Dulunya, sebelum bangunan itu berdiri tempat itu adalah Kebun Karet. Letaknya tepat di pojokan sebelah timur pertigaan arah ke Kampung Kota Kapur. Oleh pemiliknya, kebun karet itu ditebang diganti dengan bangunan papan tanpa atap berbentuk persegi empat ukuran 20 x 15 meter. Di dalamnya ada deretan bangku kayu panjang sebanyak 20 baris. Di belakang deretan bangku itu ada meja tinggi yang diberi atap di atasnya. Di bagian depannya ada dua tiang terpasang di masing-masing sudut. Warga kampung menyebut bangunan itu dengan Panggong karena identik dengan tempat pertunjukan. Sejarahnya dulu, ketika di awal-awal pemutaran film masuk ke kampung itu, warga menyebutnya sebagai pertunjukan sehingga spontan warga kampung menyebut tempat pertunjukan itu dengan panggong.
Panggong itu kini dikelilingi oleh ilalang dan belukar. Hanya di depan pintu masuknya saja yang agak bersih karena sering dilewati dan disiangi jika akan ada pemutaran film. Waktu pemutaran film tidak menentu, kadang seminggu, kadang dua minggu, bahkan sebulan sekali belum tentu ada. Kalau ada film yang akan main, seminggu sebelumnya poster kain dengan lukisan cat minyak selebar 3 x 5 m sudah terpasang di dinding depan panggong itu. Penontonnya tidak hanya warga kampung tetapi juga datang dari kampung tetangga. Sekali masuk harga tiketnya Rp. 125. Harga yang cukup mahal untuk anak-anak apalagi yang tak pernah dapat uang jajan dari orang tuanya. Namun hampir separo penontonnya adalah anak-anak. Dan lebih dari separo anak-anak itu nonton gratis. Mereka membuat “pintu” masuk sendiri dengan menjebol dinding papan atau membuat lobang dengan menggali tanah di bawah dinding.
Dua hari lalu poster “Rhoma Irama Berkelana” dengan gambar Rhoma Irama dan Yati Octavia telah terpasang di depan panggong. Berarti lima hari lagi filmnya akan segera main. Film Rhoma Irama adalah film yang paling digemari dan sudah ditunggu oleh warga. Film-film Rhoma sebelumnya, semisal “Penasaran”, “Darah Muda”, dan “Gitar Tua” banyak mendatangkan penonton dari luar kampung yang membuat suasana di dalam panggong penuh sesak. Anak-anak yang biasa nonton gratis pun sudah siap-siap menyiapkan “pintu” masuk. Masing-masing kelompok punya pintu sendiri. Sehingga lobang-lobang galian di bawah dinding panggong itu mirip lobang Trenggiling di dinding bukit mencari semut.
“Jangan sekarang menggalinya, nanti saja sehari sebelum pertunjukan,” Wan mengusulkan pada ketiga temannya yang mau segera membuat lobang masuk.
“Kenapa tidak sekarang? Nanti kita tidak kebagian tempat,” Didi merasa khawatir.
“Kalau dibuat sekarang percuma, ketahuan akan ditimbun lagi oleh Mang Dulamid,” Wan beralasan.
“Iya juga, ya,” Tanodi membenarkan.
“Terus bagaimana? Kapan menggalinya,” Romli minta kepastian.
“Filmnya malam minggu. Jum’at sore kita ke sana melihat keadaan.” Wan memberi kepastian yang disetujui teman-temannya.
Kabar tentang “Rhoma Irama Berkelana” di kampung itu sudah tersiar luas. Hampir setiap hari warga membicarakannya. Bukan hanya karena film-film Rhoma Irama sebelumnya, tetapi lagu-lagu yang menjadi soundtrack film itu sudah duluan sampai ke kampung itu melalui kaset yang diputar hampir setiap hari di rumah yang punya tape recorder. Maka begitu tersiar kabar filmnya akan diputar warga sudah membuat persiapan untuk bisa menontonnya. Tak terkecuali anak-anak kampung yang mulai main kucing-kucingan dengan Mang Dulamid, penjaga keamanan panggong itu.
Anak-anak yang sering tertangkap adalah anak-anak yang sudah besar menjelang remaja karena mereka perlu lubang yang lebih besar untuk bisa masuk. Kalau tertangkap mereka akan dikurung sampai film selesai di pos penjaga yang juga sekaligus tempat tinggal Mang Dulamid. Sedangkan anak-anak yang berbadan kecil lebih mudah menyelinap dan masuk melalui lobang sempit. Wan dan “genk” nya memiliki badan yang kecil yang membuat aksi mereka nonton gratis selalu berhasil.
Jum’at sore masuk waktu Ashar, Wan dan tiga temannya, Didi, Tanodi dan Romli berjalan beriringan melintas di pertigaan ujung kampung, melewati rumah Mang Dulamid yang berada di sisi jalan masuk menuju panggong. Mereka sengaja berjalan di depan rumah Mang Dulamid untuk memastikan apakah Kepala Kemananan Panggong itu ada di rumah atau tidak. Jika pintu rumahnya terbuka berarti Mang Dulamid tidak kemana-mana, dan bila tertutup artinya dia sedang pergi.
Mang Dulamid tinggal sendirian di rumah itu dan tak banyak yang tahu tentang asal asulnya. Wajahnya yang bopeng dengan bekas luka di pipi kiri membuat penampilannya kelihatan sangar. Rambut sebahu dengan jenggot dan kumis dibiarkan tumbuh semaunya, menambah kesan tak ramah laki-laki separoh baya itu.
“Lewat sini saja!.” Wan mengajak teman-temannya untuk menerobos semak-semak di belakang rumah Mang Dulamid menuju ke panggong. “pintu rumahnya tutup.”
Wan diikuti ketiga temannya melompati parit kecil di pinggir jalan raya, masuk ke dalam semak-semak di sebelah rumah Mang Dulamid. Tiba di jalan kecil antara semak-semak dan dinding panggong itu mereka langsung berkeliling memeriksa setiap sudut mencari celah untuk membuat lobang masuk besok malam.
“Tuh, lihat! kemarin di sini ada beberapa lobang, sekarang sudah enggak ada semua,” Wan menunjuk bekas lobang yang sudah ditutup. “makanya percuma kalau gali jauh-jauh hari.”
“Sekarang kita mau apa? buat lubang baru?” Didi bertanya dengan memandang satu-satu wajah temannya.
“Kita ke sini kan memang mau buat lobang,” timpal Romli.
“Ya, maksudnya lobang yang bagaimana. Kita gali sekarang besok sudah ditutup, kan percuma.” Didi menegaskan maksudnya.
Suasana hening sejenak. Pikiran empat sekawan itu berkelana masing-masing mencari ide agar mereka bisa lolos dan masuk seperti pada film-film sebelumnya.
“Begini,” Wan mengajukan usulan,”kita buat dua jalan masuk, satu lobang di tanah dan satu lagi kita jebol satu lembar papan di tempat yang tersembunyi yang tidak mudah dilihat orang,”
“Ya percuma juga, besok pagi udah ditutup lagi, papan jebol sudah dipaku lagi,” Didi menyanggah usulan Wan.
“Makanya, setelah kita gali kita timbun dengan pasir atau tanah yang lembut dan tutup dengan daun kering atau rumput. Besok waktu mau masuk kita bisa gali dengan tangan kosong. Kalau papan, setelah kita jebol kita pasang lagi dengan menempel sekedarnya, cukup dorong sedikit papannya copot,” Wan memaparkan gagasannya.
“Kenapa harus dua pintu?” Tanodi bertanya.
“Ini film bagus dan penonton akan membludak. Penjagaan pasti ketat dan yang mau masuk seperti kita juga banyak.” Wan memahamkan teman-temannya.
Setelah sepakat menentukan titik lobang dan dinding papan yang akan dijebol mereka berbagi tugas. Wan dan Romli menjebol dinding, Didi dan Tanodi menggali lobang.
“Lakukan dengan hati-hati jangan sampai ada orang curiga. Kalau ada orang lewat, berhenti. Setelah digali lobangnya dicoba dengan Didi. Kalau Didi sudah muat sudah cukup.” Wan mengingatkan sambil melirik Didi yang badannya sedikit berisi dari yang lain.
Tak perlu waktu lama bagi Wan dan kawan-kawannya mengerjakan tugasnya masing-masing. Apalagi Didi yang sudah menyiapkan Kedik, alat yang biasa digunakan untuk membersihkan rumput, untuk membuat lubang seukuran dirinya. Setelah mencobanya dengan memasukkan dirinya, Didi dan adiknya Tanodi menutup lobang itu dengan pasir dan menyamarkannya dengan meletakkan rumput dan ranting-ranting di atasnya. Demikian juga Wan dan Romli, cukup dengan parang kecil yang biasa mereka bawa, mencopot paku di dinding papan itu. Sekilas tidak ada yang aneh dengan dinding papan di sudut dekat pohon Mengkirai itu. Apalagi jika malam hari, suasananya sangat gelap karena belukar di sebelahnya cukup lebat. Tapi ada satu lembar papan yang hanya dipaku sekedarnya, yang hanya diketahui Wan dan teman-temannya.
__________-
Sabtu sore, lepas waktu Ashar menjelang Maghrib mesin diesel telah dihidupkan untuk menyalakan lampu neon dan proyektor panggong.. Lampu neon hanya ada dua, di atas pintu masuk dan satu lagi di dalam panggong yang digantung di dinding belakang. Neon yang di dalam akan menyala jika pertunjukan belum dimulai atau jeda ketika petugas menggantikan roll film di proyektor. Loket yang ada di sebelah pintu masuk juga sudah siap untuk melayani penonton yang akan membeli karcis.
Sehabis Maghrib, Wan bersama tiga temannya Didi, Tanodi dan Romli sudah berkumpul di tanah kosong di depan rumah Didi. Seperti biasa jika keluar malam hari mereka selalu membawa kain sarung yang digantung di leher dan menyilangkanya di badan. Kain sarung itu multifungsi, untuk ngaji dan juga dipakai sebagai selimut, bisa juga digunakan sebagai “karcis” masuk ke dalam mesjid untuk ikut makan kue “nganggong” setelah para orang tua selesai baca Berzanji dan Tahlil di malam Jum’at.
“Kita jangan buru-buru mendekat, amati suasana dari sini,” Wan mengingatkan teman-temannya ketika mereka tiba di jalan raya depan panggong itu.
Di bawah siraman cahaya neon di atas pintu masuk, suasana di depan panggong sudah sangat ramai dengan orang lalu lalang dan penonton yang ngantri di depan loket. Namun Wan dan teman-temannya tidak fokus dengan keramaian itu, mereka mengamati gerak gerik Mang Dulamid dengan anak buahnya, Pandir dan Bago. Mereka juga memantau kelompok anak-anak lain yang sama seperti mereka mencari celah untuk bisa ikut “Berkelana” malam ini.
“Lihat dua orang anak buah Mang Dulamid itu,” Wan menujuk ke arah dua orang yang berdiri di sebelah pintu masuk. “Kita jangan terlalu mencolok di depan dua orang itu.”
“Terus kita masuk lewat mana ini?” Didi sudah tidak sabar.
“Sepertinya lewat dinding papan itu lebih aman,” usul Romli setelah melihat situasi.
“Ya, karena lobang kita tidak jauh di belakang dua orang itu,” sahut Tanodi.
“Sabar dulu,” Wan menenangkan teman-temannya. “sekarang bukan waktu yang tepat untuk masuk karena semua penjaga dalam waspada tinggi.”
Mereka asyik berbicara sampai tak sadar jika dua penjaga tadi sudah menghilang dari tempat mereka berdiri..
“Lihat!, Penjaga tadi sudah tidak ada, kemana ya?” Romli yang pertama menyadarinya.
“Ayo kita segera ke belakang mendekat ke pintu kita,” Didi sudah tak sabar.
“Tahan dulu! Kita belum tahu apa yang terjadi, mengapa penjaga itu tiba-tiba menghilang,” Wan mencegah teman-temannya, “lihat anak-anak tadi yang berkumpul di depan pintu masuk juga sudah tidak ada,”
Ketika mereka menebak-nebak apa yang terjadi, tiba-tiba terdengar teriakan dan derap langkah orang berlari dari samping dan belakang panggong.
”Lariiiiiii……., lariiii….!” anak-anak berlari berhamburan ke segala arah. Ada yang berlari ke jalan raya, ada juga yang masuk ke semak-semak menghilang di kegelapan. Di belakang anak-anak yang berlarian tadi muncul Pandir dan Bago dengan lampu senter di tangan masing-masing. Kegaduhan ini menjadi perhatian orang-orang yang ada di depan panggong dan melihat ke arah anak-anak yang berlari dan dua orang penjaga di belakang mereka.
“Sekarang ikut saya!” Wan membuyar perhatian teman-temannya yang masih terarah pada kelompok anak-anak yang berlarian tadi.
“Kemana? Bahaya ini, nanti kita tertangkap,” kata Didi cemas.
“Mau ikut, ayo! kalau tidak mau, di sini atau pulang saja,” Wan menguatkan temannya itu yang membuat Didi tidak punya pilihan. Sementara Tanodi dan Romli diam dan siap mengikuti Wan dari belakang.
Wan berlari ke arah belakang sebelah timur panggong menerobos kegelapan melewati jalan sempit di semak-semak, memutar menuju lobang yang mereka gali kemarin. Di titik lobang itu cukup gelap hanya sedikit cahaya dari neon di depan panggong yang menerobos sela-sela ilalang dan pohon-pohon Mengkirai. Suara langkah dan aksi mereka mencari lobang itu tertutupi oleh suara diesel dan juga speaker dari dalam panggong.
“Gali lobangnya sekarang!” Wan menyuruh Didi dan Tanodi yang tahu posisi lobang itu dengan meraba tanah yang mereka gali kemarin.
“Lobang sudah tidak ada,” Didi berkata setengah berbisik.
“Kamu yakin titiknya di situ?” Wan bertanya memastikan.
“Yakin. Ini garis yang saya buat sebagai penanda,” Didi menunjuk garis yang dia buat dengan Kedik di dinding papan. “tanahnya sudah dipadatkan pakai batu dan ditambah dengan satu lembar papan lagi di dinding di atasnya,”
Wan merapat ke tanda yang ditunjuk Didi dan meraba tanah yang ada di bawahnya. Ternyata tanah dibawahnya sudah dipadatkan pakai batu yang tak mungkin dapat digali cepat dengan tangan kosong. Apalagi dinding papan di atasnya sudah dirapatkan ke tanah dengan papan tambahan. Tiba-tiba sekelebat cahaya lampu senter melintas mengenai dinding .
“Ssst, masuk ke semak-semak sekarang! Ada yang menuju kemari,” Wan menyuruh teman-temannya sembunyi setelah melihat cahaya lampu senter seseorang yang berjalan ke arah mereka.
Didi, Tanodi dan Romli berlompatan masuk ke semak-semak di belakangnya. Sementara Wan mundur 2 langkah lalu menutup dirinya dengan ilalang..
“Srrk, srrk, srrk, srrk,!” suara langkah sepatu orang itu. Wan melihat dengan jelas sepatu hansip yang dipakai orang itu di bawah cahaya lampu senter yang dibawanya. Wan diam tak bergerak menunggu orang itu menjauh. Dia baru berdiri setelah orang itu benar-benar tidak kelihatan.
“Didi..! Tanodi! Romli..!” Wan memanggil ketiga temannya yang sembunyi di belakangnya.
Satu persatu ketiga temannya itu keluar dari persembunyiannya dan mendekat
“Siapa itu?,” Didi bertanya dengan dadanya berdegup kencang.
“Mang Dulamid.” Jawab Wan yakin. “sepertinya dia memastikan situasi sudah aman dan tidak ada lagi anak-anak yang menonton masuk lewat lobang atau dinding yang jebol.”
“Terus kita bagaimana selanjutnya?” Romli bertanya tak sabar.
“Kita masuk lewat dinding. Tapi tunggu film ekstra main agar lampu neon di dalam padam,” jawab Wan.
“Yakin ini sudah aman?” Didi bertanya dengan nada bergetar.
“Sudah. Ayo kita ke sana,” Wan berjalan diikuti ketiga temannya menyusuri jalan kecil di sekeliling panggong ke arah dinding yang menjadi pintu rahasia mereka.
Sampai di depan pintu rahasia itu, Empat Sekawan itu sembunyi di semak-semak di bawah pohon Mengkirai yang berjarak dua meter dari dinding itu.
“Tunggu film ekstranya main. Masuk satu-satu, yang lain menunggu dulu di sini. Romli yang pertama, setelah itu Tanodi, Didi dan saya terakhir,” Wan mengatur urutan masuk teman-temannya.
Suasana benar-benar gelap karena tidak ada cahaya dan rimbunnya pepohonan di belakang semak-semak tempat Wan dan ketiga temannya bersembunyi. Lagu dari speaker itu menandakan film belum main. Kalau film sudah diputar lagu itu berhenti sendiri diganti dengan suara yang ada di dalam film.
“Itu lampunya sudah mati, film ekstranya sudah main. Romli! Kamu yang pertama sekaligus bertugas mendorong dinding papannya,” Wan menyuruh Romli masuk.
“Oke! Siap bos.” Romli berjalan menuju dinding yang terdengar dari langkahnya menginjak semak-semak.
Romli berhasil masuk setelah membuka dinding yang mereka jebol kemarin. Dia pun berlari ke tengah berbaur dengan para penonton. Disusul Tanodi yang dengan mudah masuk karena badannya juga sama dengan Romli.
“Ayo, sekarang giliranmu!” Wan mendorong Didi menyusul kedua temannya.
“Lihat, lihat ya! Kasih tahu kalau ada yang datang,” Didi melangkah sedikit ragu. Dia pun menyusul dua temannya yang sudah di dalam.
Wan menunggu waktu memperkirakan Didi sudah berhasil masuk. Wan beranjak dari persembunyiannya menuju lubang dinding rahasia itu. Tapi betapa terkejutnya dia, mendapatkan Didi dengan separo badannya masih di luar dengan kaki mendorong-dorong masuk. Tiba-tiba dia berteriak.
“Ampun Mang!, ampun Mang! ampun Mang Dul!”
Wan memukul kaki Didi sambil membentaknya,”Kamu kenapa, Di?”
“Saya tertangkap Mang Dulamid. Ampun Mang!” Didi menjawab panik.
“Diam! Kamu bukan tertangkap, tapi sarungmu tersangkut di ujung papan,” Wan mendorong temannya itu ke dalam yang membuat Didi terguling.
Wan kemudian masuk dengan terburu-buru lalu menyeret Didi menyelinap di keremangan masuk ke kerumunan penonton yang duduk di rumput.
“Romli dan Tanodi dimana ya?” Didi berbisik kepada Wan setelah mereka duduk.
“Yang penting semua sudah aman. Orang begini banyaknya susah juga mencarinya,” Wan menenangkan Didi. “nanti pulangnya saja kita cari. Sekarang kita lihat dulu aksi Bang Rhoma yang jadi sinyu di film ini.”
Satu jam setengah waktu berlalu tidak terasa. Kharisma Rhoma Irama sebagai penyanyi dangdut yang telah dikenal luas benar-benar telah membius warga kampung yang menyaksikannya malam itu. Tidak sedikit yang ikut bernyanyi ketika adegan Rhoma Irama menyanyikan lagunya dalam film itu. Wan yang sudah sering mendengar lagu lewat kaset, tidak hanya hafal lagunya tetapi juga jalan cerita film itu yang dibacanya dari cover kaset milik Ngah Bujang, tetangganya yang hampir setiap hari memutar kaset itu.
__________
Dalam perjalanan pulang warga juga masih membahas film yang baru mereka tonton di panggong tadi. Terutama kisahnya yang menggantung yang akan berlanjut di “Berkelana 2”. Tidak ketinggalan Wan dan kawan-kawannya juga membahas film itu, Terutama Didi yang tertarik dengan potongan-potongan adegannya.
“Rhoma Irama itu harusnya datang ke kampung kita untuk belajar tentang perahu. Masa Ani dibiarkan berkayuh sendiri dengan perahu bocor, he he he,” Didi mengomentari dengan tertawa.
“Untungnya Rhoma bisa berenang dan bisa menyelamatkan Ani,” Timpal Romli.
“Kalau kamu suka yang mana, Wan?” Didi menjawil tangan Wan meminta komentarnya.
“Suka adegan Rhoma yang pakai sarung masuk lewat pintu papan dan sarungnya nyangkut, dan Rhoma berteriak panik,” kata Wan dengan nada serius.
“Yang mana? Sepertinya enggak ada adegan itu.” kata Didi masih belum faham.”memang ada adegan itu, Li?” Didi bertanya ke Romli.
“Lupa saya,” jawab Romli singkat.
“Adegannya seperti apa itu, Wan?” Tanodi bertanya menyela.
“Tadi setelah kalian masuk, selanjutnya giliran Rhoma yang masuk lewat lobang papan itu. Ee, sarungnya nyangkut dan teriak-teriak karena dikiranya Mang Dulamid yang menangkapnya,” Wan menceritakan kejadian sarung Didi nyangkut tadi.
“Ha ha ha ha ha,” Semuanya tertawa lepas kecuali Didi yang tersenyum kecut.
“Pantas tadi sayup-sayup saya juga mendengar suara Rhoma seperti kejepit,” Romli menambah frekuensi tertawa kawan-kawannya.
“Ha ha ha ha ha……”
Malam makin larut. Suara langkah orang-orang yang tadinya ramai sekarang makin sepi. Udara mulai terasa lebih dingin yang membuat banyak mahkluk enggan keluar dari peraduannya, kecuali serangga dan binatang malam, termasuk 2 ekor burung hantu yang saling bersahutan di atas pohon Aren tua di gang ujung jalan itu.
____________
Wan melangkah pelan dengan berjinjit membuka pintu dengan hati-hati agar Mak dan Bak tidak terbangun. Pelan-pelan dia menutup pintu dan menguncinya. Dia bermaksud langsung tidur di samping adiknya Dan yang sudah pulas. Tapi baru dia membalik badannya, dia kaget karena melihat api rokok Bak di ujung lengan kursi.
“Dari mana baru pulang sekarang?” tanya Bak yang membuat jantung Wan berdegup kencang.
“Nonton,” jawab Wan singkat dan berharap Bak tidak bertanya lebih jauh.
“Sama siapa?”
“Didi, Tanodi dan Romli,”
“Dapat karcisnya dari mana?” tanya Bak.
“Kita ikut orang dewasa masuk,” jawab Wan berbohong
“Ya, sudah. tidur sana!,” Bak menyuruh Wan tidur yang membuat Wan merasa lega.
Bak sengaja tidak bertanya lebih lanjut dan pura-pura tidak tahu jika anak tertuanya itu berbohong. Kisah anak-anak yang membuat lobang dan menjebol dinding bioskop itu sudah lama didengarnya. Bak juga yakin salah satu pelakunya adalah anaknya sendiri. Namun Bak mendiamkannya karena menganggap kenakalan anaknya itu masih berada di dalam batas. ()
