Adzan Shubuh di surau kampung itu baru saja berlalu. Kokok ayam jantan sesekali masih terdengar bersahutan di kejauhan. Suasana di sepanjang jalan kampung masih belum jelas benar karena hari yang masih gelap meskipun semburat cahaya di ufuk timur sudah mulai terang. Langkah-langkah kaki yang melintasi jalan tanah yang masih gelap itu terdengar seperti bergegas dan saling berlomba, tak mau ketinggalan. Kaki-kaki telanjang melangkah cepat tanpa takut terantuk batu atau menginjak lobang bekas genangan air hujan yang sudah mengering. Mereka sudah hapal dengan setiap lekuk jalan itu. Beberapa orang di depan bergerak seperti bayangan hitam, memikul buntalan kecil di bahu kanannya. Di belakangnya, dua orang berjalan beriringan sambil berbincang dengan nyala rokoknya yang terlihat jelas di keremangan pagi.
“Kemarin, dapat berapa?” kata laki-laki yang agak gempal.
“40-an kilo,” jawab laki-laki agak kurus dengan postur yang lebih tinggi dari kawannya itu.
“Hampir sama ya, saya juga segitu. Di depan kita itu siapa?” tanya Si Gempal lagi.
“Ahon dan Matani.” jawab temannya.
Wajah kedua orang itu baru mulai agak jelas ketika mereka tiba di Suwak, tempat perahu-perahu mereka tertambat di kayu pancang. Suwak itu adalah pelabuhan kecil yang menjadi pintu keluar masuk para nelayan pulang dan pergi melaut. Suwak itu seperti pintu gerbang yang menyibak barisan pohon Bakau dan Perpat di kiri kanannya. Perahu-perahu yang tertambat di kayu pancang tampak seperti siluet di atas kanvas langit dan laut yang mulai terang. Sebagian kayu pancang itu berdiri menyendiri ditinggal perahunya pergi melaut.
Suwak itu berupa pasir putih dengan anak-anak air mengalir di beberapa bagiannya. Pasir itu sejauh 100-an meter ke arah laut. Setelah itu lumpur berwarna biru tua dengan kedalaman antara sebetis dan selutut orang dewasa, terhampar ke tengah hingga ke garis terjauh surut air laut. Lumpur itu memudahkan para nelayan mendorong perahunya pulang pergi saat air laut surut.
Dari suwak itu lurus ke depan, terbentang laut yang luas dengan ujung yang bertemu dengan kaki langit. Berdiri di batas vegetasi pantai suwak itu, menoleh ke kiri 5 derajat akan tampak Pulau Pelepas dan Pulau Begadung. Pulau Pelepas ditandai dengan lampu suarnya yang menjadi penanda bagi kapal-kapal yang berlayar malam hari melintasi jalur Selat Malaka – Laut Jawa. Menoleh 10 derajat ke arah kanan akan tampak Pulau Hantu dan dan Pulau Medang yang duduk berdampingan. Selain empat pulau itu, ada lagi satu pulau yang lebih besar yang bisa dilihat dari suwak itu, yakni Pulau Nangka, yang terletak sebelah tenggara Pulau Pelepas dan Pulau Begadung. Namun karena posisinya dekat ke pinggir, pulau itu seolah menyatu dangan daratan. Pulau Nangka akan terlihat terpisah dengan daratan, jika melihatnya dari tengah laut sejajar dengan pulau itu.
Pagi sudah menjelang, udara masih terasa menusuk tulang. Hembusan angin yang menerpa daun Bakau dan Perpat menjadi orkes alam dengan suara burung-burung yang riuh menyambut pagi. Bak, lelaki gempal 30-an tahun itu melepas tali penambat perahu dan mendorongnya menuju ke laut, diikuti Resat, temannya tadi yang mendorong perahunya beberapa meter di belakang. Mereka mendorong perahu ke bibir air yang sudah melewati jerenjang, akar napas pohon Perpat yang muncul ke permukaan tanah sebagai batas vegetasi pantai. Di kedalaman air setengah meter, Bak menghentikan perahunya, membuka buntelan yang dibawanya tadi. Buntelan itu berisi Sungkor, alat khusus untuk menangkap anak-anak udang yang sedang melimpah memenuhi perairan itu. Sekarang memang sedang musim Udang Sungkor, udang ukuran kecil sebesar lidi atau batang korek api. Di daerah lain, udang sungkor ini disebut juga Udang Rebon. Para nelayan di pesisir Selat Bangka menyebutnya udang sungkor mengacu pada nama alat tangkap yang digunakan untuk menangkap udang itu, Sungkor. Sungkor dibuat dari waring yang dibentuk menganga dengan kantong penampung di bagian belakangnya. Untuk rangkanya, para nelayan menggunakan dua batang kayu atau bambu menyilang dengan pangkalnya menyatu sebagai tumpu. Titik tumpu itu bisa diletakkan di haluan perahu atau dibawa langsung dengan cara disandang di bahu menggunakan tali. Sungkor didorong ke arah kumpulan atau kawanan anak udang dan mengumpulnya di kantong penampung. Menggunakan perahu akan memudahkan para nelayan membawa perbekalan sekaligus sebagai tempat mengumpulkan hasil tangkapan jika kantong penampung sudah penuh.
“Air surut ini tidak sampai tengah hari,” Bak menoleh ke Resat yang juga sedang menata sungkor di sebelahnya.
“Iya, kemarin air mulai pasang lewat tengah hari sedikit,” Resat dengan mata tetap focus ke sungkornya . ”musim ini kita masih bisalah nyurong sampai bulan timbul lagi. Setelah itu kita sudah bisa main pukat tarik karena anak udang ini sudah besar-besar.”
Bak dan Resat serta para nelayan lainnya nyungkor di pagi hari agar menjelang siang sudah pulang dan langsung menjemur hasil tangkapannya. Menjemur selama setengah hari dari siang hingga sore cukup untuk mengeringkan udang sungkor dengan kadar air yang pas untuk ditumbuk tahap pertama. Nyungkor tidak perlu waktu seharian, tetapi hanya beberapa jam saja agar udang tetap dalam keadaan segar.
“Ayolah kita mulai! Bismillahirrohmanirrohim..!” Bak berseru seperti memberi aba- aba.
Bak mendorong sungkornya ke arah Selatan, sementara Resat mendorong ke arah berlawanan. Air laut cukup tenang dengan gelombang kecil yang terbentuk dari angin yang berhembus pelan. Air dan langit berwarna senada dengan ujung tepi yang menyatu. Diterpa sinar matahari yang baru terbit, wajah Bak terlihat berwarna jingga. Sementara pantulan sinar matahari di badan perahunya bergerak menari mengikuti gerakan air.
Bak dan Resat bergegas agar tak kehilangan momen menangkap udang sungkor itu. Mereka hanya punya waktu hingga menjelang tengah hari sebelum air laut bergerak pasang. Air pasang akan membuat udang sungkor menghilang seiring dengan perubahan suhu dan arus air laut. Bak mendorong sungkornya dengan berjalan bolak-balik Utara -Selatan. Jejak di belakangnya, akan dipenuh oleh udang sungkor lagi yang bergerak menggumpal membentuk barisan hitam. Anak-anak udang itu bergerak ke pinggir mengikuti pergerakan arus dan suhu air laut. Gerakan ini juga adalah cara alami mereka menghindari para predator, berupa ikan ukuran kecil dan sedang seperti Belanak, Gulama, Pirang, Selangat, Kepetek dan ikan-ikan laut dangkal lainnya.
Bak sudah menjalani hidup sebagai nelayan sejak usia belia mengikuti orang tuanya. Sebagai anak tertua dan laki-laki satu-satunya Bak ikut membantu orang tuanya mencari nafkah. Sementara kelima adik perempuannya mengerjakan pekerjaan rumah bersama sang ibu. Pengalaman puluhan tahun sebagai nelayan memberikan banyak pengetahuan tentang laut, angin, dan pergerakan para penghuni laut dari musim ke musim. Bak dengan mudah dapat mendeteksi kuantitas dan ukuran udang sungkor hanya dengan menggerakkan ujung dayung di bawah air. Lentikan anak-anak udang menghindari ujung dayung itu sudah cukup bagi Bak untuk menerka jumlah dan ukurannya. Ukurannya harus pas, apakah sudah bisa ditangkap atau belum. Jika terlalu kecil dagingnya belum terbentuk tetapi masih berupa jasad renik, dan jika terlalu besar juga tidak cocok sebagai bahan baku untuk membuat terasi atau belacan.
Matahari sudah meninggi, udara pun sudah terasa lebih lebih hangat. Gelombang laut perlahan membesar seiring dengan tiupan angin yang mengencang mengikuti suhu udara. Sekelompok Camar yang tadi terbang di atas buritan perahu Bak, berpindah mengikuti perahu Resat yang bergerak mendekat. Gerombolan Camar itu terbang berpatroli pindah dari satu perahu ke perahu lainnya mencari ikan kecil yang mengejar anak udang yang luput masuk ke dalam sungkor.
“Kelihatannya hari ini lebih tebal dari kemarin,” ujar Bak saat keduanya berpapasan.
“Iya, bolak-balik di sini saja sebentar-sebentar penampung sudah penuh,” Resat menunjukkan penampung sungkornya yang menggembung.
Keduanya berhenti dan duduk di buritan perahu masing-masing dengan menjuntaikan kaki ke air. Bak menyalakan rokoknya dengan menutup korek api dengan kedua tangannya menahan tiupan angin. Asap kemudian keluar dari hidung dan mulutnya yang langsung hilang terbawa angin.
“Saya dengar harga agak turun karena banyak belacan dari seberang yang masuk lewat Sungai Selan,” Bak menghembuskan asap rokoknya. “kemarin lusa Haji Sauba masih membeli Rp. 1.800.”
“Sebenarnya kita tidak khawatir meski banyak barang dari seberang. Belacan kampung kita ini dicari tauke di Pangkal Pinang. Haji Sauba sering ngomong kalau belacan kita harganya bisa di atas harga belacan seberang,” Resat menimpali.
Bak sesekali meneguk kopi dari botol kaca yang selalu dibawanya setiap kali melaut. Rokok dan kopi memang menjadi sangu para nelayan untuk menjaga stamina. Apalagi jika melaut di malam hari yang mengharuskan nelayan untuk tidak tidur sepanjang malam.
“Ayo kita mulai lagi, masih bisalah dua rit,” Bak turun dan kembali mendorong sungkornya.
“Wrrrrk, wrrrrk, wrrrrk, rrrrk,” suara air dari langkah kedua orang yang saling menjauh mendorong sungkor masing-masing, menangkap anak-anak udang yang berkumpul di air dangkal menghindari pemangsa alaminya. Cara anak-anak udang menghindari predator alaminya, justru memudahkan predator utama mereka, manusia untuk menangkapnya.
Udara di perairan itu sudah lebih terasa panas. Angin bertiup lebih kencang dan matahari sudah melewati pagi menjelang siang. Sayup-sayup suara Elang Laut di kejauhan menandakan waktu sudah mendekati tengah hari. Pulau Pelepas dan tiga pulau lainnya, Begadung, Hantu dan Medang, tampak lebih buram dari pagi tadi, seolah ada asap tipis di sekitarnya yang membuat pulau-pulau terlihat samar. Bak dan kawan-kawan nelayannya sudah beranjak pulang seiring air laut yang sudah mulai pasang.
Bak mengikat tali perahunya di kayu pancang, bersiap meninggalkan suwak dengan memikul dua karung bekas pupuk urea 50 kg yang berisi udang sungkor hasil tangkapannya. Suara deru angin laut yang menerpa daun-daun Bakau dan Perpat di siang itu, mengiringi Bak dan kawan-kawan nelayannya meninggalkan suwak tempat perahu mereka tertambat. ()
