Saban sore, di musim panas seperti sekarang, sehabis ashar menjelang maghrib ribuan Elang Keluwet terbang berbaris berarakan melintas di langit kampung. Tidak tahu tujuannya kemana, juga tak ada yang tahu dimana pangkal dan ujung rombongan hewan itu. Tetapi besok pagi arak-arakan hewan itu menuju ke arah sebaliknya. Layaknya pekerja malam, hewan ini pergi sore dan pulang pagi. Kehadiran elang keluwet ini menandakan buah-buahan hutan banyak yang mulai matang. Buah Nyatoh salah satunya, adalah makanan favorit kelelawar raksasa itu. Rasa buah yang manis dengan pohonnya yang menjulang dan tumbuh di hutan-hutan lebat yang jarang dijamah manusia memberi ruang untuk elang keluwet leluasa makan buah dan melempar bijinya untuk tumbuh menjadi pohon baru. Hewan itu turun ke perkampungan jika buah-buahan Rambutan atau Duku, sudah mulai matang. Warga kampung mengusir hewan itu dengan menggantung bambu atau kaleng bekas di atas pohon yang ditarik dengan tali untuk membuat suara gaduh.
Saat ini pohon-pohon durian sedang berbunga. Bunga durian yang sedang mekar mengeluarkan cairan manis yang sangat disukai elang keluwet. Mereka akan keluar dari barisannya turun dengan memutar mendekati pohon-pohon durian yang sedang berbunga lebat. Hewan ini seperti memiliki radar yang bisa mendeteksi bunga durian dari ketinggian. Mereka datang menyerbu Kelekak dan kebun durian milki warga kampung. Anak-anak menyambut kedatangan mereka dengan dengan menabuh bambu atau benda lain yang dapat mengeluarkan suara keras. Sebagian lagi mengusirnya dengan menggunakan Petet atau Ketapel. Elang keluwet yang tertangkap terkena batu petet akan diberikan kepada orang Khek yang suka memakan daging hewan itu. Orang Melayu tidak memakannya karena menganggapnya sebagai hewan yang haram dimakan.
Wan dan tiga orang kawannya sedang berada di kelekak durian Atok Usang ketika mendengar kabar poster film “Berkelana 2” sudah terpasang di dinding depan panggong. Berarti seminggu lagi film itu akan diputar. Mereka berdiskusi untuk mengulang cerita suksesnya kembali “Berkelana” setelah main kucing-kucingan dengan Mang Dulamid dan anak buahnya. Namun kisah sukses Wan dan kawan-kawannya ini telah menjadi perbincangan setelah Mang Dulamid mendapatkan dinding papan yang jebol keesokan harinya. Kelompok anak-anak yang ditanya mengaku tidak tahu siapa pelakunya karena mereka sendiri tidak bisa masuk karena ketahuan dan tertangkap anak buah Mang Dulamid saat sedang menggali lobang di bawah dinding panggong. Maka satu-satunya kelompok yang menjadi tersangka penjebol dinding malam itu adalah Wan dan kawan-kawannya. Meskipun tidak ada bukti atau pengakuan yang memastikan mereka sebagai pelakunya. Tapi tak urung, kelompok Wan mendapat perhatian khusus Kepala Keamanan, Mang Dulamid.
“Kita tidak bisa lagi menggunakan cara yang kemarin,” kata Wan setelah ketiga kawannya mendekat.
“Kan masih banyak dinding yang bisa kita jebol,” Didi menyanggah.
“Betul, tetapi tidak semua sudut dinding itu bisa dijadikan pintu masuk, harus tersembunyi dan tak mudah diduga. Lagi pula, setelah lobang tanah dapat diatasi, perhatian Mang Dulamid selanjutnya adalah dinding,” Wan menjelaskan alasannya.
“Benar juga ya,” kata Romli menimpali. “bagaimana kalau kita buat lobang baru lagi?”
“Bisa saja, tapi tetap tidak bisa gegabah. Kita harus lihat dulu ke sana langsung, baru setelah itu kita putuskan apa yang akan kita lakukan,” Wan merespon usul Romli.
“Kalau begitu, kapan kita akan ke sana lagi?” tanya Didi tak sabar.
“Lusa saja kita kesana,” kata Wan yang disetujui oleh ketiga temannya itu, “sekarang kita usir dulu elang keluwet yang makan bunga durian Atok Usang ini.” Wan mengeluarkan batu dari kampil kain yang disandangnya dan mengarahkan petet ke atas membidik kawanan elang keluwet yang bergelantungan berebut bunga durian.
______________
Pulang sekolah jam 12.00, masih dengan seragam merah putihnya, Wan dan ketiga temannya berjalan ke ujung kampung menuju panggong. Sesuai rencana, mereka akan melihat situasi terakhir panggong itu dan mencari cara yang akan diambil untuk bisa nonton gratis malam minggu nanti. Sinar matahari masih menyengat dan posisinya yang baru bergeser sedikit ke arah Barat. Wan, Didi, Tanodi dan Romli melintas jalan di depan panggong menuju ke arah Kampung Kota Kapur. Mereka sengaja berbelok untuk memastikan Mang Dulamid ada di rumah atau tidak. Di hari-hari biasa, panggong itu seperti bangunan tak berpenghuni dengan sampah berserakan dan rumput liar yang tumbuh di sana-sini. Namun di malam pertunjukan apalagi jika film Rhoma Irama, seolah warga kampung pindah ke situ semua, ramai dan berjalanpun harus berdesakan dengan pengunjung dan pedagang.
“Pintunya terbuka dan ada asap di bubung rumahnya,” Didi mengingatkan setelah melewati pertigaan itu. “kita harus bagaimana ini?”
“Terus jalan saja dulu, di depan itu kita belok melewati rumah Pat Chong dan menerobos semak-semak menuju panggong,” Wan tetap berjalan tanpa menoleh.
300 meter dari pertigaan, empat sekawan itu berbelok melewati beberapa rumah orang Khe’. Sampai di depan rumah Pat Chong mereka berbelok ke kanan masuk ke semak-semak hingga tiba di jalan kecil di sisi dinding panggong. Dan benar saja, seperti kabar angin selama ini, lubang bekas galian sudah dipadatkan semua dengan batu yang ditimbun tanah. Lima lembar dinding papan paling bawah sudah dibuat double dengan paku yang lebih besar. Wan dan kawan-kawannya masuk ke dalam panggong memeriksa keadaan.
“Masih ada satu jalan yang bisa kita lewati yang tak diketahui orang,” kata Wan yakin setelah melihat semua lobang dan dinding tak bisa lagi dibuka.
“Apa itu?” tanya Didi tak sabar.
“Itu..!” Wan menunjuk ke arah dinding depan tempat layar putih biasa terpasang.
“Kita jebol dinding itu?” tanya Didi setengah tak percaya.
“Bukan, tapi kita panjat,” Wan menyebut caranya.
“Hah, panjat?” Didi terkaget karena terbayang jika dia harus memanjat dinding setinggi itu. “apa tidak ada jalan lain?”
“Ada.., Itu!” Wan menunjuk ke arah pintu panggong. “tidak perlu memanjat, tapi kamu harus bayar 125 rupiah,”
“Ha ha ha ha,” Romli dan Tanodi tertawa serempak.
“Sssst, jangan keras-keras ketawanya nanti kedengaran Mang Dulamid,” Wan menyilang telunjuk didepan mulutnya yang membuat kedua temannya itu menutup mulutnya.
“Lantas bagaimana ini?” Didi seperti putus asa.
“Kita panjat dari luar saat film ekstra sudah mulai, dan kita turun di belakang layar. Turunnya lebih mudah karena dindingnya susun sirih,” Wan menjelaskan cara melewati dinding itu. “ayo kita coba sekarang,” Wan mengajak teman-temannya ke luar panggong.
Dengan postur kecil tak terlalu sulit bagi Wan, Tanodi dan Romli untuk menaiki dinding dan turun masuk ke dalam bioskop itu karena mereka sudah terbiasa memanjat pohon atau tebing. Tiang kayu penguat dan kayu penyangga di beberapa bagian dinding itu lebih dari cukup sebagai alat bantu untuk memanjat cepat. Tapi bagi Didi yang badannya agak berisi memanjat dinding menjadi masalah tersendiri. Apalagi setelah diatas ketika harus memutar badan untuk turun berpegangan dan berpijak pada susunan pinggir papan.
“Ayo, latihan dulu Di! Tinggal kamu saja ini yang belum bisa. Jangan sampai pada malam minggu nanti kamu tertinggal sendirian,” Wan menyuruh temannya itu untuk mulai memanjat.
Mendengar akan ditinggal sendirian Didi bangkit dan berusaha keras menaiki dinding dengan susah payah. Berkali-kali dia mencoba tapi gagal saat memutar badan untuk turun. Teman-temannya menyemangati agar dia dapat naik dan turun dengan aman. Namun tak urung aksi keras Didi itu mengundang tawa teman-temannya yang tanpa mereka sadari terdengar oleh Mang Dulamid yang sedang menikmati kopi di beranda rumahnya.
Pada percobaan yang keempat Didi sudah berhasil lagi naik dan sudah sampai di atas, tinggal memutar badan turun ke bawah. Namun saat mau turun menginjakkan kakinya ke pinggir papan, tiba-tiba dia terpekik, “Hah!” Didi melihat Mang Dulamid sudah berdiri di bawah yang membuatnya kaget setengah mati.
“Turun!” Mang Dulhamid berucap tegas menyuruh Didi turun.
Dengan ketakutan Didi turun cepat layaknya seorang pemanjat dinding yang mahir. Sementara tiga kawannya yang tadi mentertawakannya berdiri di samping Mang Dulamid diam seribu bahasa seperti pencuri yang tertangkap basah. Mereka berhenti mentertawakan Didi karena lebh dulu melihat Mang Dulamid masuk. Romli sempat mau kabur tapi tidak menemukan jalan keluar karena Mang Dulamid berdiri di tengah pintu. Tanodi pura-pura mau kencing dengan membuka celana menghadap ke dinding . Sementara Wan memilih terima nasib dan siap menghadapi segala kemungkinan dengan bertekad tidak meninggalkan kawan-kawannya.
“Semua ikut saya!” perintah Mang Dulamid.
Wan dan tiga kawannya berjalan beriringan di belakang Mang Dulamid menuju rumah yang juga sebagai pos keamanan panggong. Rumah kayu berdinding papan itu juga menjadi tempat menahan anak-anak yang tertangkap masuk panggong dari lubang tanah atau menjebol dinding. Mereka ditahan sampai film selesai di beranda rumah yang dikelilingi pagar susunan bilah kayu itu. Di beranda itu ada kursi kayu yang juga berfungsi sebagai amben untuk Mang Dulamid beristirahat.
“Duduk!” Mang Dulamid menunjuk ke amben kayu. “sudah makan?” tanyanya sambil mengamati satu-satu wajah anak-anak di depannya itu yang membuat Didi menggiggil ketakutan.
“Belum.” Didi menjawab spontan karena tak bisa menguasai dirinya. Sementara tiga temannya diam dan memandang Didi heran karena berani menjawab jujur pertanyaan Mang Dulamid.
Mang Dulamid masuk ke dalam dan keluar membawa satu panci yang penuh jelaga yang berisi ubi dan kemilik rebus. “makan ini!” katanya sambil meletakkan panci itu diatas meja kayu di sebelah amben.
Melihat sikap ramah laki-laki sangar yang tidak menunjukkan kemarahan membuat keempat anak itu berani meraih ubi dan kemilik rebus dan memakannya dengan lahap. Mang Dulhamid menikmati kopinya duduk menghadap ke jalan raya, sengaja memberi kesempatan anak-anak itu untuk makan dengan leluasa.
“Ehmm!” Mang Dulamid berdehem minta perhatian. “kamu tadi manjat-manjat dinding panggong itu mau apa?” katanya tiba-tiba memandang tajam ke arah Didi.
Didi yang sudah terlanjur nyaman langsung ciut dan gemetar karena tak menyangka akan ditanya.
“Anu, eemm.. anu…, anu… Mang..” Didi gelagapan.
“Anu apa? anu kamu? ngomong yang benar!” Mang Dulamid bicara datar.
“Anu, tadi saya mengejar burung yang hinggap di atas dinding panggong, saya mau menangkapnya,” jawab Didi sekenanya.
“Burung apa?” kejar Mang Dulamid.
“Murai,”
“Murai Batu apa murai bohong?” Mang Dulamid sengaja membuat Didi terdesak.
“Murai bohong,” jawab Didi gemetar.
“Murai Batu apa murai bohong?” Mang Dulamid mengulang pertanyaan yang sama dengan menoleh ke arah Romli.
“Murai Batu, Mang!” Romli tahu tidak ada nama burung Murai Bohong dan dia tidak menjawab tentang jenis burung yang sedang ditanya Mang Dulamid.
Mang Dulamid diam sejenak menatap satu-satu anak-anak di hadapannya. Dia tahu jika anak-anak ini sedang menjajal cara masuk panggong untuk malam minggu nanti. Namun dia tidak langsung menuding tapi mengajak mereka bicara dan menggiring agar mereka terpojok. Dia juga sudah mendengar jika kelompok anak-anak di depannya ini yang menjebol dinding bulan lalu.
“Ini yang benar yang mana? satu bilang Murai Bohong satu lagi bilang Murai Batu. Siapa diantara kalian berempat yang bisa saya ajak bicara?” tanya Mang Dulamid. “kamu?” Mang Dulamid mengarah pandangan ke Tanodi yang dijawab Tanodi dengan gelengan kepala. “yang jadi pemimpinnya siapa?”
Serentak Didi, Tanodi dan Romli menunjuk Wan yang membuat Wan tidak berkutik. Hatinya sedikit ciut meski kelihatan tenang. Wan ciut melihat sorot mata Mang Dulamid dengan bola mata merah seperti biji saga menggetarkan orang yang belum mengenalnya. Namun Wan bisa merasakan orang sangar dengan muka bopeng dan bekas luka di pipi kirinya itu adalah orang baik.
“Kamu ikut saya ke dalam,” Mang Dulamid menggamit pundak Wan mengajaknya bicara empat mata. Mang Dulamid ingin tahu apa yang telah dilakukan Wan dan teman-temannya selama ini yang selalu lolos masuk ke dalam panggong, yang menyebabkan Mang Dulamid ditegur oleh pemilik panggong karena tidak mampu menanggulangi aksi anak-anak ini.
“Mati kita kali ini!” Didi berbisik kepada Romli yang masih mengunyah ubi di mulutnya.
“Ini gara-gara kamu juga, manjat kelamaan,” sahut Romli.
“Kamu juga yang tertawa keras sampai terdengar Mang Dulamid,” Didi tak mau disalahkan.
“Saya tertawa karena kamu manjat seperti siput, bisa naik enggak bisa turun,” balas Romli sengit.
Didi dan Romli bertengkar sampai membuat gaduh di beranda rumah Mang Dulamid itu.
“Sudah, jangan bertengkar,” Tanodi menengahi. “kita tunggu saja dulu,”
Ketiganya hening dengan pikiran masing-masing menebak apa yang akan terjadi setelah Wan diajak Mang Dulamid bicara berdua. Setengah jam berlalu, Wan belum juga keluar. Udara panas siang itu membuat Didi, Tanodi dan Romli semakin gelisah. Namun hembusan angin membuat suasana terasa lebih sejuk. Dan tanpa terasa ubi dan kemilik yang disuguhkan Mang Dulamid tadi sudah tak bersisa.
“Ehm!” Mang Dulhamid keluar diikuti Wan yang berjalan di belakangnya. “ya sudah gitu aja!,” katanya kemudian setelah Wan duduk di tempatnya semula.
“Ya Mang, terima kasih. Kalau begitu kami pamit,” Wan menyalami dan mencium tangan laki-laki sangar itu.
Didi, Tanodi dan Romli bingung melihat sikap Wan yang tidak menunjukkan jika dia habis dimarahi. Bahkan Wan dengan sopan menyalami dan mencium tangan Mang Dulamid. Namun tak urung mereka juga ikut menyalami dan mencium tangan Kepala Keamanan panggong itu.
Di tengah perjalanan pulang Wan masih diam belum menceritakan apa yang terjadi di dalam rumah Mang Dulamid tadi yang membuat teman-temannya penasaran.
“Kamu tadi dimarahi? Apa saja yang ditanyakan?” cecar Didi yang tak bisa menahan rasa ingin tahunya dengan terus berjalan di sebelah Wan.
“Mang Dulamid bertanya siapa yang menjebol dinding bulan lalu? Dia juga tanya tentang tujuan memanjat dinding tadi?” jawab Wan yang membuat temannya menunggu kalimat berikutnya.
“Terus jawabmu bagaimana?” Didi mencecar.
“Saya jawab jujur saja.”
“Waduh! Selesai sudah. Kita tidak punya kesempatan lagi untuk nonton. Padahal minggu ini filmnya yang kita tunggu.” Didi menepok jidatnya putus asa.
“Selanjutnya bagaimana?” Romli mendekati Wan.
“Sekarang kita pulang dulu. Sabtu sore habis Ashar kita ngumpul di kelekak durian Atok Usang,” Wan membuat temannya makin penasaran. Namun mereka tidak sempat lagi bertanya karena Wan sudah ngacir berlari pulang menuju rumahnya.
_____________
Sabtu sore, sehabis Ashar suasanan di Kelekak durian Atok Usang sudah ramai dengan anak-anak yang berkumpul memukul bambu dan kaleng bekas mengusir elang keluwet. Sementara di atas pohon durian tak kalah ramai dengan suara ratusan elang keluwet yang berebut tempat untuk mendapatkan cairan manis dari bunga durian yang sedang mekar. Suara kelepak sayap hewan itu terdengar jelas terbang mengelilingi pohon-pohon durian mencari dahan yang tepat untuk mendarat, lalu bergelantungan di dahan yang banyak bunga mekarnya. Teriakan nyaring kelelawar raksasa itu terdengar ketika mereka berebut atau bertemu dalam satu dahan.
Wan dan ketiga temannya datang ke Kelekak itu dengan petet di tangan dan kampil batu di sandang menyilang di bahu masing-masing. Mereka mengusir elang keluwet tidak dengan memukul bambu atau kaleng tetapi dengan melontarkan batu menggunakan petet.
“Kita ke sini bukan hanya mengusir tetapi targetnya mendapatkan dua ekor,” Wan mengingatkan kawan-kawannya.
Mereka sengaja memisahkan diri dengan anak-anak lain memilih pohon-pohon durian yang rendah dan berbunga lebat. Elang keluwet yang datang dan pergi seperti pesawat tempur melakukan serangan udara, membuat Wan dan kawan-kawannya bingung menentukan sasaran.
“Susah juga ya membidiknya kalau dia sudah bergelantungan karena badannya seperti menciut,” Didi merogoh kampilnya mengambil batu setelah lontarannya tadi meleset.
Namun teman-temannya seolah tak mendengar dan terus menghujani batu ke arah dahan tempat hewan itu berkumpul. Romli yang paling mahir menggunakan petet tidak menyasar elang keluwet yang sudah mendarat tetapi membidik yang akan hinggap dengan sayap yang masih terentang.
“Kuikk, kuikk, kuikk…..!” seekor elang keluwet menukik ke semak-semak jatuh terkena batu petet Romli.
“Kena, kena!” Romli berteriak berlari ke arah jatuhnya hewan itu.
Ketiga temannya mengejar di belakangnya. Elang keluwer itu bergerak liar dan mencengkram kukunya di semak-semak.
“Pegang ujung sayapnya, hati-hati jangan sampai kena giginya,” Wan mengingatkan Romli yang akan menangkap hewan itu.
Romli dan Tanodi mengangkat hewan itu dari semak-semak dengan masing-masing memegang ujung sayapnya. Romli mengikat sayapnya dan membiarkan hewan itu tergeletak di tanah.
“Ayo kita cari satu lagi!” Wan menyemangati kawan-kawannya.
Didi yang paling bersemangat untuk mendapat satu ekor lagi mengarahkan petetnya ke dahan terendah membidik elang keluwet di dahan itu. Namun tak satupun yang kena. Tapi tiba-tiba ada seekor elang keluwet yang akan hinggap secara tak sengaja terkena batu petet Didi, “Blek!” batu itu mengenai pangkal sayap kanan hewan itu.
“Kuikk, kuikk, kuikk…!” hewan itu terbang limbung dan jatuh tak jauh dari posisi Didi berdiri.
“Kena! Kena!, aku dapat satu,” Didi berteriak girang menunjuk ke arah Elang Keluwet itu jatuh.
“Ikat sayapnya biar tidak kabur,” Wan menyerahkan tali plastic kepada Didi untuk mengikat sayap hewan itu.
Didi mengikat dengan semangat dan merasa menjadi pahlawan karena telah berhasil menangkap elang keluwet sesuai target.
“Bagaimana? Apa perlu kita tambah satu ekor lagi,” katanya bangga dengan mengedar pandangan ke teman-temannya bergantian. Namun teman-temannya tidak menanggapi dan membiarkan Didi dengan rasa bangganya sendiri.
“Cukup. Kita hanya butuh dua saja,” jawab Wan meredam tantangan Didi. “sekarang sudah mau Maghrib, kita pulang dulu. Habis Maghrib kita kumpul di tempat biasa,”
“Elang keluwet ini mau ditarok dimana?” tanya Didi.
“Tarok saja di atas pohon jambu di pinggir lapangan, Nanti kita bawa ke rumah Mang Dulamid,” Wan memberi arahan dan menyebut rencana selanjutnya.
“Ini akan diberikan ke Mang Dulamid? Untuk apa?” tanya Didi heran.
“Ya, untuk membayar denda kesalahan kita yang telah membuat lobang, menjebol dan manjat dinding panggong,” jawab Wan cepat agar temannya itu tak banyak bertanya.
“Apa Mang Dulamid mengidap bengek?” Didi coba menebak tujuan Mang Dulamid minta elang keluwet itu. Karena hewan itu hanya ditangkap untuk dijadikan obat. Warga kampung masih percaya hati elang keluwet dapat menyembuhkan penyakit astma.
“Saya tidak tahu, tapi ini syarat agar kita tidak dihukum,” jelas Wan. “sekarang kita pulang, Maghrib kita harus di rumah.”
_____________
Suasana di sekitar panggong sudah sangat ramai. Pedagang roti, pedagang es bonbon, pedagang kacang rebus dan penjual peralatan dapur menggelar dagangannya di beberapa lokasi di sekitar jalan masuk, berbagi tempat dengan pengunjung yang berjalan berdesakan. Poster film “Berkelana 2” dengan gambar para bintangnya di atas dinding depan terlihat jelas dengan siraman cahaya lampu neon di atas pintu masuk. Suara mesin diesel yang terletak di sebelah rumah Mang Dulamid terdengar jelas di sekitar panggong, dan tak mengganggu suasana karena para pengunjung tidak fokus ke suara itu. Mereka juga tahu jika mesin diesel itu mati maka suasana akan gelap gulita dan film akan batal diputar.
Wan dan teman-temannya datang dengan membawa karung bekas pupuk urea yang berisi dua ekor elang keluwet yang dipikul Didi dan Tanodi. Berjalan melewati keramaian di jalan menuju panggong membuat Wan teman-temannya menjadi pusat perhatian anak-anak yang selama ini menjadi pesaing mereka untuk menonton gratis. Kelompok Wan dikenal licin dan selalu lolos, termasuk yang terakhir pada bulan lalu di film “Berkelana 1” ketika kelompok lain tidak ada yang berhasil masuk dan sebagian tertangkap petugas keamanan.
“Ini nih, kelompok yang selalu lolos dan berhasil masuk itu,” kata seorang anak berkata kepada kawan di sebelahnya ketika rombongan Wan lewat.
“Kita lihat saja, apa malam ini mereka akan berhasil lagi,” timpal kawan di sebelahnya. “mereka bawa karung, untuk apa ya?”
“Iya, tapi lihat! mereka membawa karung itu ke rumah Mang Dulamid.” kata anak pertama tadi menunjuk ke arah Wan dan kawan-kawannya menuju rumah Mang Dulamid.
Wan dan kawan-kawannya masuk ke beranda rumah Mang Dulamid dan duduk di berjejer di atas amben, menunggu Mang Dulamid yang masih berkeliling memantau situasi. Pengunjung yang tadi ramai lalu-lalang di depan panggong mulai berkurang karena sebagian sudah masuk mencari tempat duduk. Wan duduk tenang sementara tiga kawannya, Didi, Tanodi dan Romli mulai gelisah, celingukan melihat ke sekeliling sejauh jangkauan cahaya neon panggong dan neon kecil di beranda rumah itu.
Anak-anak yang tadi melihat rombongan Wan melintas masih bergerombol di jalan masuk menunggu apa yang akan terjadi.
“Sepertinya mereka ini dihukum oleh Mang Dulamid karena sudah ketahuan,” kata anak yang pertama tadi. “seperti kita bulan lalu ditahan di beranda itu,”
“Akhirnya malam ini mereka merasakan juga apa yang kita alami di bulan lalu. Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya tertangkap juga, he he he,” timpal kawannya yang berdiri di sebelahnya.
Anak-anak itu merasa senang dengan nasib Wan dan kawan-kawannya karena selama ini mereka selalu merasa dipecundang. Terutama bulan lalu ketika semua anak-anak ditahan kecuali kelompok Wan yang lolos dan berhasil masuk.
“Lihat! Itu Mang Dulamid sudah balik ke rumahnya,” kata anak pertama tadi memberitahu teman-temannya menunjuk Mang Dulamid yang sedang berjalan menuju rumahnya.
Wan bangkit dan menyalami Mang Dulamid begitu melihat Kepala Keamanan itu masuk ke beranda rumahnya. Ketiga temannya juga ikut menyalami lelaki sangar berambut sebahu itu.
“Bagaimana? Dapat?” Mang Dulamid langsung bertanya begitu duduk di kursi.
“Dapat Mang, ada dua ekor itu,” Wan menunjuk ke karung bekas pupuk di sebelah pintu.
“Kapan dapatnya?” tanya Mang Dulamid lagi
“Tadi. Sebelum Maghrib di kelekak durian, Atok Usang.” Ujar Wan.
Mang Dulamid mengangguk pelan dan bangkit masuk ke dalam rumahnya membawa karung elang keluwet itu. Suasana di depan pintu panggong sudah makin lengang, hanya tinggal para pedagang dan kelompok anak-anak yang ingin melihat Wan mendapat hukuman dari Kepala Keamanan itu. Musik dan lagu masih terdengar dari pengeras suara di dalam panggong menandakan jika pemutara film belum dimulai.
“Ehmm!” Mang Dulamid keluar dan berdiri di depan Wan dan kawan-kawannya. “ayo ikut!” katanya kemudian.
Wan berjalan di belakang Mang Dulamid diikuti ketiga temannya. Mereka melewati kumpulan anak-anak yang bergerombol yang ingin melihat Wan dan kawan-kawannya mendapat hukuman.
Wan melirik ke anak-anak itu dengan menggerakkan alisnya naik turun. Gerak alis yang seolah mengatakan, “permisi numpang lewat, kami duluan, ya!”. Gerak alis yang membuyar dugaan mereka karena ternyata Wan dan kawan-kawannya berjalan mengikuti Mang Dulamid menuju pintu masuk panggong.
Menjelang masuk, Wan sengaja mengambil posisi paling belakang karena ingin melambaikan tangannya kepada anak-anak yang masih melongo melihat dia dan kawan-kawannya nonton gratis lagi. Bedanya kali ini mereka masuk lewat pintu beneren bukan pintu darurat.
Tak lama berselang, lampu panggong pun dipadamkan karena film sudah mulai diputar. Diputar untuk membawa Wan dan ketiga temannya, Didi, Tanodi dan Romli untuk kembali “Berkelana” malam ini.
_____________
Wan masuk ke rumah dengan berjinjit agar tak menimbulkan suara. Namun engsel pintu itu menimbulkan suara cukup jelas di keheningan malam yang sudah lewat tengah malam.
“Iiiiiiieeeeeekkkt,” Wan menutup pintu dengan hati-hati.
“Ehmm,” tiba-tiba suara dehem yang membuat Wan terhenti.
Bak yang duduk di kursi di keremangan cahaya lampu minyak yang terletak di tengah rumah. “Malam ini nonton lagi?”.
“Iya,” jawab Wan dari tempatnya berdiri.
“Bayar karcis pakai apa,” Bak menyelidik..
“Pakai elang keluwet,” jawab Wan.
“Bagaimana bisa?” Bak tak percaya dengan jawaban anaknya itu..
“Kita tangkap 2 ekor di kelekak Atok Usang, kita berikan ke Mang Dulamid dan kita diajak masuk gratis,”
“Yang nyuruh menangkap, Mang Dulamid?” Bak ingin memastikan.
“Iya, katanya untuk diberikan ke kru film, imbalannya kami akan nonton film gratis.”
Bak diam, mencoba menebak jalan cerita anaknya itu bisa sampai pada permintaan Mang Dulamid untuk dicarikan elang keluwet. Karena Mang Dulamid adalah sosok yang paling dihindari anak-anak karena tampilan sangarnya dan posisinya sebagai Kepala Keamanan.
“Bagaimana ceritanya sampai bertemu dengan Mang Dulhamid, dan dia minta untuk dicarikan elang keluwet itu?” Bak bertanya setelah tidak bisa menebak pertemuan Wan dengan Mang Dulamid, dan dia yakin kali ini anaknya itu bicara jujur karena jawabannya tegas dan tidak ragu.
Wan kemudian menceritakan pertemuannya dengan Mang Dulamid di dinding depan panggong saat menunggu Didi berlatih memanjat. Juga isi pembicaraan empat mata antara dia dan Mang Dulamid yang meminta agar dia menceritakan kelompoknya yang selalu lolos dari penjaga masuk bioskop selama ini. Hingga pada akhirnya Mang Dulamid menawarkan untuk mencari Elang Keluwet sebagai karcis masuk gratis untuk nonton “Berkelana 2”. Elang keluwet itu akan dijadikan bingkisan untuk kru film yang semuanya orang Khe’ yang datang dari Pangkalpinang.
“Mang Dulamid juga menawarkan untuk menonton gratis selama dia menjadi keamanan di situ, sebagai imbalan dari kejujuran saya katanya. Dia juga bilang melihat kami dia teringat dengan anaknya yang meninggal di kampung asalnya beberapa tahun lalu.” Wan mengakhiri kisahnya.
Bak tahu banyak tentang Mang Dulamid, yang sempat depresi karena anaknya meninggal beberapa tahun lalu. Kemudian pergi dari kampungnya dengan berperahu sampai terdampar di kampung itu. Melampiaskan depresi dengan minuman keras yang membuat matanya selalu merah seperti orang mabuk. Dan sejak panggong itu berdiri Mang Dulamid dijadikan sebagai kepala keamanan yang tinggal di pos yang menjadi tempat tinggalnya di sisi jalan masuk panggong itu.
“Ya, sudah. Tidur sana!” Bak menyuruh Wan segera tidur. Kokok ayam jantan yang bersahutan selama beberapa menit menandakan jika waktu malam sudah bergeser menuju dinihari. ()
