Laut yang terhampar di selatan kampung, menjadi sumber nafkah warga yang hidup sebagai nelayan. Lahan subur dan hutan alami yang terbentang luas di tiga penjuru angin kampung itu menjadi penghidupan warga yang hidup sebagai peladang, bercocok tanam di lahan kering dan menaman pohon dan tanaman keras lainnya. Namun ada sebagian warga kampung yang menekuni hidup sebagai nelayan dan peladang sekaligus. Bak adalah salah satunya.
Di awal musim panas Bak membuka lahan untuk berhuma atau bertanam padi di lahan kering. Sebuah cara bertanam padi secara turun temurun dengan mengikuti siklus musim hujan dan musim panas. Nugal atau menanam padi dimulai saat masuk musim penghujan. Nugal dilakukan oleh beberapa orang yang berperan sebagai pembuat lubang dan pengisi benih. Pembuat lubang menggunakan 2 batang kayu berdiameter 5 -7 centimeter yang dipegang kiri kanan melubangi tanah sambil berjalan. Beberapa orang mengikuti di belakangnya mengisi benih di dalam lubang tersebut. Benih itu dibiarkan tumbuh hingga waktu mengetam, saat padi sudah masak di musim panas yang akan datang. Satu kali berhuma cukup untuk persediaan beras selama satu hingga dua tahun ke depan. Beras dari huma ini adalah beras merah yang diproses dengan cara menumbuk padi menggunakan lesung dan alu kayu untuk membuang kulit padi atau sekam.
Di tengah huma itu, Bak membangun pondok kecil sebagai tempat tinggal selama musim tanam hingga musim mengetam berakhir. Tinggal di tengah huma itu bagian dari kebiasaan para peladang untuk menjaga huma dari gangguan babi hutan dan kawanan kera yang sering masuk ke huma merusak rumpun dan buah padi. Apalagi jika huma itu berbatasan langsung dengan hutan atau belukar. Namun jika mencium bau manusia atau melihat ada aktifitas manusia, hewan-hewan itu tidak berani untuk masuk lahan atau kawasan yang telah dihuni manusia.
Selama menjaga huma dan waktu mengetam tiba, Bak merawat kebun Shang dan kebun Karet yang ditanamnya di lahan bekas huma di musim-musim sebelumnya. Bak tidak pernah membiarkan lahan bekas humanya begitu saja, tetapi selalu menanam tanaman keras seperti Karet, Cempedak atau Durian, jika dia tidak membuka kebun Shang atau Lada. Di sela-sela pohon Shang itu, Bak menanam Karet yang sudah bisa disadap setelah Shang habis masa produktfnya.
Sebagai peladang mumpuni, Bak fasih tentang tanah dan lahan yang cocok untuk Shang. Maka tidak semua lahan bekas humanya dijadikan kebun Shang. Harus dicek jenis tanahnya yang dapat dilihat dari warna dan aroma serta tanaman liar yang dominan tumbuh di lahan itu. Kemiringan lahan juga harus diperhatikan agar air hujan tidak menggenang yang akan membuat akar dan pohon Shang membusuk.
Shang memiliki nilai ekonomi tinggi. Di waktu-waktu tertentu harganya cukup mahal karena Shang atau Lada Bangka sudah dikenal di Eropa sejak jaman penjajahan Belanda. Kandungan mineral di dalam perut bumi Bangka menghasilkan biji Shang kualitas tinggi dengan aroma dan rasa pedas khas yang tidak ada di daerah dan negara lain. Bangka dikenal dunia di masa lalu karena dua produk unggulannya, Lada dan Timah dengan merek dagang Muntok White Paper dan Bangka Tin.
Seperti halnya di laut, Bak juga selalu melibatkan anak-anaknya berladang dan bercocok tanam agar mereka faham tentang ketrampilan hidup dengan berladang. Bak memboyong keluarganya tinggal beberapa bulan hingga musim mengetam berakhir. Selama masa itu, anak-anaknya harus menempuh perjalanan sejauh 7 kilometer melintasi hutan dan belukar berjalan kaki ke sekolah. Tahun ini, Bak membuka huma di bawah kaki Bukit Putos yang menjulang tegak di sebelah utara humanya. Di kawasan itu Bak tidak sendirian, tetapi ada juga beberapa peladang lain yang membuka huma berbatasan dengan humanya.
__________
Sebelum waktu Shubuh tiba, Mak sudah menyalakan api di tungku dapur untuk menyiapkan sarapan. Mak membuat Sagak, ubi kayu yang digesrek menjadi lembaran-lembaran kecil seperti mie ukuran pendek yang dimasak dengan cara ditim atau dikukus. Sagak biasa dimakan dengan ikan sebagai lauknya, bisa juga dicocol gula pasir atau gula aren. Kadang-kadang Mak menambahnya dengan parutan kelapa supaya lebih gurih.
“Wan! Dan! Ima…! Bangun! Sudah siang,” Mak menguncang-guncang ketiga anaknya yang masih tidur pulas. “cuci muka sana, jangan sampai terlambat.”
Mak memang disiplin soal sekolah dan ngaji anak-anaknya. Namun selama musim huma ini, ngaji anak-anaknya berhenti sementara, tetapi sekolah tetap harus dijalankan dalam kondisi hujan atau cuaca cerah. Mak tidak ingin anak-anaknya seperti dirinya dan Bak yang tidak tamat SD.
Dengan menghadap ke arah lampu minyak, Wan dan kedua adiknya menikmati sarapan paginya. Mak membungkus beberapa potong sagak dan ikan asin yang dimasukkan dalam sumpet mengkuang sebagai sangu makan siang ketiga anaknya itu. Seragam sekolah ketiganya sudah dilipat dan dimasukan dalam bungkus plastik. Seragam itu baru akan dipakai setelah mandi di perjalanan nanti. Kalau dipakai sekarang seragam itu akan basah oleh embun yang menempel di ilalang dan daun-daun di kiri kanan jalan setapak yang akan mereka lalui. Apalagi kalau tadi malam hujan, maka sampai ke jalan besar sudah basah kuyup seperti habis diguyur..
“Mak..,Bak..! Kami jalan dulu!” Wan berpamitan. Diiringi kedua adiknya Wan berjalan di depan menerebos jalan setapak yang masih gelap di antara rumpun padi yang sudah setinggi lutut.
Udara masih menggigit. Embun masih bergelayutan yang terasa dingin di tangan dan wajah. Bukit Putos yang menjulang di belakang makin menjauh dan masih samar-samar, tapi dapat terlihat bentuknya dengan cahaya langit yang mulai terang.
Pagi ini Wan berangkat ke sekolah hanya bertiga saja dengan dua adiknya. Biasanya mereka berangkat berlima dengan Asri dan Rustina yang huma keluarganya bersebelahan dengan huma Bak. Namun sejak dua minggu lalu kedua kakak beradik itu memutuskan untuk tidak sekolah lagi karena tidak kuat pulang pergi berjalan kaki.
“Yang penting sudah bisa baca tulis,” kata Asri kepada Wan minggu lalu menirukan kalimat orang tuanya sebagai alasan dia tidak sekolah lagi.
Wan dan kedua adiknya terus berjalan melewati jalan setapak diantara batang padi yang masih hijau. Jalan itu belum bersih benar karena baru terbentuk ketika Bak membuka huma satu setengah bulan lalu.
“Aduh!” Dan mengaduh karena kaki kanannya terantuk tunggul, sisa pohon yang nongol di tengah jalan.
“Kenapa Dik Dan?” Wan berbalik mendekati Dan .
“Kasut saya putus kena tunggul,” Dan menunjukkan sendalnya dan berusaha memasukkan lagi talinya yang copot.
Wan meraih dan memperbaiki sandal itu. Sandal yang sudah tipis dan talinya akan copot jika tersenggol sedikit saja. Copotnya bergantian, depan kiri dan kanan. Tali depan yang paling sering copot bahkan putus. Wan mengikat sandal adiknya itu dengan tali ubur-ubur yang selalu dibawa di kantong celananya.
“Nih, udah kuat itu,” Wan menyerahkan sandal itu. “ikuti langkah saya agar tidak menyepak tunggul lagi,”
Di batas akhir hamparan huma, jalan setapak masuk jalan berkelok di kawasan hutan sejauh 1 kilometer. Beberapa ruas jalan di hutan itu terdapat genangan air yang membuat permukaan tanah menjadi lembek. Melewatinya dengan meniti batang pohon yang dipasang melujur hingga ke bagian tanah yang kering. Kalau tidak hati-hati akan terpeleset dan kaki akan terbenam ke dalam lumpur di bawahnya. Dan menjinjing sandalnya bertelanjang kaki meniti pohon itu. Dia tak ingin kehilangan sandal lagi karena pernah terpeleset yang membenamkan sandalnya di dalam lumpur itu sampai hari ini.
Hutan itu berbatasan dengan belukar yang ditumbuhi pohon kecil, perdu dan ilalang. Jalan setapak di belukar sejauh 1,5 kilometer-an hingga ke tepi jalan raya. Melewati belukar ini di waktu pagi sebelum matahari terbit serasa melewati siraman butiran air yang akan membuat sekujur tubuh basah kuyup. Wan dan kedua adiknya berjalan dengan menyibak ilalang seperti sedang berenang, timbul tenggelam di tengah kerimbunan ilalang yang melebihi tinggi tubuh mereka.
Menjelang matahari terbit, ketiganya keluar dari jalan setapak tiba di jalan besar, jalan tanah kuning selebar 4 – 5 meter menuju ke kampung yang biasa dilalui truk-truk pengangkut timah. Jalan itu adalah jalan yang menghubungkan Kampung Penagan dengan Kota Pangkal Pinang yang dibangun awal tahun 70-an, ketika TTB (Tambang Timah Bangka) membangun Tambang XII yang beroperasi di kawasan Biyat, Kampung Penagan.
Di musim panas, jalan itu berdebu dan di musim hujan permukaan jalan licin dan berlumpur dengan genangan air di sana sini. Dan memakai lagi sandalnya. Sandal yang hanya dipakainya jika ke sekolah. Ya, sandal, karena sepatu adalah barang mewah untuk anak-anak di kampung. Anak yang memakai sandal pun hanya separonya, selebihnya ke sekolah dengan “kaki ayam”.
Cahaya matahari pagi dari arah belakang membentuk bayangan panjang yang bergerak di depan. Sinarnya membuat jalan, pohon dan daun-daun berwarna keemasan. Di depan ketiga kakak-beradik itu, sudah ada rombongan anak-anak lain yang juga berangkat ke sekolah. Perlu waktu sekitar satu jam lagi untuk sampai ke sekolah.
“Cepat dikit, kita sudah agak terlambat.” Wan mengajak adiknya bergegas. “kita mandi di Air Atok Jum saja,”
“Tidak di Air Pinang saja, Kak?” Ima menawarkan pilihan.
“Air Pinang terlalu jauh jaraknya dengan sekolah, abis mandi kita jalan berkeringat lagi. Air Atok Jum kan sudah di ujung kampung,” Wan beralasan.
Air tempat mandi itu adalah aliran sungai kecil yang ada di pinggir jalan yang biasa digunakan warga untuk mandi juga menjadi penanda kawasan atau daerah. Nama air itu diambil nama orang atau nama benda yang ada di sekitarnya. Air Pinang misalnya, karena dulu di pinggir air itu ada tumbuh batang pinang, meskipun sekarang pinangnya sudah tidak ada. Demikian juga Air Atok Jum, karena di sebelah air itu ada kebun karet dan kebun Shang milik Atok Jum.
Di tepi Air Atok Jum, Wan berdiri mengeringkan badan dengan handuk lusuh yang dipakai bergantian dengan dua adiknya. Dia membuka bungkusan plastik mengeluarkan seragam merah putih yang sudah pudar dan menyerahkan masing-masing kepada Ima dan Dan. Bayang-bayang mereka di tanah sudah semakin pendek karena hari semakin siang. Setelah berkemas merapikan buku dan perlengkapan ketiganya melanjutkan perjalanan menuju sekolah.
Sekolah itu sudah ramai dengan anak-anak menjelang lonceng tanda masuk berbunyi. Ada yang bermain setal, main gumbong, lompat karet atau sekedar duduk-duduk melihat temannya bermain. Wan menuju ke kelas 4, sementara dua adiknya menuju ruangan kelas 2. Mereka belajar hanya di kelas saja dengan para guru yang sudah mengabdi bertahun-tahun di sekolah itu. Guru Suratman, Sang Kepala Sekolah, Guru Hasan dan Guru Zakaria. Guru-guru ini menguasai mata pelajaran semua kelas di sekolah itu karena mereka terbiasa mengajar berbagai kelas dari kelas 1 hingga kelas 6.
Murid kelas 3 sudah biasa melihat peta buta dan hapal dengan ibukota propinsi seluruh Indonesia. Tahu nama ibukota dan mata uang negara dunia. Fasih menyayikan lagu-lagu daerah dan juga bisa menyebut dengan mudah kekhasan dari masing-masing wilayah. Mereka juga hapal di luar kepala perkalian dan pembagian 1 hingga 9. Di kelas 4 sudah mulai tahu sejarah Indonesia dan dunia. Pergolakan dan pergerakan pra dan pasca kemerdekaan. Sejarah Perang dunia dan hal-hal yang menjadi pemicunya, juga nama-nama penemu yang muncul akibat revolusi Industri di Eropa.
Di luar sekolah, anak-anak itu belajar dengan alam melalui pekerjaan orang tuanya atau bermain di kebun, hutan, sungai dan laut. Wan yang tertarik dengan sejarah banyak tahu tentang negara-negara dunia dan menyukai siaran berita. Siaran berita yang didengar dari radio transistor yang selalu diputar Bak ketika dia beristirahat di siang dan malam hari. Juga acara “Dunia Dalam Berita” di televisi tetangganya. Adiknya, Dan menyukai Matematika yang memudahkan dia menghitung dagangannya. Sedangkan Ima menyenangi tumbuh-tumbuhan dan proses pengolahan menjadi makanan, yang membuatnya hapal dengan mudah tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan..
Tepat jam 12.00, sekolah berakhir. Namun kelas bubar satu-satu sesuai dengan selesainya pelajaran terakhir di kelas yang bersangkutan. Anak-anak berebutan keluar kelas begitu guru menyatakan pelajaran selesai. Ada juga yang keluar satu-satu karena guru membuat permainan di akhir pelajaran dengan memberikan pertanyaan. Murid yang bisa menjawab dengan benar maka diperbolehkan pulang duluan. Pertanyaannya seputar pelajaran pada hari itu dan sebagian pelajaran beberapa hari lalu.
Wan berdiri di depan kelas adiknya menunggu mereka keluar. Adiknya Dan adalah murid pertama yang keluar setelah menjawab pertanyaan dari Guru Suratman. Sementara Ima masih tertahan karena belum berani mengangkat tangannya. Dan sudah tak sabar untuk melahap sagak makan siang yang dibawa dari pondok tadi. Dia berdiri di depan kelas menyimak pertanyaan Guru Suratman untuk beberapa murid yang masih tersisa.
“Hewan yang hidup di dua alam disebut…?” Guru Suratman mengajukan pertanyaan.
Dan menggerakkan mulutnya ke arah Ima memberi tahu jawabannya, “Am.. pi…bi..”
“Ampibi!” Ima menjawab cepat.
“Betul!” Guru Suratman menunjuk. “Ima, boleh pulang,”
Ima keluar menemui Akak dan Adiknya. Ketiganya menuju pohon Rambai di samping sekolah untuk makan siang. Sagak itupun tak bersisa setelah Dan memakan sisa kakaknya, Ima..
“Kita pulang!” Wan mengajak adik-adiknya berjalan pulang sejauh 7 kilometer lagi balik ke pondok kecil di tengah huma. Perjalanan yang akan mereka jalani hingga dua bulan setengah lagi ke depan setelah padi-padi selesai diketam. ()
