08. Ngelumpor, mencari kerang

Hidup di pesisir tidak akan pernah kehabisan sumber nafkah dan penghidupan, sekalipun pada musim ketika laut seperti tak berpenghuni ketika ikan,  udang, kepiting dan mahkluk lainnya seperti menghilang.  Ikan-ikan  menghilang terjadi ketika  air laut berwarna campuran kuning dan jingga, mirip air sungai di sekitar muara.  Para nelayan menyebut laut seperti itu dengan Air Bubong.  Biasanya nelayan memilih tidak melaut  dan berisitrahat dengan memperbaiki alat tangkapnya.  Ada yang mubul, yakni  menambal pukat yang rusak,   juga ada  yang ngemetak.  menata ulang pukat dan sungkor dengan menambah pelampung di aras atas dan tentem di aras bawah.  Ada juga yang memilih menarik perahu ke darat untuk sekedar mengecat ulang atau mendempul bagian perahu yang bocor.

Bak tahu sekarang  air laut sedang bubong.  Tapi Bak tetap berangkat melaut dengan mengajak Wan dan Dan.  Hanya saja kali ini Bak tidak membawa pukat seperti biasanya tetapi membawa kotak kayu terbuka berukuran  50 cm x 120 cm dan dua buah Palung, wadah alumunium seukuran 40 cm x 100 cm yang biasa digunakan untuk mengangkat gelas minuman saat orang hajatan.

Matahari baru setinggi galah, ketika Bak mulai menggerakkan dayung kembarnya meninggalkan suwak pagi itu.  Bak mengarahkan perahunya ke arah kanan  menuju  Tanjung Raya. Anaknya Dan duduk di bagian tengah, sementara Wan seperti biasa ikut mengayuh di haluan. Air laut relatif tenang dengan alun kecil yang bergerak teratur saling berkejaran.  Bak mendayung gontai sengaja menikmati perjalanan dan laju perahunya.  Cuaca sangat cerah dengan angin yang berhembus pelan dan langit biru sempurna dengan awan-awan tipis menghiasinya. .

Pulau Pelepas, Begadung, Medang dan Hantu yang berada di tengah terlihat sangat jelas. Dua ekor Camar terbang rendah mengitari perahu  dengan sesekali menyambar ke permukaan air. Di kejauhan seekor Elang Laut hinggap mematung di punggur Perpat mengawasi  laju perahu Bak dan dua anaknya itu.

Perahu terus melaju melewati kawasan Tanjung Raya dan  belum ada tanda-tanda Bak akan menghentikan laju perahunya yang membuat Wan penasaran.

“Kita mau kemana, Bak?” tanya Wan.

“Ke Paloh,” jawab Bak singkat.

“Paloh itu apa?” Dan juga ingin tahu.

“Lumpur dalam,”

“Dimana itu, Bak?” kejar Dan.

“Seperempat jam lagi kita sampai. Sekarang posisi kita sudah di Pon Pasir.  Setelah ini Ujung Beting. Habis Ujung Beting itulah Paloh,” Bak menyebut beberapa nama tempat yang sudah dikenal Wan dan Dan.

“Ada apa di Paloh itu, Bak,” tanya Wan lagi.

“Banyak kerang. Dan kita ngelumpor di situ,”

Ngelumpor itu, apa?” Dan ingin tahu.

“Mencari kerang itu,” jelas Bak.

“Caranya?”

“Nanti Bak ajari,,”

Seperempat jam kemudian Bak menghentikan dayungnya dan membiarkan perahu melaju ke pinggir sampai kandas.

“Byurr.” Bak terjun dan melempar sauh penambat perahu. Air sedalam lutut tapi lumpur dibawahnya membuat permukaan air sepinggang.

“Ayo turun!” Bak menyuruh Wan dan Dan mengikutinya sambil menurunkan kotak kayu dan dua palung tadi dan menyerahkan satu-satu kepada Wan dan Dan. “inilah Paloh,” Bak menunjuk hamparan lumpur berwarna biru tua kecoklatan yang ada di depannya. “terasa kan,  kalau lumpurnya lebih dalam dari yang ada di sekitar suwak,” Bak sambil mengangkat kakinya dari dalam lumpur. “kalau kaki sudah terbenam agak dalam pakai palung ini untuk mengangkatnya dengan cara menekan bagian dalamnya sebagai tumpuan.  Palung ini juga tempat untuk menampung kerang.”

Bak berjalan beberapa langkah mencari sesuatu, lalu memanggil Wan dan Dan  mendekat dengan menggunakan isyarat tangannya.

“Lihat lobang kecil dengan genangan air seperti berputar itu,” Bak menunjuk titik air tipis di atas lumpur setelah kedua anaknya berdiri di sampingnya. “itu kerang sedang memancing anak kepiting, udang dan ikan-ikan kecil. Raba dengan dua jari dan ambil kerangnya. Yang di sebelah itu  lobangnya tidak ada airnya tapi itu juga kerang. Gunakan jari untuk memastikan ada tidak kerangnya. Nah, kalau ada anak-anak air seperti itu,” Bak menunjuk ke arah anak air yang tak jauh dari mereka berdiri. “ lihat lobang atau cekungan di pinggir kiri kananya, biasanya itu tempat kerang bersembunyi,” Bak memberi pelajaran singkat kepada dua anaknya. “sekarang kita mulai!”

Wan dengan sigap berjalan mendorong palungnya  mulai mencari kerang. Sementara Dan terseok-seok kepayahan mengangkat kakinya yang terbenam di dalam lumpur. Dia hanya bergerak di sekitar tempat semula dan tidak focus mencari kerang tetapi memikirkan cara  berjalan di atas lumpur agar tidak terbenam semakin dalam. Bergerak dua tiga langkah Dan langsung menggelosor duduk di atas lumpur sambil meraba-raba lubang lumpur  di sekitarnya.

“Saya dapat satu!” Dan berteriak kegirangan sambil menunjukkan kerang yang baru didapatnya kepada Bak dan kakaknya.  “dapat satu lagi…, satu lagi…, ini satu lagi..!”

Dalam waktu tak lama, permukaan lumpur yang tadinya rata  sudah penuh dengan jejak Bak dan kedua anaknya. Jejak itu sekaligus menjadi tanda mana area yang sudah dirambah dan mana yang belum.  Wan yang tadinya terlihat cekatan sekarang mulai bergerak pelan karena palungnya sudah terisi penuh.  Dia berjalan mendekati adiknya yang sedang asyik bermain-main dengan kerang yang didapatnya tadi.

“Dik Dan!” Wan menegur adiknya.   “kamu koq enggak nyari kerang? cuma main-main saja?”

“Sudah, saya sudah dapat banyak. Itu, satu, dua, tiga, lima, sepuluh..empat belas. Ada empat belas,” kata Dan bangga sambil memonyongkan mulutnya ke arah kerang di dalam palungnya. “Akak dapat berapa?”

“Tuh lihat.  Palung saya sudah penuh.” Wan menunjukkan isi palungnya. “kamu sih banyak mainnya,”

“Habis jalannya susah,” Dan beralasan.

“Jalan di lumpur itu jangan berdiri lama-lama, tapi terus bergerak agar kaki tidak terbenam dan menariknya mudah,” Wan mengajari adiknya.

“Tapi kalo jalan terus, capek,”

“Ya capeklah, kalo enggak mau capek di rumah saja tidak usah ikut,” Wan mulai kesal karena adiknya itu terus beralasan.

“Saya memang tidak mau ikut, tapi Bak yang ngajak. Saya maunya di rumah saja menunggu hasilnya dan menjualnya keliling kampung,” Dan terus memainkan kerang ditangannya.

Di kejauhan Bak terlihat bergerak lamban mendorong kotak kayunya yang sudah munjung, mengamati  sekelilingnya mengecek areal lumpur yang belum dilewati.  Area lumpur seluas setengah lapangan bola itu ternyata sudah berjejak semua.  Bak berjalan perlahan menuju kedua anaknya  dan mengajak mereka segera balik ke perahu.

“Kita ke perahu!” ajak Bak sambil terus berjalan.

Dan cepat-cepat mengangkat kakinya berjalan ke arah perahu mendahului Wan yang berjalan pelan mendorong  palungnya.  Dari tadi  Dan sudah membayangkan rantang  tempat nasi dan ikan lempah kuning, sangu mereka yang ada di perahu. Buru-buru dia membersihkan lumpur di celana dan bajunya untuk segera naik ke perahu dan meraih rantang itu.

“Bersihkan  dulu kerangnya!” Bak memperingatkan sebelum Dan  sempat naik.

“Gssrrreekkk, gssrreekk, gssreekk!” Bak membersihkan kerang dengan menggerakkan kotak kayunya di atas permukaan air lalu menuangkannya ke dalam perahu. Kemudian dia meraih palung Wan dan Dan  membersihkan kerang perolehan anak-anaknya itu.

Matahari sudah cukup tinggi dengar sinarnya yang sudah menyengat.  Suara Elang Laut di kejauhan menandai waktu yang sudah mendekat tengah hari.  Wan dan Dan naik ke perahu berebut meraih rantang tempat sangu dan tanpa dikomando mereka sudah menyantap  makan  siangnya dan mengabaikan Bak yang sedang berkemas di buritan.

“Angkat sauhnya!” Bak memberi aba-aba.

Wan menghentikan makannya, dengan cekatan melompat ke haluan menarik tali sauh  dan mengangkatnya ke perahu,  lalu segera berbalik melanjutkan makannya. Sementara Dan terus makan dengan lahap dan tidak memperdulikan Wan yang mengawasinya agar tidak mengambil nasi dan lauk bagiannya.

Bak membiarkan kedua anaknya makan dan seolah tak mendengar perdebatan anaknya soal bagian makanan itu.   Bak  menikmati rokoknya yang diselingi dengan beberapa teguk kopi, berkayuh pelan menjauh dari lokasi itu menuju areal lain di Paloh itu.

“Pasang kajang itu biar tidak kepanasan,”  Bak menyuruh Wan membuka gulungan daun Nipah yang dijahit rotan  yang ada di sisi kanan perahu dan  membentangkannya  di atas dayung sebagai pelindung dari sengatan sinar matahari.

Wan  duduk di bawah kajang sambil melihat sekeliling dengan tetap focus mendengarkan instruksi Bak.  Adiknya Dan sudah terlelap dengan mulut menganga tidur di sampingnya.  Lelah dan perut kenyang serta  buaian lembut angin laut membuat Dak tak bisa menahan kantuknya.

“Kita mau kemana lagi, Bak?” tanya Wan kemudian.

“Ke sebelah situ,” Bak menunjukkan tempat yang dituju dengan isyarat mulutnya. “kita masih bisa turun sekali lagi.”

“Apa di lumpur suwak  tidak ada lagi kerangnya?” Wan ingin tahu.

“Ada, tapi tak sebanyak di sini, karena sudah sering diambil. Orang ngelumpor di suwak bisa jalan kaki,  Di sini orang harus berperahu.”

“Kerang itu ada musimnya?” Wan terus bertanya.

“Sepanjang musim pun kerang tetap ada. Sama seperti kepah, kedimul, kupang, simping, lokan dan teritip yang bisa kita ambil setiap saat.  Asalkan tempat mereka hidup dan berkembang biak seperti lumpur, pasir, bakau, perpat  dan air  tidak rusak.  Syukur laut kita masih terjaga,” Bak terus mendorong perahu dengan menekan pengayuhnya ke pasir di dasar air.

“Laut kampung kita ini ada yang menjaga?” Wan makin ingin tahu karena takut kerang dan kawan-kawanya itu menghilang.

“Ada!”

“Siapa?”

“Sekarang ada Atok Sapah, yang  mewarisi tugas merawat peridup penjaga laut,”

“Atok Sapah yang tinggal di Pon Pasir itu?”

“Iya. Atok Sapah itu mewarisi ilmu atok usangnya yang dulu pernah buat perjanjian dengan penunggu laut kita ini”

“Perjanjian apa? Penunggu itu siapa?” cecar Wan.

“Ceritanya, dulu laut ini dijaga oleh penjaga yang berwujud seekor buaya  besar.  Dia selalu mengusir orang yang datang karena tidak ingin tempat tinggalnya rusak dan anak-anaknya terganggu.  Sampai ada manusia yang mampu mengalahkannya. Akhirnya mereka berdamai dan hidup berdampingan dengan tetap menjaga laut ini bersama-sama hingga ke  anak turunan mereka kemudian hari.  Konon, orang yang mengalahkan penunggu itu adalah leluhur Atok Sapah yang  merawat anak turunan si penunggu itu hingga sekarang,”

“Penunggu itu masih hidup?”

“Masih ada tetapi sudah berwujud Batu Buaya yang ada di Tanjung Raya,” kisah Bak.

“Ooo, batu buaya itu, Bak?”

Bak menghisap rokoknya dan mengangguk pelan merespon ucapan Wan.

Benak Wan langsung melayang ke batu yang menyerupai buaya yang kerap mereka duduki  setiap mereka pelesir atau bermain ke Tanjung Raya.  Batu berwarna merah kehitaman berbentuk buaya besar dengan posisi kepala menghadap ke arah laut yang berada diantara batu-batu besar yang berserakan terhampar di sepanjang kawasan itu. Kisah tentang penunggu laut itu membuatnya ingin tahu lebih  banyak dan mendalam. Selama ini orang-orang di kampung hanya menyebut larangan-larangan yang tidak boleh dikerjakan di laut agar para penjaga laut itu tidak tersinggung.

Bak sengaja berkayuh pelan sambil beristirahat mengulur waktu menunggu matahari mengurangi terik sinarnya. Tudung  anyaman daun Mengkuang  yang dipakai Bak melindunginya  dari sinar matahari siang itu.  Dua ekor Camar terbang rendah mengikuti perahu Bak yang bergerak pelan mendekati lumpur Paloh untuk memburu lagi kerang yang bersembunyi di dalamnya. ()

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top