahari sudah mulai condong ke barat dengan sinarnya yang masih menyengat membuat warga kampung tidak banyak yang berada di luar rumah. Dan berteriak memanggil pembeli dengan lebih keras untuk mengimbangi hembusan angin siang itu, “Keraaang, keraaaaang!”.

Di kejauhan, suara Dan itu kadang-kadang menghilang pertanda dia sedang melayani pembeli.  Beberapa saat kemudian terdengar kembali  semakin menjauh memanggil pembeli berikutnya, “keraaang, keraaaang!”

____________

Di ruang belakang berlantai papan itu, Mak sedang menakar kerang dengan menggunakan kaleng bekas mentega  1 kg.  Di depannya tumpukan kerang di lantai beralaskan karung bekas. Kerang itu dipersiapkan untuk dijual Dan, jika dulang kedua tadi sudah habis.  Di sebelah Mak, Rahima membantu membersihkan Daun Simpur untuk dijadikan penyekat cumpuk kerang itu. Satu cumpuk  isinya satu kaleng  mentega 1 kg  seharga Rp.150.

Sesekali Mak menggerakkan ayunan bayinya jika bayinya itu  bergerak terjaga. Sementara anak  keempatnya , Ismail duduk bermain sendiri dengan mengadu beberapa butir kerang yang sengaja diberikan Mak agar tak mengganggu Mak menyelesaikan pekerjaannya.

Mak dan Rahima baru menyelesaikan pekerjaannya, Wan masuk ke rumah pulang sekolah.

“Mak! Adik Dan mana?” Wan bertanya karena melihat Dan tidak di rumah.

“Menjual kerang,” jawab Mak  singkat.

“Kok, tidak nunggu saya,” Wan merasa ditinggalkan. Padahal dia juga ingin dapat upah seperti Dan yang selalu mendapat uang lebih karena rajin menjual ikan, kepiting, udang dan lain-lain..

“Tadi Adik Dan-mu yang ingin jual cepat. Lagi pula kalau nunggu kamu tidak jelas jam berapa sampai di rumah. Keburu sore dan kerangnya sudah ada yang mati kalau terlalu lama dibiarkan.” Mak mencoba menenangkan Wan.

“Tapi saya tidak dapat upahnya?” Wan coba protes.

“Dapat.. Kamu dapat karena telah membantu Bak mencari kerang. Adik Ma-mu dapat karena telah membantu Mak mengemas kerang-kerang ini,” kata Mak menghibur anak tertuanya yang terlihat kecewa itu.

“Dapat sih dapat, tapi tidak sebesar Adik Dan,” Wan menuntut karena tak ingin adiknya mendapat upah lebih besar.

“Kalau mau dapat sama, bawa dulang yang ini. Susul adikmu.  Tadi dia sudah bawa dulang kedua,” Mak menawarkan jalan keluar agar Wan dapat upah yang sama dengan adiknya. “sekarang makan dulu saja dan ganti baju,”

“Nanti saja makannya, sini dulangnya!” Wan meraih dulang kerang yang baru selesai disiapkan Mak tanpa mengganti baju sekolahnya. Dia menyusuri gang dan jalan  yang tadi dilewati Dan,  untuk segera menyusul adiknya itu.

Di pertigaan tengah kampung dari kejauhan Wan melihat Dan berjalan pulang dengan menenteng dulang yang sudah kosong.

“Dik Dan! udah sampai mana, tadi?” Wan bertanya untuk mengetahui batas rumah yang  telah membeli kerangnya.

“Itu baru sampai rumah, Ngah Sam,” Dan menyebut rumah terakhir yang membeli jualannya.

Diapun berlalu pulang menjauh meninggalkan kakaknya yang berjalan berlawanan arah.

Sesampai di rumah Dan menyerahkan uang hasil jualannya ke Mak.  Semula dia ingin protes mengapa dulang terakhir itu diberikan pada kakaknya. Namun niat itu diurungkannya karena dia tahu kakaknya tidak mau kalah. Apalagi saat ngelumpur kemarin, kakaknya dapat kerang lebih banyak.  Mak belum memberinya upah.

“Tunggu sampai Akakmu pulang,” kata Mak singkat memberi alasan.

Dan masih duduk di dekat Mak dan tak mau jauh-jauh karena upahnya belum diberikan.

“Mak! Akak sudah pulang,” Dan berteriak begitu melihat Wan di halaman berjalan dengan menenteng dulang kosong.

“Cepat sekali habisnya?” Mak menyapa Wan.

“Iya. Tadi tinggal 6 cumpuk, diborong semua oleh Haji Sauba,” Wan menyerahkan uang hasil jualannya.

Mak mengumpulkan semua uang hasil penjualan, lalu mengeluarkan Rp. 500 untuk dibagikan kepada anak-anaknya.  “Ini 100 rupiah untuk Ima yang telah membantu Mak. Dan yang jualannya paling banyak dapat 200. Wan yang dapat kerang banyak dan juga sudah ikut jualan dapat 150.” Mak merinci bagian masing-masing anaknya.

Dan sudah menghitung upah yang seharusnya dia terima adalah Rp. 300 karena dia telah mencetak penjualan Rp. 3.000. Tapi dia diam saja tidak berani bersuara. Namun Mak melihat raut kesal di wajahnya dan memberikan penjelasan agar anak nomor 3 nya itu tidak kecewa.

“Seseorang bisa berjualan jika barangnya tersedia. Maka orang yang menyediakan atau mencari barang itu juga harus dihargai. Demikian juga orang yang telah mengemas jualannya itu menjadi menarik juga harus diberi harga.  Maka Rp.100 bagian Dan diserahkan ke Ima karena telah membuat barang dagangannya menjadi lebih menarik,” kata Mak memberi alasan tentang besaran upah masing-masing anaknya itu.

Wajah kesal Dan pun hilang karena Rp. 100 bagiannya itu ternyata diberikan kepada kakak perempuannya, Rahima  yang selama ini sering membantunya membuat barang jualan.

“Tambahan 50 untuk Wan, karena dia yang banyak  mendapat kerang kemarin.” Mak menutup penjelasannya.

Wan yang sejak awal tak mau kalah merasa menang karena dia mendapatkan bagian yang sama dengan adiknya.  Dengan senyum penuh kemenangan dia pun menikmati makan siangnya yang tertunda tadi. ()

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top