Bunyi tawak-tawak pagi itu sudah bertalu sejak jam setengah enam sebelum matahari terbit. Suaranya berasal dari arah ujung kampung ditingkahi bunyi gendang yang terdengar lamat-lamat dari kejauhan.
“Kung, kung, kung, kung, kung, kung…!” Suaranya makin jelas jika ada angin yang berhembus dari arah timur. Sementara suara gendangnya timbul tenggelam kadang tak terdengar jika angin sedikit kencang.
Langit sangat jelas birunya berhiaskan awan-awan kecil dan tipis yang bergerak amat perlahan. Di dapur, Mak sibuk menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Kue Ubi yang ditimnya tadi subuh sudah siap di atas meja dengan uap panasnya yang masih ngepul. Wan dan adik-adiknya mengelilingi meja dengan piring di tangan masing-masing. Setelah mendapat bagiannya mereka duduk di lantai menghadap ke pintu menikmati sarapannya.
“Itu suara tawak-tawak apa, Mak? Apa ada orang bermain silat lagi?” tanya Wan sambil mengunyah kue ubinya.
“Atok-Atok memberi tahu kalau hari ini ada Taber,” jawab Mak.
“Atok-Atok siapa?” tanya Wan lagi.
“Atok Man, Atok Sapah, Atok Sa’i, Atok Bek, Atok Rek dan lain-lain,” Mak menyebut beberapa nama tetua kampung.
“Taber itu apa?”
“Menjaga kampung dengan membersihkannya dari hal-hal buruk yang merusak,” jelas Mak.
“Caranya?” Wan belum faham sama sekali dengan taber yang diceritakan Mak.
“Atok-Atok itu akan mengumumkan apa yang boleh dan yang tak boleh dilakukan,” ujar Mak.
Mak kemudian melanjutkan penjelasannya tentang seluk beluk Taber yang diketahuinya. Mulai dari tujuannya, pelakunya hingga perlengkapan yang digunakan dalam prosesi Taber.
Penjelasan Mak membuat Wan makin penasaran, yang mendorongnya untuk melihat langsung proses Taber. Meski tidak tahu tempat pastinya tapi suara tawak -tawak itu dapat menuntunnya menuju tempat para Atok itu berada. Wan minta ijin Mak untuk menyaksikan Atok-Atok itu Menaber.
“Saya ikut!” Dan tiba-tiba minta diajak begitu melihat Wan beranjak.
“ Jangan! kamu masih kecil ngerepotin orang,” Wan melarangnya.
“Mak, saya ikut Akak, ya?” Dan minta Mak membelanya.
“Tidak usah, itu bukan untuk anak kecil,” Mak melarang Dan ikut.
“Ikut pokoknya. Kalau Akak ikut saya juga ikut,” Dan bersikeras.
“Tidak usah. Nanti juga rombongan Atok-Atok itu lewat sini,” Mak membujuk Dan agar tidak ngotot. “akakmu tadi mana, coba panggil ke sini!”
Dan mencari kakaknya tetapi Wan sudah menghilang, pergi diam-diam ketika tadi ketika Dan membujuk Mak mengizinkannya ikut.
_________
Di halaman rumah Atok Man, suasana sudah ramai dengan murid-muridnya bermain silat menunjukkan kebolehan kuntau, main pedang, tembung dan besambut. Beberapa orang lainnya menabuh gendang dan tawak-tawak meningkahi penampilan mereka yang sedang berpencak. Permainan pencak ini adalah aktifitas pengantar Taber yang akan dilakukan hari itu. Warga yang menonton hanya boleh melihat dari luar pagar yang mengelilingi halaman. Di dalam pagar hanya para petugas yang ditandai dengan ikat kain merah di kepalanya.
Wan yang berada di tengah warga yang menonton sedang mencari cara agar bisa ikut bergabung dalam rombongan Taber. Dia duduk bersila bersebelahan dengan Didi, teman sepermainanya.
“Kita harus ikut, jangan sampai lewat, karena ini hanya sekali setahun,” kata Wan setengah berbisik kepada Didi.
“Caranya?” tanya Didi agak gemetar.
“Belum tahu. Tapi lihat sekeliling apa yang bisa jadi celah agar kita bisa masuk,” kata Wan dengan terus mengawasi.
Ketika Wan dan Didi sedang diskusi, tiba-tiba, “Bruukk!” seorang pesilat terjatuh terkena besetan lawan tandingnya tepat di depan Wan dengan ikat kepalanya terlepas.
“Ssett!” Wan reflek menyambar ikat kepala itu dan menggenggamnya seolah tak terjadi apa-apa.
Penabuh gendang dan tawak-tawak menghentikan permainannya dan bergegas mengangkat pesilat itu karena tidak bisa bangkit. Ketika pandangan penonton dan semua orang tertuju pada pesilat yang digotong itu, Wan diam-diam mengikat kepalanya dengan kain merah milik pesilat yang diambilnya tadi. Sedikit-sedikit dia merangsek lewat celah pagar dan berdiri dalam arena seolah-olah bagian dari rombongan.
“Siapa yang berdiri di situ?” tiba-tiba Atok Man menunjuk ke arahnya. “ke sini!” Atok Man melambaikan tangannya agar Wan mendekat.
“Iya, Tok!,” Wan buru-buru mendekat.
“Kamu tugasnya apa?’ tanya Atok Man yang membuat Wan kebingungan. Tiba-tiba matanya tertuju pada tawak-tawak yang tergeletak di lantai.
“Itu, Tok!” jawab Wan spontan sambil menunjuk tawak-tawak itu.
“Ini kan harus dua orang untuk memikulnya. Satu lagi temanmu mana?” tanya Atok Man lagi.
“Itu Tok, di luar. Dia belum bisa masuk karena belum dapat ikat kepala,” Wan menunjuk Didi yang berdiri di luar pagar.
“Panggil masuk. Suruh dia pakai ini,” Atok Man memberikan ikat kepala merah dan menyuruh Wan mengenakannya pada Didi.
Wan melambaikan tangannya memanggil Didi segera masuk. Didi yang sejak tadi gemetar mendekat dengan melangkah ragu.
“Cepat!” kata Wan mendesak temannya itu. “pakai ini!” Wan menyerahkan kain merah dan meminta Didi untuk mengikat kepalanya.
“Setelah ini kita mau apa lagi,” tanya Didi yang masih grogi.
“Memikul tawak-tawak itu,” Wan menunjuk tawak-tawak yang tergeletak di lantai.
“Hah! Mati kita kalau memikul itu,” mata Didi terbelalak melihat tawak-tawak besar yang tersandar di tembok rumah yang tergantung di atas kayu ukiran penyangganya. Sebuah tawak-tawak dengan diameter hampir 1 meter terbuat dari tembaga yang biasa digunakan untuk atraksi pencak silat pada saat ada keramaian atau kenduri.
“Bukan itu…, ini!,” Wan menunjuk tawak-tawak yang ukurannya lebih kecil hanya seperempat dari yang pertama.
“Kamu kok milih memikul tawak-tawak, sih?,” Didi coba protes.
“Cuma ini jalan kita bisa ikut. Mau ikut tidak? Kalau tidak mau saya cari orang lain.” Wan memojokkan kawannya itu agar tidak banyak protes.
“Jangan! Jangan! jangan diganti, saya mau,” Didi menyerah dan menerima.
“Kalau begitu diam! Ikuti saja,” Wan mendiamkan temannya itu.
Dua orang anak muda mengangkat meja pendek dan meletakkannya di tengah lapangan. Lalu meletakkan sebuah ember besar di atas meja itu. Ember itu berisi cairan putih kental yang hampir penuh. Empat manggar pinang juga ikut diletakkan di atas meja di samping ember. Suasana hening menunggu para Atok keluar untuk proses berikutnya.
“Air apa itu?” Didi menyikut Wan setengah berbisik menanyakan cairan di dalam ember.
“Air Taber,” jawab Wan tanpa menoleh.
“Kok putih seperti getah karet?” tanya Didi lagi
“Iya, itu tepung beras yang dicampur air,” Wan menjelaskan sebagaimana yang dia dengar dari Mak tadi, “air taber itu sudah diisi dengan mempunang oleh para Atok. Makanya tidak boleh diletakkan sembarangan,”
Didi ingin bertanya lebih banyak tapi dia menahan keinginannya karena para Atok yang berpakaian serba hitam dengan ikat kepala merah, sudah keluar dari dalam rumah. Atok Man keluar dan memasuki halaman dengan berpencak yang dibuka gerakan langkah empat, yang disambung dengan beberapa jurus inti. Semua gerakan silat itu dilakukan seperti orang menari mengikuti bunyi gendang dan tawak-tawak.
Sejenak Atok Man berdiri mengatur napas dan pelan-pelan membuka matanya dan menyapu pandangan kepada semua yang hadir. Mulutnya komat-kamit seperti sedang merapal atau membaca sesuatu.
“Bismillahirrahmaniirahim…..! Mulai hari ini, semua warga dilarang bersiul dan mengeluarkan suara seperti siulan selama 3 hari ke depan. Dilarang menjemur pakaian dalam di atas pagar selama 3 hari. Tidak boleh membuka kebun dengan menebang hutan di atas Tumbek. Tidak boleh berkebun atau membuka lahan di puncak dan badan bukit-bukit yang tinggi. Dilarang menangkap ikan pakai tuba. Tidak boleh membuang kulit cempedak, kulit durian dan kulit buah-buahan lain serta sisa bekas makanan ke laut,” Atok Man mengumumkan pantangan dengan suaranya yang berat. “sesiapa yang melanggar pantangan ini akan dikenakan hukuman berupa denda uang atau barang, dan hukuman lain yang ditetapkan oleh para pemangku adat. Kemarin kami bertiga sudah memulai menaber dari puncak Bukit Besar sampai ke ujung kampung. Pagi ini kita lanjutkan dari ujung kampung sampai ke laut,”
Dengan isyarat tangannya laki-laki 72 tahun yang masih bugar itu kemudian memerintahkan semua rombongan untuk bersiap berbaris pada posisi masing-masing. Di bagian paling depan adalah para Atok. Atok Man, Atok Sapah, Atok Bek yang didampingi para tetua kampung. Di belakangnya 4 orang anak muda pemikul Air Taber dan kelengkapannya. Setelah itu beberapa orang penabuh gendang dan tawak-tawak, termasuk Wan dan Didi ada di barisan ini sebagai pemikul tawak-tawak dengan seorang lagi yang berperan sebagai pemukul . Paling belakang adalah beberapa anak muda membawa karung, keranjang dan perkakas lainnya.
“Kung, kung, kung, kung, kung……..” tawak-tawak bertalu lagi yang ditingkahi suara gendang.”plak, plak, plak, plak..”.
Rombongan Taber itupun bergerak ke arah Aek Atok Jum, tempat pemandian umum yang terletak di ujung kampung sebagai titik awal menaber kampung. Para Atok itu menandai pohon, kayu gantungan pakaian, tembok dan apa saja yang ada di tempat itu, dengan memerciki atau mengoles Air Taber menggunakan manggar pinang muda. Rombongan kemudian berbalik ke arah ke kampung dan mendatangi setiap rumah. Rumah yang didatangi akan diberi tanda putih, yaitu percikan atau olesan Air Taber di empat sudutnya. Tuan rumah memberikan uang atau beras seikhlasnya sebagai ucapan terima kasih. Rombongan itu terus bergerak menyusuri jalan kampung. Gerakannya bisa dipantau dari jauh melalui bunyi tawak-tawak yang mengiringinya, “kung, kung, kung, kung, kung,,,,!”
____________
“Kung, kung, kung, plak, plak ,plak, kung, kung, kung…..!” Rombongan Taber sudah memasuki gang.
Anak-anak berdiri di pinggir jalan menyaksikan rombongan itu menjalankan proses taber dari rumah ke rumah.
“Mak. Itu rombongannya sudah kelihatan,” Dan menunjuk ke arah rombongan taber yang bergerak mendekat.
“Benar kan! Mak bilang juga apa. Rombongannya akan lewat rumah kita,” ujar Mak.
“Iya. Tapi Akak dimana ya? Tadi katanya ikut Taber?” Dan memeriksa gerombolan anak-anak di belakang rombongan, mencari kakaknya. Dia tidak mengira jika kakaknya ada di dalam rombongan itu.
Wan melihat Dan celingukan sedang berdiri di pinggir jalan. Jarak keduanya hanya beberapa meter saja ketika rombongan itu berhenti..
“Dik Dan! Dik Dan..!” Wan memanggil Dan. Namun suaranya tenggelam dalam bunyi gendang dan tawak-tawak. Wan mengambil batu kecil dam melempar adiknya itu setelah melihat Dan tidak merespon panggilannya.
“Mak, Mak! Akak ada dalam rombongan!” Dan berteriak setelah dia melihat Wan sedang berdiri di samping tawak-tawak dengan kain berwarna merah terikat di kepalanya. Jika berhenti tawak-tawak digantung di penyangga dan dipikul jika rombongan berjalan.
Melihat kakaknya, Dan reflek masuk ke dalam rombongan tapi dicegah Wan.
“Dik Dan.., jangan masuk!,” kata Wan sambil mengibas-ngibas tangannya.
Dan terhenti dan berbalik masuk ke rumah menemui Mak yang sedang mengambil beras untuk diberikan ke rombongan itu.
“Mak, Akak ada di dalam rombongan,” Dan mengadu agar bisa ikut kakaknya.
“Biarkan saja, Akakmu sudah besar. Ayo kita berikan beras ini. Kamu yang memasukkan ke dalam karungnya.” Mak membujuk.
Dan menuangkan beras itu ke dalam karung yang dibawa rombongan setelah Atok Man usai menyampaikan pantangan yang tidak boleh dilanggar. Mak dan anak-anaknya berdiri di depan pintu melihat rombongan itu berlalu. Wan melambaikan tangan dengan senyum penuh kebanggaan.
_________
Hampir seharian penuh rombongan itu berkeliling kampung, menaber rumah dan pekarangan warga. Rombongan itu berhenti di ujung kampung di depan rumah Atok Amak, rumah terakhir yang berada di pinggir suwak. Matahari sudah lewat tengah hari dan sudah mulai condong ke Barat. Angin yang yang berhembus memberikan kesejukan pada semua rombongan yang sudah tampak kelelahan. Didi yang sejak awal sudah protes karena kebagian memikul tawak-tawak itu sudah terlihat meringis menahan pegal bahunya. Beda dengan Wan, yang tidak terlalu fokus pada beban yang dibawanya tetapi dia lebih mengikuti rasa senang dan gembiranya karena bisa ikut rombongan. Pemandangan itu tak luput dari pengamatan Atok Man sebagai sebagai pimpinan rombongan itu.
“Ini kurang latihan. Coba kamu berdua ke sini!” Atok Man memanggil Wan dan Didi mendekat. “berdiri di sini! Mainkan gerakan langkah empat, lanjutkan dengan kuntau,” Atok Man menunjuk Didi.
Didi yang yang tidak menyangka dengan instruksi itu kebingungan dan tak tahu apa yang akan dilakukan. Dia makin grogi karena semua mata melihat ke arahnya. Dia melirik Wan di sebelahnya untuk diberi tahu apa yang dimaksud oleh Atok Man.
“Langkah empat!” kata Wan setengah berbisik.
Namun Didi belum juga bergerak dan masih belum bisa menguasai dirinya. Padahal dia dan Wan pernah belajar pencak silat di rumah Atok Man selama tiga purnama atau 3 kali betamat. Semua gerakan silat itu tiba-tiba hilang karena gugup dan grogi yang menguasai dirinya.
“Langkah empat..!” Wan mengulangi ucapannya karena melihat kawannya itu masih bingung.
Didi tiba-tiba mengambil ancang-ancang siap dengan memasang kuda-kuda. Dengan suara keras dia berteriak dan melangkah, “Satu, dua, tiga, empat!”
“Ha ha ha haha..!” semua orang tertawa melihat aksi Didi itu, karena dia bukan memperagakan gerakan silat tetapi hanya melangkah empat langkah ke depan.
“Sudah, cukup! itu namanya empat langkah bukan langkah empat,” gurau Atok Man dan menyuruh Didi duduk, “coba kamu! peragakan silat langkah empat, sambung dengan kuntau,” Atok Man menyuruh Wan melakukan hal yang sama seperti Didi tadi.
Wan maju ke depan. Dengan tenang dia mengatur napas, memasang kuda-kuda dan membuka gerakan dengan tangan kanan dibuang ke samping kanan dan diikuti gerakan kaki kanan ke arah yang sama. Lalu melempar pukulan ke kiri dengan tangan menyilang, memutar badan sambil membuat pukulan tangan kanan ke depan dengan posisi tangan kiri di depan dada. Menarik kaki kanan sejajar dengan kaki kiri yang diikuti dengan mengangkat kedua tangan dan meletakkan di depan dada sebagai salam persembahan. Setelah itu dia memainkan beberapa jurus besambut yang pernah di pelajarinya di perguruan silat Atok Man.
“Ciaaat!” Wan berteriak kecil dalam posisi berdiri memutar, melompat dan menjatuhkan diri dalam posisi duduk dengan kaki bersilang, kedua tangan diletakkan di depan dada dan kepala tertunduk memberi hormat.
“Plok, plok, plok, plok….!” tepuk tangan spontan dari rombongan yang melihat aksi Wan sore itu.
“Itu bedanya yang rajin berlatih dan tidak terlatih,” Atok Man mengomentari aksi Wan barusan. “besok pagi kita lanjutkan naber laut. Sebelum matahari terbit semua sudah berkumpul di tempat ini dan jangan sampai terlambat. Ada yang bertanya?” Atok Man menyampaikan maklumat, dan diam sejenak menunggu reaksi anggota rombongan. “kalau tidak ada, kita tutup kegiatan hari ini dengan sama-sama membaca hamdalah, Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin. Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.”
“Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh,!” serentak semua anggota rombongan menjawab salam penutup Atok Man.
_____
Saat matahari menampakkan dirinya di ufuk Timur, tiga buah perahu yang membawa rombongan Taber itu sudah meninggalkan suwak menuju ke arah kuala Sungai Menduk. Perahu pertama berpenumpang para Atok berada paling depan diikuti perahu yang membawa para penabuh gendang dan tawak-tawak yang sudah menabuh dua alat itu sejak tadi. Paling belakang adalah perahu dengan empat penumpang yang bertugas sebagai penjaga perlengkapan taber yang ada dalam perahu itu. Seorang nelayan diikutsertakan pada masing-masing perahu sebagai pendayung sekaligus pemandu arah.
Cuaca sangat cerah dengan langit membiru yang dihiasi awan tipis di beberapa bagiannya. Angin berhembus lembut yang membentuk alunan kecil pada permukaan air laut. Pulau Pelepas, Begadung, Medang dan Hantu sangat jelas dengan siraman sinar matahari pagi. Burung Kedidi yang berdiri di atas ujung kayu di atas air itu tak menghiraukan kecipak air dari ujung dayung pendayung rombongan. Bahkan burung itu seolah tak terganggu dengan bunyi gendang dan tawak-tawak yang ditabuh penumpang perahu itu. Hingga rombongan itu berlalu, burung kecil itu tetap tak beranjak dari tempat hinggapnya.
“Berapa lama sampai Kuala,” Atok Man bertanya kepada, Samad, Si Pendayung.
“Kalau angin teduh begini, paling sekitar dua hingga dua setengah jam,” jawab Si Pendayung mengira-ngira. “kalau sendirian biasanya satu setengah jam sampai, tapi kalau banyak muatan kira-kira dua jam setengahlah,”
“Udah biasa ke situ?” tanya Atok Man lagi.
“Sering. Kalau tidak mukat, ngambil daun Nipah jika ada pesanan,” Samad menyebut alasannya sering ke kuala Sungai Menduk.
Daun Nipah biasa digunakan warga untuk atap rumah. Pohonnya tumbuh subur di sepanjang kiri kanan Sungai Menduk. Sebelum tahun 70-an, Sungai Menduk ini juga jalur utama warga di kampung-kampung di pesisir di sekitarnya menuju Pangkal Pinang. Dengan badan sungai yang cukup lebar, sungai ini dapat dilewati kapal motor berbobot 30 ton hingga ke Kampung Menduk. Dari Kampung Menduk, perjalanan dilanjutkan perjalanan darat melewati Kampung Paya Benua, Petaling, Cengkong Abang dan Kace.
Baru, pada awal tahun 70 an, setelah PT. TTB (Tambang Timah Bangka) membuka Tambang XII di Penagan, jalan darat dibuka dari Pangkal Pinang ke Penagan melewati Kampung Pedindang, Terak, Pasir Garam, Air Buluh, Air Pelempang dan Rukam
Perahu terus melaju mendekati kuala. Di kejauhan sungai itu sudah tampak jelas dengan alirannya airnya yang berakhir di laut.
“Kira-kira dua puluh depa di depan kita sampai di alur sungainya,” Samad memberi tahu posisi jarak ke alur sungai di bawah air laut.
“Pelan-pelan,” Atok Man memberi arahan. “sekarang biar Atok Sapah yang tentukan titik berhentinya.” Atok Man melambaikan tangannya agar dua perahu di belakangnya merapat. Tiga perahu itu berdekatan dengan mempertemukan haluan dan buritan membentuk formasi segitiga.
Atok Sapah yang duduk di haluan bangkit berdiri mengamati keadaan dengan menoleh ke kiri dan ke kanan dan menyapu pandangan ke pinggir tempat pertemuan ujung air laut dan air sungai. Laki-laki berpostur sedang berusia 70-an tahun itu memejamkam mata dengan mulut komat- kamit lalu diam sejenak mengatur napas.
“Coba ke arah pinggir sedikit lagi,”Atok Sapah memberi instruksi kepada Samad agar mengarahkan perahu ke pinggir, “berhenti di sini!” katanya kemudian setelah perahu bergerak sekitar sepuluh depa dari posisi semula.
Atok Sapah memberi isyarat tangannya, agar perahu yang membawa perlengkapan Taber melakukan persiapan. Lalu dia melompat pindah ke dalam perahu itu dan berdiri di tengah sebelah ember Air Taber.
“Kung, kung, kung, plak,plak,plak,plak, kung,kung, kung…” tawak-tawak dan gendang yang dipukul serentak menggema terbawa angin menembus hutan Bakau dan Perpat di sekitar tempat itu.
Wan yang bertugas memegang penyangga tawak-tawak tidak mau melepaskan pandangannya pada Atok Sapah yang sedang melakukan persiapan di perahu sebelahnya. Dia belum pernah melihat prosesi Taber Laut sebelumnya, hanya mendengar kisah tentang Atok Sapah sebagai Atok yang bisa berhubungan dengan peridup penjaga laut, sebuah kemampuan yang diwariskan dari leluhurnya.
“Atok Sapah itu sedang apa?” Didi berbisik menjawil tangan Wan.
“Sssst!” Wan memberi isyarat telunjuk di depan mulutnya menyuruh Didi diam.
Atok Sapah berdiri menghadap ke pinggir ke arah hutan Bakau dan Perpat, membelakangi laut. Kemudian dia mengibaskan air taber menggunakan manggar pinang ke arah empat penjuru angin. Lalu dengan posisi berdiri, berkonsentrasi dengan mata terpejam. Perlahan-lahan dia menggerakkan badannya seperti orang menari mengikuti irama gendang dan tawak-tawak, memainkan gerakan dan jurus silat. Gerakan yang tadinya lamban pelan-pelan semakin cepat seperti sedang berhadapan dengan lawan tanding yang saling jual beli pukulan.
Pada satu gerakan berbalik menghindar dengan merendahkan posisi badannya, Atok Sapah menyambar dua buah benda yang dibungkus kain hitam dari tangan salah seorang penjaga alat. Tiba-tiba dengan satu gerakan memutar dengan menghentak kakinya melenting ke atas dan, “Byuuurrr!” Atok Sapah melompat ke dalam air dan menghilang beberapa saat meninggalkan gelembung dan buih di permukaan air.
“Hahh!” Wan tercekat menyaksikan adegan itu. Dia tak mengira Atok Sapah akan melompat ke air. Dia agak cemas setelah melihat Atok Sapah belum muncul-muncul. Satu menit, dua menit, tiga menit sampai empat menit, orang tua itu masih belum muncul juga.
Tiba-tiba, “puaaahh!” kepala Atok Sapah menyembul beberapa meter dari tempat dia menghilang tadi, setelah selama 6 menit berada di bawah air. Dua buah benda dalam kain hitam yang dipegangnya tadi sudah tidak ada di tangannya tetapi berganti dua buah batu berwarna hitam.
Atok Sapah berenang mendekat perahu tadi dan, ”huppps!” Atok Sapah melompat naik ke perahu, lalu mengambil beberapa buah Ketupat dan Lepet dan melemparnya dengan lembut ke beberapa arah di dalam air.
“Coba lihat itu!” Didi menjawil tangan Wan menunjuk ke arah Atok Sapah melempar Ketupat dan Lepet tadi. “seperti ada sesuatu di bawah air.., lihat gelembung-gelembung air yang bergerak itu!”
Wan tidak menjawab tetapi matanya terus tertuju pada permukaan air yang ditunjuk Didi. Dia tidak melihat gelembung air yang dimaksud Didi tetapi bayangan hitam di bawah air yang bergerak mengelilingi perahu.
“Cplek, cplek, cplek…,” Atok Sapah menepuk lembut permukaan air setelah membuat gerakan melingkar di atasnya. Dia membungkuk bertumpu pada kedua lututnya dengan memengang tepi perahu melihat ke dalam air dengan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sejenak kemudian pandangannya seperti mengikuti gerakan sesuatu yang bergerak menjauh. Kemudian dia bangkit dan melompat pindah ke perahu yang ditumpanginya semula bersama para Atok yang lain.
“Ayo, kita lanjutkan perjalanan, menuju Sungai Sembulan,” Atok Sapah berkata kepada Atok Man sebagai tanda jika prosesi Naber di Sungai Menduk itu sudah selesai yang akan dilanjutkan ke Sungai Sembulan.
“Kita ke Sembulan!” Atok Man berteriak dan memberi isyarat tanganya agar semua perahu berbalik arah bergerak menuju Sungai Sembulan.
Berbalik arah karena posisi Sungai Sembulan terletak di sebelah Selatan suwak kampung. Sedangkan Sungai Menduk ada di sebelah Utaranya. Maka jika keluar dari suwak langsung belok ke kiri melewati Batu Timun, Kuala Sungai Kampung Lama, Tanjung Tabun, Tanjung Tikus, Batu Ampar dan Peludim. Bila angin teduh, dengan berdayung perlu waktu sekitar 2 hingga 2,5 jam untuk sampai ke Kuala Sungai itu.
Para Atok dan Tetua Kampung menjadikan garis pantai dan laut antara Sungai Menduk dan Sungai Sembulan sebagai area yang masuk dalam wilayah Taber. Kawasan ini merupakan area tangkap para nelayan tempat mereka menggantungkan nafkahnya. Di Kuala Sungai Sembulan itu Atok Sapah mengulangi ritual yang sama seperti di Sungai Menduk tadi pagi. Hanya di bagian akhir Atok Sapah meminta beberapa orang Atok untuk ikut melempar pelan Ketupat dan Lepet ke dalam air dengan menghadap ke arah daratan.
Menjelang sore semua proses Naber Laut di Kuala Sungai Sembulan itu pun selesai. Atok Sapah sebagai Atok yang memimpin Taber Laut, berdiri di atas perahu menghadap ke semua anggota rombongan dan berkata,
“Laut ini bukan milik kita, tetapi milik Penciptanya. Kita diberiNya hak untuk mengelola dan mengambil manfaat yang ada didalamnya sebagai rejeki dan sangu kita menjalani hidup. Namun, jangan lupa kita diberi tugas untuk merawat dan menjaganya. Maka, sesiapa yang merusaknya atau mengambil isinya dengan nafsu serakah, maka itu dia akan merusak kehidupannya sendiri. Apa yang dia dapat akan hilang berkat. Yang dia kejar akan buyar. Yang dia cari tidak akan pernah dimiliki.”
Di bawah siraman sinar matahari sore yang mulai menguning, tiga perahu yang membawa rombongan Taber itu meninggalkan Kuala Sungai Sembulan, berjalan pulang diiringi gelombang kecil yang berkejaran dan hembusan lembut angin laut. Dua ekor Camar yang sedang melintas memperlambat lajunya dan terbang menggantung berputar di atas rombongan seolah sedang berpatroli memeriksa setiap perahu dan penumpangnya. Lalu dengan satu hentakan kepakan sayapnya sepasang camar itu terbang menjauh membiarkan rombongan itu menikmati perjalanan pulangnya. ()
