02. Pembuat Terasi Jempolan

Rumah semi permanen di pojok gang itu tidak berbeda jauh dengan rumah di kiri-kanannya.  Berlantai semen, dinding papan dan beratap genteng.  Di bagian belakang dan dapurnya,  berupa rumah panggung  dengan dinding kulit kayu dan atap daun Nipah.  Di sebelah kiri  rumah itu ada pondok kecil yang berfungsi sebagai gudang sekaligus tempat untuk membuat  belacan atau terasi. Di pondok itu  ada satu lesung kayu,  2 batang alu  dan 2  karung garam curah yang disusun bertumpuk.  Sekira 10  meter  dari rumah itu, ada pelataran selebar 5 x 6 meter.   Pelataran itu  berupa susunan kayu bulat berdiameter  rerata setengah  inchi.   Pelataran itu beridiri di atas 9  tiang  setinggi 1,5 meter, dengan 5 tiang utama di tiap sudut dan titik diagonalnya, ditambah masing-masing 1 tiang tambahan di keempat sisinya.    Pelataran itu biasa dipakai untuk menjemur hasil laut seperti  ikan  asin atau udang sungkor.  Di sekelilingnya dipasang pukat bekas sebagai penghalang agar  ayam atau kucing tidak masuk ke dalam.

Matahari sudah hampir berada di atas kepala. Dari dalam rumah itu terdengar suara anak-anak  main kejar-kejaran keluar masuk rumah. Terdengar pula tangis bayi dan ibunya yang berdendang menenangkannya. Tawa dan tangis anak-anak  di rumah itu terdengar bergantian.  Sesekali terdengar pula suara Mak  memanggil anak-anak itu   menghentikan keasyikan mereka bermain.

“Wan! Dan! Ima…!  angkat udang di pelataran itu.  Masukkan ke karung. Waringnya gelar lagi. Sebentar lagi Bak pulang,” Mak menyeru dari tempat duduk menyusui bayinya.

Seketika 3 anak itu berlari naik ke pelataran.  Dengan gesit mereka mengangkat udang sungkor yang sudah ditumbuk setengah jadi dan memasukkannnya ke dalam karung.  Mereka hapal apa yang harus dikerjakan  sebagaimana mereka juga faham konsekuensinya jika perintah Mak tidak dikerjakan.  Wan dan Dan membawa udang kering itu dan meletakkannya ke dalam pondok kecil di sebelah rumah. Sementara Ima menggelar lagi waring  itu di atas pelataran. Anak-anak itu mengerjakan tugasnya dengan cepat karena sudah terbiasa dan tak mau mendapat hukuman jika tidak mengerjakan tugasnya.

Mak biasa memanggil anak-anaknya dengan satu  suku kata  akhir nama mereka.  Wan, anak tertua berusia 10 tahun bernama Azwan. Dan, panggilan singkat Hamdan, anak ketiga berusia 7 tahun. Sedangkan Ima adalah nama panggilan Rahima anak kedua berusia 8 tahun.   Ada lagi yang keempat, Ismail yang sedang tertidur, berusia 4 tahun yang biasa dipanggil Is.  Yang  kelima 5 Hartina biasa dipanggil Ti  berusia 3 tahun sedang asik bermain sendiri. Satu lagi yang  paling kecil sedang menyusui, Asmadi berusia 1,5 tahun yang sudah mulai biasa dipanggil Madi.

Usai mengerjakan pekerjaan tadi Wan dan kedua adiknya duduk  menunggu dengan berteduh  di bawah pelataran.  Pandangan ketiganya tertuju ke ujung jalan kecil di seberang pelataran melihat  Bak berjalan seperti berlari kecil memikul 2 karung udang sungkor.

“Mak..! Bak  sudah pulang…” Wan berteriak memberi tahu.

Wan dan kedua adiknya memanjat pelataran,  duduk jongkok  di atas waring, tempat   Bak menumpahkan udang sungkor, yang bercampur dengan ikan-ikan kecil yang ikut  terperangkap bersama sampah ranting dan daun Perpat.

Mak keluar membawa sauki  dan naik  bergabung dengan anak-anaknya menjemur dan membersihkan udang sungkor.  Mak fokus meratakan  anak udang di atas waring sambil membersihkan sampah dan ikan-ikan kecil.  Ikan-ikan yang menjadi rejeki bagi rombongan ayam yang sudah menunggu di bawah pelataran. Sementara Wan dan kedua adiknya  lebih senang memilih udang-udang ukuran besar  untuk dibakar dan dimakan sebagai cemilan.

Setelah menuangkan isi karungnya, Bak merapikan perlengkapan melautnya.dan  langsung masuk ke rumah membiarkan Mak dan anak-anaknya melanjutkan pekerjaannya.

“Nasi sudah di meja. Lauknya ikan panggang dan udang goreng yang kemarin.,” Mak memberi tahu sambil terus meratakan ketebalan jemuran udang sungkor di atas waring,..

Bak tidak menjawab dan hanya membalas dengan tatapan dan anggukan pelan.

“Buntal burik di depanmu itu,  buang!” Mak menunjukkan seekor ikan Buntal di depan Wan diantara anak-anak udang..  “Ima..!  di kananmu itu ada buntal pisang,”

Buntal  memang jenis ikan yang paling sering masuk ke dalam sungkor karena karakternya yang jinak dan tidak takut berada di sekitar manusia. Giginya yang tajam kerap memutuskan tali pancing, merobek pukat dan melubangi sungkor.

Setelah memastikan ketebalan jemurannya merata, Mak mengamati lagi kalau-kalau ada sampah atau ikan  yang terlewat yang belum dibuang.  Setelah yakin Mak turun menyusul anak-anaknya yang sudah berhamburan menuju tungku di dapur.

Penjemuran ini sangat menentukan kualitas terasi. Tidak hanya karena tingkat kekeringannya, tetapi juga kebersihan bahan baku. Saat menjemur  juga jadi momen untuk membersihkan udang sungkor dari sampah dan ikan-ikan yang ikut masuk.  Jika banyak ikan yang tercampur warna terasi akan lebih hitam dengan bau yang menyengat. Tetapi jika keringnya pas dan  udang sungkor bersih maka akan menghasilkan terasi kualitas tinggi dengan warna sedikit merah cenderung ungu dengan aroma yang khas.  Namun jika  warnanya  terlalu merah ada kemungkinan  terasi itu dicampur zat pewarna atau bahan lainnya.

______________

“Yang di kotak itu  kapan mau diantar ke Haji Sauba?” Mak menoleh ke arah Bak yang sedang duduk menikmati rokok dan kopinya.

“Besoklah, saya tutok dulu yang sudah kering agar bisa diantar sekalian,” Bak menghembuskan pelan asap rokoknya..

“Beras, gula dan kopi sudah menipis, hanya cukup untuk besok,” ujar Mak dengan nada khwatir..“apa benar harga turun?”

“Kemarin masih 1.800.  Kabar turun itu karena banyak belacan dari seberang  masuk lewat Sungai Selan,” Bak menghirup kopinya yang masih panas.

“Mudah-mudahan tidak turun agar kita masih bisa menyisihkan untuk sekolah anak-anak dan membeli baju untuk hari raya,” ujar Mak penuh harap.

Bak dan Mak berbincang di meja makan itu, tanpa memperdulikan ketiga anaknya yang sedang berebut membakar udang di tungku dapur di sebelahnya. Rutinitas setiap kali  Bak pulang melaut yang sering memicu pertengkaran. .

“Awas,  yang besar itu jangan diambil,” Wan memperingatkan  adik-adiknya agar tak mengambil udang yang paling besar.

“Itu punya saya. Saya yang dapatnya tadi,” Dan tak mau kalah.

“Saya yang meletakkannya  di bara itu,” Wan beralasan.

“Aturannya, yang punya yang menemukan,” Dan sengit dan menantang.

Pertengkaran karena saling klaim dan mengaku-ngaku itu nyaris terjadi tiap hari..  Apalagi jika  Bak pulang mukat  dengan hasil tangkapan yang beragam,  ikan, ketam rejong, ketam teramangok,  sotong, udang ketok, udang tampi, dan lain-lain. Masing-masing sudah memilih bagiannya. Pertengkaran terjadi lagi saat mengambil ikan, udang  dan kepting yang sudah matang karena direbus atau dimasak dalam satu wadah.  Wan yang merasa paling besar selalu mengambil  milik  adik-adiknya. Pertengkaran selesai setelah Mak turun tangan dengan memelototkan matanya.  Suasana kemudian senyap dan hanya terdengar kecap  anak-anak ini menikmati makanan laut itu  sebagai lauk nasi  atau rebus ubi kayu.

____________

Matahari sudah condong ke Barat dengan sinar yang sudah tak menyengat lagi.  Rumah yang tadi ramai,  sore ini sepi karena anak-anak sedang bermain di luar. Bak mengambil lesung dan meletakkanya di tanah di bawah jugan pondok kecil itu.  Kemudian  memasukkan udang sungkor yang sudah kering ke dalamnya. Lesung itu lebih mirip dengan kotak yang dibuat dengan cara melobangi kayu bulat berdiameter 80 cm..

“Brekk, brekk, brekk!”  suara alu Bak yang melindas udang sungkor kering di dalam lesung. Sesekali Bak berhenti menumbuk dan menabur garam di atas udang sungkor yang mulai halus. Takaran garam itu harus pas agar tidak terlalu asin dan terasinya bisa tahan lama.  Hasil tumbukan setengah jadi itu akan dibiarkan beberapa hari untuk proses permentasi. Lalu dijemur lagi untuk mengurangi kadar air  sebelum ditumbuk halus menjadi terasi.

“Blekk, blekk, blekk.” Bak menumbuk lagi  terasi yang sudah setengah jadi.   Setelah tumbukannya halus dan rata,  Bak memasukkan terasi yang dibuatnya kemarin  untuk dicampur menjadi satu. Dengan sepotong kayu berbentuk dayung kecil Bak memadatkan terasi dan membentuknya seperti kubah dengan meratakan bagian atasnya.  Setelah selesai Bak memasukkan terasi itu dalam plastik khusus dan membungkusnya dengan karung sebelum menyimpannya dalam kotak kayu.  Bak memperlakukan terasinya seperti seorang ibu merawat bayinya.  Dikenal sebagai pembuat terasi jempolan, terasi  Bak disukai warga dan para tetangganya yang sering memesan langsung.  Dalam jumlah besar Bak menjual terasinya  ke Haji Sauba,  seorang pemilik toko  berbagai barang kebutuhan dan juga pembeli hasil laut dan hasil ladang.

_____________

Daun pepohonan di sekitar gang itu  bergerak  tidak secepat siang tadi. Angin sore yang pelan  membuat daun dan dahan bergerak gemulai. Sinar matahari  senja merubah warna daun dan pepohonan itu menjadi kuning keemasan.

“Horee…, saya duluan!”  Wan berteriak begitu sampai di rumah.  Dia biasa pulang dengan berlari berlomba dengan adik-adiknya.

“Duluanlah, mulainya juga curang. Aba-aba belum selesai sudah ngacir,” Dan memprotes dengan ternegah-engah.

Belum sempat Wan dan Dan bertengkar dan berdebat panjang, tiba-tiba terdengar suara Mak  dari dalam.

“Waaan…!”

“Ya, Maak! ”

Lingkup jemuran! Tutup yang rapat. Segara mandi dan siap-siap ngaji.”

Wan bergegas menaiki tangga pelataran. Dengan cekatan dia melingkup  waring dan mengumpulkan udang sungkor yang sudah memerah di bagian tengah waring. Lalu menutupnya dengan platistik yang diberi pemberat balok kayu dan batu untuk melindungi dari hujan dan embun.

Hari sudah mulai beranjak gelap. Sang Surya sudah mendekati peraduannya. Malam segera menjelang menutupi siang yang telah menerangi alam seharian.  Suasana sedikit hening tanpa suara gemerisik  daun-daun  yang ditiup angin. Jangkrik dan serangga malam satu-satu mulai bernyanyi  memuji Sang Pencipta yang telah memberikan banyak nikmat kepada mahklukNya. ()

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top