Matahari baru setinggi tombak. Suasana toko di ujung kampung itu sudah ramai oleh para nelayan yang mengantar hasil tangkapannya. Beberapa duduk berjejer di dua bangku panjang, sebagian lagi duduk mencangkung di bawah pohon Manggis di depan toko. Lainnya lagi duduk di tanah beralas karton bekas dengan menyandarkan punggungnya ke dinding tembok toko itu. Hasil tangkapan para nelayan itu adalah udang-udang besar ukuran 40 ke atas dengan kondisi segar dan tanpa kepala. Toko itu hanya menerima udang ukuran antara 40-28. Para nelayan ini menunggu giliran udangnya ditiimbang dan dihitung oleh pemilik toko.
“Sudah lama, Lil?” seorang yang baru datang menjawil Jalil, yang duduk mencangkung di bawah pohon Manggis.
“Oh, kamu, Lop! Baru sekira seperempat jam. Baru datang?” Jalil balik bertanya kepada kawannya, Kulop yang baru tiba.
“Ya, tadi bareng Ahon. Pulang nyungkor kemarin, sorenya lanjut mukat,” Kulop mengambil posisi duduk di sebelah kawannya itu. ”sudah ditimbang?”
“Sudah, tadi. Ada 2 kilo 3 ons. Ini nunggu beritong,” jawab Jalil.
“Wah, lumayan ya. Saya paling sekilo setengah. Tadi malam di mana?” Kulop ingin tahu posisi Jalil mukat semalam. Pertanyaan yang biasa di kalangan para nelayan untuk membaca arah pergerakan udang berdasarkan pada perolehan masing-masing.
“Sekitar Kuala saja, enggak kemana-mana,” Jalil menyebut posisinya..
“Ooh, saya kemarin buru-buru ke Paloh, karena malam sebelumnya di Ujung Beting saya dapat 3 kilo 6 ons,” Kulop merasa perhitungannya salah menentukan posisi mukatnya tadi malam.
Kulop dan Jalil terus berbincang sembari menunggu giliran mereka untuk beritong. Beberapa nelayan sudah pulang dan sebagian masih asyik bercengkrama. Sesekali terdengar gelak tawa di sela-sela cengkrama itu. Topiknya seputar aktifitas mereka sehari-hari sebagai nelayan yang bisa saja tidak lucu, tetapi karena tukang ceritanya sosok yang suka melucu membuat penontonya tertawa dan bertahan untuk tidak segera pulang.
Salah satu tokoh yang ditunggu lucunya itu Sumar, yang pagi itu menceritakan kisahnya ketinggalan rokok dan kopi. Dengan postur pendek dan pembawaan jenaka membuat Sumar disukai banyak orang. Belum lagi mendengar ceritanya, melihat sosoknya saja sudah merangsang urat syaraf orang untuk tertawa.
“Kalian bisa bayangkan, semalaman tanpa rokok dan kopi sementara udang lagi banyak dan udara dingin. Satu-satunya cara agar tidak ngantuk ya gagang pengayoh,” Sumar sengaja memberi jeda memancing reaksi penontonya.
Hening sejenak, semua orang menunggu kalimat Sumar berikutnya.
“Caranya, Mar?” seorang lelaki kurus yang duduk persis di depannya tak sabar dengan kalimat Sumar berikutnya..
“Setiap kali mata mulai berat, ambil pengayoh dan pukul sekeliling kepala dengan merata,” Sumar mempraktekkan gerakannya. “dan kalian tahu apa akibatnya?”
“Tidaaak.!” jawab nelayan lain hampir serentak.
“Akibatnya kepala kalian pening dan telur kutu yang ada di kapalamu menetas semua.”
“Ha ha ha ha ha……,” tawa penonton Sumar memenuhi pagi di depan toko. .
Sumar mengambil kesempatan itu untuk menyulut rokok mengambil jeda mempersiapkan kalimat berikutnya.
“Dan..,” dia mendiamkan penontonnya, “kalian tahu cara paling manjur menghilangkan mulut asam karena tidak merokok semalaman.,?”
“Gimana, tuh?” lelaki kurus tadi kembali terpancing rasa penasarannya.
“Fokuskan pikiranmu pada satu titik dan bayangkan lintingan rokok Haji Sauba,”
“Ha ha ha ha ha.” penonton kembali tertawa membuat suasana di depan toko pagi itu makin meriah.
Haji Sauba yang disebut Sumar itu adalah pemilik toko itu yang biasa mereka sebut Tauke, dalam bahasa Khe’ artinya bos atau orang kaya. Di kampung itu, selain orang Melayu juga ada orang Khe’ yang sudah beberapa generasi tinggal bersama. Dalam komunikasi sehari-hari bahasa Melayu dan Khe kerap dipakai bareng. Haji Sauba adalah orang Melayu yang sering dipanggil Tauke oleh warga. Satu ciri khas Haji Sauba yang selalu diingat orang adalah rokok lintingan yang selalu menempel di sela bibinya. Posisinya seperti mau jatuh tetapi tetap lengket dan dapat pindah tempat seketika, dari sudut kiri, ke tengah dan ke kanan. Ukurannya pun tidak seperti rokok pada umumnya, tetapi lebih besar atau jumbo seukuran cerutu atau lebih besar lagi. Maka, begitu disebut rokok lintingan Haji Sauba, orang yang tahu sosoknya spontan akan tertawa.
Toko Haji Sauba itu sebenarnya bangunan tambahan, semacam koridor yang berhimpitan dengan rumah utama. Bagian depan toko itu berisi berbagai barang kebutuhan mulai dari sembako hingga perlengkapan nelayan dan peladang. Toko itu juga sekaligus menjadi tempat menjual hasil laut dan hasil ladang. Di belakangnya ada bangunan tambahan untuk gudang peyimpanan.
Setelah menimbang dan mencatat semua udang hasil tangkapan nelayan, Haji Sauba akan memanggil satu-satu pemiliknya. Yang sudah selesai beritong, ada yang langsung pulang tapi masih banyak yang menunggu dengan bercengkrama atau sekedar mendengar kisah lucu Sumar.
“Jalil..!” Haji Sauba memanggil.
“Ya, Ji.!” Jalil buru-buru mendekat ke meja Haji Sauba.
“2 kilo 3 ons dikali 24 ribu, sama dengan 55 ribu 200 rupiah,” Haji Sauba menghitung dengan memainkan jarinya di atas sempoa kayu, sebuah keterampilan berhitung yang didapatnya dari orang Khe’ tempatnya bekerja di masa muda. “mau ambil uang semua?”
“Tidak Ji. Beras 5 kilo, gula sekilo, kopi 2 bungkus, Bentoel 4 bungkus…”
Haji Sauba mengambil barang-barang yang disebut Jalil menyerahkannya. “Ada lagi?”
“O ya, hampir lupa, pancing nomor 7 satu kotak dengan tali tangsi 5 rol, cukup, Ji” Jalil menambah barang-barang belanjanya.
“Semuanya 5 ribu 8 ratus. Sisanya mau diambil semua?” Haji Sauba menawarkan
“Potong hutang 10 ribu, Ji,” Jalil meminta uang penjualan udangnya dipotong hutangnya. Hutang itu adalah hutang saat masa paceklik lalu ketika ikan dan udang susah didapat. Para nelayan biasanya memenuhi kebutuhan dengan cara berhutang ke toko-toko dan dibayar saat ada pendapatan atau waktu musim tangkap seperti sekarang.
“Barang 5 ribu 8 ratus ditambah bayar utang 10 ribu, 15 ribu 8 ratus rupiah. Sisanya 39 ribu 4 ratus rupiah” Haji Sauba mencatat transaksi itu. Dia lalu menyerahkan secarik kertas nota transaksi itu dan uang Rp. 39. 400 kepada Jalil. “nih, notanya!”
“Terima kasih, Ji,” Jalil kembali ke tempat duduknya bergabung kembali dengan kawan-kawannya yang masih asyik mendengar Sumar bercerita.
“Kulop…!” masih terdengar sayup-sayup suara Haji Sauba memanggil nama nelayan berikutnya.
Selang dua jam kemudian, satu-satu nelayan berlalu pulang. Hari sudah semakin siang. Udara pun mulai lebih hangat seiring dengan matahari yang makin meninggi dan sinarnya yang makin terang. Halaman toko Haji Sauba kini sudah lengang. Hanya satu dua orang keluar masuk berbelanja. Daun Manggis kering berguguran berserak di tanah, bersamaan dengan kertas dan plastic tipis bekas bungkus makanan berputar-putar di tiup angin siang itu.
___________________
Terasi berbentuk kubah buntung itu sudah diletakkan di atas kerito surong dan siap diantar. Bak mengemasnya dengan plastik bening yang dibungkus karung di lapis luarnya. Awan di atas kampung bergerak perlahan didorong angin sore yang berhembus pelan. Udara sudah tidak sepanas tadi dan matahari sudah condong ke Barat mengikuti hukum dan ketentuan yang telah ditetapkanNya.
Bak mendorong kerito surong menyusuri jalan setapak dari rumahnya menuju toko Haji Sauba untuk menjual terasinya. Terasi itu, adalah hasil kumpulan empat kali nyungkor yang dijadikan satu. Bak menggunakan kerito surong mengangkut terasi itu karena terlalu berat jika dipikul di pundak. Kerito surong itu terhitung ngikiu karena sudah 18 tahun lebih menjadi alat angkut barang Bak sejak muda.. Terbuat dari teras Medaru dengan roda dari banir Nyatoh, membuat kerito surong itu awet hingga sekarang. Bak merawatnya dengan sangat baik yang memperlambat pelapukan dan terhindar dari rayap.
Bak Tiba di toko Haji Sauba sudah lewat waktu Ashar. Suasana di toko sore itu tidak seramai pagi tadi. Beberapa orang peladang duduk di bangku panjang di depan toko. Mereka menjual hasil ladang seperti Karet dan Shang atau Lada.. Mereka menunggu giliran untuk beritong setelah penimbangan selesai. Sore hari seperti ini, memang waktunya peladang datang ke toko itu menjual hasil ladangnya. Ada juga nelayan yang menjual hasil tangkapannya tadi siang atau nelayan seperti Bak yang menjual produk turunan seperti Terasi dan akan asin yang lebih tahan lama dan bisa ditunda penjualannya. Adapun hasil tangkapan seperti udang segar harus segera diantar ke toko untuk di-es kan agar tidak busuk. Para nelayan itu adalah nelayan tradisional yang hanya melaut antara 2 sampai 4 mil dari garis vegetasi pantai. Perahunya sepanjang antara 4 hingga 6 meter dengan lebar tengah 1 – 1,5 meter. Setiap perahu terdapat sepasang dayung panjang yang digunakan dengan didorong menyilang dan sebuah Pengayuh atau dayung pendek. Mereka melaut kurang dari 20 jam dan tidak bisa berlama-lama agar hasil tangkapan tidak rusak atau busuk.
“49 kilo 7 ons,” Haji Sauba menunjuk angka di timbangan usai menimbang terasi Bak.
“Meleset 3 ons, saya menebak sekitaran 50 kilo karena dari 7 karung udang sungkor akan jadi 42 kilo terasi. Kemarin udangnya 8 karung lebih” Bak menyebut tebakan bobot terasinya. .
“Harga masih 1.800, sama dengan bulan kemarin,” Haji Sauba menghitung dengan sempoanya. “mau diambil uang semua?”
“Ambil beras 10 kilo, gula 2 kilo, kopi 4 bungkus, garam sekarung, Bentoel 1 pack, korek api 1 pack dan potong bon yang kemarin,” Bak mendikte barang belanjaannya.
Haji Sauba mencatat barang-barang yang diminta Bak, kemudian memainkan jarinya di atas biji sempoa, lalu menulis dengan melihat biji-biji sempoa itu. Kadang-kadang dia menyipitkan matanya menghindari asap rokok lintingan jumbo yang terus menari di bibirnya.
“Rrrrrtt,” Haji Sauba merobek selembar kertas di bagian atas karbon hitam dan menyerahkannya kepada Bak, lalu masuk ke dalam gudang dan keluar membawa barang-barang yang dipesan Bak.
“Pukat kantong sudah ada, Ji?” tanya Bak
“Pertengahan bulan ini mudah-mudahan sudah tiba. Mau berapa?” Haji Sauba balik tanya.
“7 pis saja seperti musim selatan kemarin,” ujar Bak.
“Kalau sudah tiba nanti bisa langsung diambil,” Haji Sauba memperkirakan kesiapan waktu pesanan.
Alat tangkap dan perlengkapan tertentu seperti pukat kantong memang harus dipesan dulu ke agen di Pangkal Pinang. Para nelayan ngebon perlengkapan itu di toko Haji Sauba dan membayar cicilannya dengan memotong uang penjualan hasil tangkapan.
Bak melangkah pulang membawa barang belanjaan dengan kerito surongnya, menelusuri jalan setapak yang dilaluinya tadi. Sore itu Bak menjadi pelanggan terakhir di toko Haji Sauba. Menjelang Maghrib, toko akan tutup selama 2 jam dan buka kembali setelah Isya. Malamnya, toko itu akan kembali ramai dengan warga yang bermain gaple atau menonton televisi. Haji Sauba adalah salah satu dari beberapa warga yang memiliki televisi dan menyediakan ruang tengah rumahnya untuk warga yang mau menonton bersama. ()
