06. Sekolah Kehidupan

Tuhan menciptakan makhlukNya dengan terlebih dulu menetapkan rezeki untuk semua ciptaanNya itu. Dia telah menyiapkan bumi, laut, dan udara sebagai tempat rezeki-rezeki itu disimpan. MakhlukNya diperintahkan untuk mencari rezeki itu dengan caranya sendiri-sendiri. Burung yang terbang di pagi hari dengan perut kosong, sore akan kembali dengan perut kenyang, dan membawa sebagian rezeki itu untuk anak-anaknya. Kasih sayangNya telah menjamin rezeki semua makhlukNya, hingga ke seekor ulat yang hidup di lubang batu yang gelap.

Manusia sebagai master piece ciptaanNya, memiliki cara mendapatkan rezeki yang  lebih terhormat dan canggih dari mahkluk yang lain.  Manusia diberikan  instrument khusus berupa akal pikiran untuk mempelajari semua hukum yang  tersimpan  di balik  semua ciptaanNya.  Manusia harus mengungkapkan hukum-hukum itu untuk menemukan perbendaharaan di dalamnya sebagai cara mendapatkan rezeki hingga menemukan eksistensi Sang Pemberinya.  Dia menciptakan mahlukNya karena Dia ingin dikenali dan ingin mendengar makhluk-mahklukNya itu memuji dan menyucikanNya.

Bak yang sehari-harinya hidup berada di sekitar pantai dan laut memahami bahwa rezeki diri dan keluarganya ada di situ.  Dia bisa mengambil rezeki  itu karena dia memahami hukum-hukum alam yang ada di laut dan pantai. Dia mempelajarinya tidak di bangku sekolah formal tetapi di bangku sekolah kehidupan.  Sekolah formalnya yang hanya sampai kelas IV SD, tidak memberinya bekal cukup untuk memahami hukum alam sekitarnya, tetapi lewat sekolah kehidupan dia bisa mempelajarinya sepanjang waktu.

Bak bisa mengetahui waktu akan datang badai melalui perubahan suhu pada hembusan angin yang menyentuh kulitnya. Dari pergerakan buih ombak,  Bak tahu kemana arah arus atas dan arus bawah bergerak  yang memudahkannya mengurai pukat.  Bak juga bisa mendeteksi  mana batu karang muda dan karang tua di bawah laut hanya dengan menempelkan telinganya di gagang pengayuh dengan ujung yang dimasukkan ke dalam air.  Dari jarak  puluhan meter  Bak dapat memprediksi ukuran dan jumlah ikan Belanak  dari bunyi air karena  gerakan ekor dan sirip ikan itu saat mengejar mangsa di air dangkal.  Bak sangat fasih tentang musim dan perubahan arah angin dan hubungannya dengan perubahan karakter air laut serta jenis ikan apa saja yang ada di dalamnya yang bisa ditangkap.  Pendek kata, Bak adalah maestro tentang ilmu kelautan, perikanan, dan musim di kampungnya.

Menyadari pentingnya pelajaran tentang lingkungan  tempat mencari penghidupan itu, membuat Bak harus menularkan ilmu itu kepada anak-anaknya, terutama Wan dan Dan sebagai  dua anak laki-lakinya yang paling besar.  Caranya tidak dengan mengajari mereka seperti seorang guru tetapi melibatkan mereka dalam pekerjaannnya sebagai nelayan. Itulah sebabnya, Wan dan Dan sejak kecil sudah mengalami mabuk laut dan biasa ikut Bak melaut baik secara bersamaan atau sendiri-sendiri.  Meskipun keduanya kadang hanya sekedar ikut dan menyaksikan Bak melakukan pekerjaannya di atas perahu.

“Kalau sedang bingung arah di tengah laut, lihat bintang yang di atas berbentuk layangan miring itu,” Bak menunjukkan ke langit suatu malam kepada kedua anaknya itu, “itu bintang selatan, arah layang-layangnya itu mengarah ke selatan. Kalau kita berlayar  dari kampung kita ini mengikuti arah bintang yang  di  bawah itu maka kita akan sampai ke  pulau Jawa.”

Mendengar Pulau Jawa, Wan membayangkan gambar pulau di bagian selatan peta Indonesia yang di pelajaran IPS di kelasnya.  Pulau Jawa disebut juga dengan Jawa Dwipa atau Pulau Beras karena banyak menghasilkan beras. Pulau tempat ibukota negara berada, Jakarta.

Pernah juga suatu malam, ketika waktu malam hampir mendekati titik tengahnya.  Langit begitu cerah dengan bintang-bintang yang sangat jelas tanpa penghalang. Bak tiba-tiba mengangkat pukatnya dengan buru-buru yang membuat Wan dan adiknya Dan heran.

“Kita tidak bisa mukat sampai pagi malam ini. Lihat barisan kecil awan hitam di tengah itu, sebentar lagi angin ribut akan turun. Wan! Bantu kayuh agar Bak ngumbut pukat lebih cepat,” Bak menarik tali pengikat aras pukat.

Usai mengangkat pukatnya itu, Bak langsung menarik dayung dan mendayung kencang menuju suwak.  Bak tidak ingin peristiwa yang dialaminya beberapa tahun lalu, menimpa 2 anak laki-lakinya itu. Ketika itu angin ribut  membalikkan perahunya dan menumpahkan pukat dan semua isinya.  Beruntung Bak masih bisa berenang ke tepi di tengah malam yang pekat dengan hujan lebat dan angin kencang.

Benar saja, menjelang keluar dari bibir air, langit cerah tadi mendadak gelap seperti dibungkus selimut hitam.  Di kegelapan yang pekat, angin kencang bercampur butiran gerimis bertiup tiba-tiba diikuti deburan gelombang yang tak beraturan.  Pohon Bakau dan Perpat  bergoyang hebat, gemeratak  dengan suara angin yang menderu. Pelepah dan daun kelapa meliuk-liuk  dengan suara yang bergetar.  Bak dan kedua anaknya meninggalkan suwak di tengah tumpahan hujan deras dan suara gelombang pecah seperti melampias amarah.

_____________

Karena pernah mengalami angin ribut yang ditandai dengan adanya barisan awan hitam di tengah laut membuat Wan dan Dan kerap mengira awan itu pertanda badai akan datang.  Seperti saat malam ketika mereka ikut Bak mukat tarik untuk menangkap Belanak, ikan bersisik  yang dagingnya sangat gurih.  Mereka tiba di Ujung Beting,  saat  malam sudah cukup larut karena tadi mereka  berangkat dari rumah sudah lewat Isya.  Bulan sudah tenggelam, setelah sempat muncul beberapa saat tadi sore. Bentuknya tidak bulat tetapi seperti parang lingkong.  Langit cukup cerah dengan beberapa bintang di beberapa bagiannya. Tapi di atas laut ada sekelompok awan  yang cukup besar bertengger tidak bergerak menutupi bintang-bintang di atasnya.  Air laut tenang dengan riak  kecil  bergemericik saat menyentuh badan perahu.  Gelombang  yang  memecah di atas pasir adalah satu-satunya suara suara yang terdengar pada malam itu.  Selebihnya, hanya dengingan  di kejauhan dan hembusan lembut angin di daun telinga.

“Siap-siap, sebentar lagi Bak akan bergegas pulang. Lihat awan besar di atas itu!” Wan bicara setengah berbisik kepada adiknya yang dijawab Dan dengan anggukan.

Sangkaan kedua anak itu semakin kuat karena  seringnya kilat muncul dari balik awan itu yang menerangi  alam di sekitar mereka. Kilat itu kadang muncul seperti retakan pada permukaan langit.  Namun Bak terlihat tenang  dan tak ada gelagat untuk pulang,  malah bersiap untuk membuka buntalan pukat tarik yang ada di depannya.

“Coba diam dulu!” Bak memberi isyarat dengan meletakkan jari telunjuk di mulutnya. “itu suara kawanan belanak yang sedang mengejar ikan dan udang  kecil.”

Wan dan Dan menahan napas beberapa saat untuk dapat mendengar suara Belanak yang Bak maksud.  Namun yang terdengar hanya suara gelombang yang pecah di atas pasir.

“Kalian turun dulu!” Bak memberi aba-aba agar kedua anaknya turun ke air. Air memang tak dalam hanya sepinggang orang dewasa atau setinggi dada Wan adiknya. Pukat tarik  memang digunakan untuk menangkap ikan di perairan dangkal dengan cara menarik pukat itu ke pinggir.  Salah satu targetnya adalah ikan Belanak yang bergerombol  mencari makan mengejar udang dan ikan kecil lainnya.

“Byuuur, byuuur!” Wan dan Dan terjun ke air.

“Masukkan lobang tali itu ke pinggang masing-masing. Pasang dulu kemudi dengan benar agar pukat tetap terbuka,” Bak memberi instruksi sekaligus mengingatkan.. “tarik lurus dulu!”

Wan dan Dan bergerak menjauh menarik ujung pukat meninggalkan Bak yang mengurai pukat dari atas perahu yang terlihat seperti bayangan hitam di keremangan malam.

“Tahan!” Bak berteriak  pertanda pukatnya telah habis.

Bak bersiap terjun ke air dengan membawa keranjang dan obor yang diselempang di badannya.

”Byuur!” terdengar Bak terjun ke air, “tarik buka!”  katanya lagi  sembari berjalan menarik pukat sambil memegang tali perahu.  Makin ke pinggir air makin dangkal.  “Buka, buka!” Bak sesekali berteriak mengingatkan kedua anaknya itu yang sering larut menarik tanpa sadar melakukan tarik tutup karena memang terasa lebih ringan dari pada tarik buka.

“Wrrrook, wrrrook, werrrrk” suara langkah kaki di air yang sudah di bawah lutut.   Bak sudah meninggalkan perahunya dan mulai menyalakan  obor. Obor berbahan bakar minyak tanah yang dibuat dari bambu.  Sumbunya dari sabut kelapa kering dibalut dengan handuk bekas. Jika nyalanya sudah mengecil, obor dibalikkan agar minyak masuk ke sumbu.

“Gebur, gebur!”  Bak menyuruh anaknya menggebah air dengan kaki  menghalau agar ikan tidak keluar dari  area tangkap pukat.

“Rrrr, rrrrr, rrrrt,” satu-satu mulai terdengar suara ikan yang tersangkut di pukat. Makin lama suara itu makin ramai seperti suara senapan mesin di film-film perang di televisi. Satu dua ekor  berkelebat ikan melompat keluar pukat membebaskan diri.

Bak menancapkan obor di pasir. “Tarik tutup, cepat lingkung ke sini!” Bak menyuruh kedua anaknya mendekat begitu kaki tiba di pasir kering untuk mempertemukan dua ujung pukat itu.  “Dan! Angkat bagian tengah pukat agar ikan tidak melompat,”

Hamdan spontan melepas tali di pinggangnya dan berlari ke bagian pukat yang masih berada di air dan mengangkat arasnya ke atas air.  Suara ikan yang menggelepar semakin ramai memecahkan keheningan di Ujung Beting malam itu.

Di bawah nyala obor yang meliuk-liuk dan kadang hampir padam, Bak dan kedua anaknya mengumpulkan ikan Belanak ke dalam keranjang.  Beberapa ekor udang ukuran 60 dan 50 ikut terjaring.

“Udangnya lumayan juga ini. Dengan pukat nylon setengah inchi saja banyak yang terjaring,” Bak seolah bicara pada diri sendiri.

“Tapi kok banyak yang lepas Bak, tadi,” Dan menyela.

“Iya, karena kita memakai pukat tarik untuk menangkap ikan.  Kalau mau nangkap udang kita harus pakai pukat benang, bukan nylon,” Bak menjelaskan.

“Wupphs!”  Bak meniup keras nyala obor memadamkannya, lalu memanggul keranjang yang hampir penuh sambil menenteng obor itu di tangan kirinya.  Wan dan Dan berjalan di belakang memikul pukat mengikuti Bak menuju perahu.

Di atas perahu, Bak mengaso sejenak dengan menikmati rokok dan kopinya sambil celingukan mengamati situasi. Sesekali dia mendongak ke atas mengamati bintang-bintang. Menoleh ke belakang melihat posisi Pulau Pelepas dengan lampu suarnya.  Sementara, Wan dan Dan langsung meraih rantang yang berisi nasi. ikan bakar dan udang rebus. Rasa lapar setelah berendam di air dan menarik pukat membuat keduanya tak bisa menahan diri.  Bak mengayuh pelan perahu ke arah Paloh menjauh dari tempat semula.

“Kita masih bisa melakukan dua tarikan lagi, sebelum fajar pertama terbit,” Bak mengira.

“Setelah itu, Bak?” Dan ingin tahu karena ingin segera pulang..

“Setelah itu air sudah mulai pasang,”

“Apa kalau air sudah pasang ikannya sudah tidak ada?” Wan menyela.

“Masih, tetapi kita kesulitan untuk menarik pukat dan tidak leluasa karena dikejar air pasang,” Bak menyebut alasan sulitnya menangkap ikan pakai pukat tarik di air pasang. .

Di kegelapan, hutan Bakau dan Perpat di pinggir itu seperti barisan bukit hitam yang sangat panjang. Awan besar yang tadi bertengger,  masih di tempatnya hanya sedikit berubah bentuk. Hembusan angin yang makin dingin menandai jika waktu sudah melewati tengah malam. Di kejauhan nyala obor para nelayan  seperti  bintang redup yang  menghiasi gelapnya permukaan laut.  Wan dan Dan pun  sudah tidak lagi mencemaskan awan yang nongkrong di atas itu, tetapi justru menikmati cahaya dari kilat yang dikeluarkannya.

__________

Angin kencang dan gelombang tidak selamanya menjadi pertanda buruk yang harus dihindari.  Tapi bisa jadi itu tanda yang baik untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. Dalam ukuran dan jumlah yang  besar,  angin dan gelombang  memang harus dihindari karena kekuatan manusia tidak mampu mengatasinya.  Tapi itupun dapat menjadi pengingat agar manusia tidak jumawa dan harus selalu tunduk pada Zat yang menciptakannya.  Karena selain diciptakan sebagai penguasa, manusia sejatinya adalah hamba yang diciptakan untuk mengabdi.

Dalam ukuran tertentu, angin dan gelombang  bagi Bak dan kawan-kawannya justru ditunggu. Karena kehadiran angin dan gelombang seperti itu menjadi momen mereka untuk mendapatkan udang yang lebih banyak.

Biasanya, angin dan gelombang seperti itu muncul pada  Musim Selatan sekitar Bulan Enam hingga Bulan Sembilan.   Angin kencang bertiup bergantian dari arah Selatan dan Tenggara.  Angin dan gelombang serupa itu juga terjadi pada Musim Barat antara Bulan Sembilan hingga Bulan Dua Belas. Arah angin itu bertiup berputar  bergantian dari Barat dan Barat Laut. Angin mulai turun menjelang tengah hari dan hanya berlangsung sekira 2 jam dan kadang diselingi hujan.

Di kedalaman air laut antara 3 sampai 6 Depa,  gelombangnya bervariasi antara setengah hingga satu meter yang membuat perahu para nelayan terombang-ambing hebat seperti jumpalitan jungkir balik.  Gelombang itu yang membuat air keruh dan membangunkan udang untuk keluar dari persembunyiannya di balik lumpur dan pasir di dasar air, dan bergerak mengikuti arus dan suhu air.  Karena kawanan udang bergerak di bawah air  maka untuk menangkapnya harus menggunakan pukat yang tenggelam bukan pukat yang melayang. Pukat itu adalah Pukat Kantong, yakni pukat dengan ukuran mata jaring ½  inchi yang dilapisi “kantong” berupa pukat atau jaring dengan ukuran matanya 4 inchi, yang berfungsi sebagai pengurung jika ada udang yang masuk ke badan pukat sehingga tidak mudah lepas. Tanpa kantong itu udang  yang masuk ke dalam pukat sangat riskan untuk lepas, apalagi jika air laut bergelombang.

Bak sudah berdiri di buritan melihat keadaan. Kakinya seperti ada perekat yang membuatnya tetap tegak di tengah perahu yang terombang ambing. Matahari yang sudah menjelang tengah hari, timbul tenggelam di antara awan-awan bergerak dengan sinar terangnya masih terlihat jelas. Sementara warna langit di tengah laut sudah kelabu sebagai pertanda jika hujan  sudah turun di kejauhan. Pulau Pelepas dan Pulau Begadung sudah mulai samar oleh hujan yang mulai mendekat.

“Kita di sini saja. Pertahankan posisi haluan mengarah ke Pulau Hantu,” Bak menunjuk pulau Hantu dengan setengah berteriak ke arah Wan yang sudah siap dengan pengayuh di tangannya. “tidak perlu dikayuh cukup jaga arahnya saja. Ini arusnya deras”

Wan tidak menjawab dan langsung mengerjakan instruksi Bak dengan mengungkit pengayuh bergantian di sisi kiri dan kanan perahu yang oleng karena terpaan gelombang yang bertubi-tubi. Sesekali Wan menoleh ke belakang melihat Bak dan tumpukan pukat di depannya untuk memperkirakan waktu selesainya pukat itu diurai.

“Sudah, stop!” Bak  menyuruh Wan berhenti  pertanda semua pukat sudah terurai.  Tak berselang lama hujan yang tadi tampak di kejauhan sekarang sudah mencapai posisi perahu Bak dan anaknya itu.  “pakai plastik itu agar tidak basah,” Bak menyuruh Wan menggunakan plastik bening yang biasa dipakainya untuk berlindung jika hujan. Sementara Bak sendiri membiarkan dirinya kehujanan dan seolah dia menikmati air hujan itu.

Berselang setengah jam kemudian Bak sudah bersiap untuk ngumbut pukatnya. Waktu yang singkat dibandingkan dengan kondisi normal.  “Kita tak boleh lama-lama, karena angin ini akan segera reda jika hujan lebat turun,” Bak mulai menarik aras pukat.

Guyuran hujan dan tamparan gelombang ke badan perahu yang bertubi-tubi tak membuat Bak kehilangan konsentrasi.  Bak  terus ngumbut pukatnya dan menghitung udang-udang yang  telah masuk ke dalam palka di bawah tempat duduknya, “satu, dua, empat, delapan…..”

Makin banyak udang yang terkumpul di dalam  makin ramai suara udang itu menggelepar yang membuat Bak makin bersemangat.  Semangat itu makin membuncah dengan pemandangan udang-udang yang bergelantungan di pukatnya.

“Pertahankan arah buritan ke arah pulau Nangka!” Bak memberi instruksi lagi. “Bantu kayuh agar kita tidak hanyut terlalu jauh.”

Hujan angin dan gelombang masih terus berkecamuk dan belum ada tanda-tanda akan berhenti.  Beberapa perahu nelayan yang tadi ada di tengah dan sejajar dengan perahu Bak dan Wan  sudah hanyut jauh ke arah Pulau Medang dan Pulau Hantu.  Samar-samar masih bisa terlihat timbul tenggelam diantara gelombang yang tak beraturan.

“Dua ratus enam puluh tiga..!” Bak menutup hitungan perolehan udang ketika sampai pelampung ujung. Hitungan sebagai pengingat sekaligus ungkapan kegembiraan.

Bak buru-buru meraih dayung dan berusaha mendekat ke posisi semula. “ayo kita ke tempat tadi!” katanya mengajak Wan membantunya menggerakkan perahu melawan arus dan gelombang.

Tak lama kemudian Bak memutar posisi perahu dengan arah haluan menuju ke arah ruang antara Pulau Medang dan Pulau Hantu.

“Pertahankan posisi seperti ini, haluan ke arah antara dua pulau itu,” kata Bak sambil melempar pelampung ujung ke air dan mulai mengurai pukatnya lagi.

Sementara Wan fokus menjalankan tugasnya dengan tetap diam untuk mendengar instruksi-instruksi Bak yang bisa datang mendadak di tengah deru angin dengan gemuruh hujan dan gelombang.

Samar-samar Pulau Pelepas dan Begadung sudah mulai tampak pertanda hujan di tengah sudah mulai mereda meskipun di sekitar perahu Bak dan Wan hujan masih cukup deras. Angin sudah tidak sekencang  tadi dan gelombangpun sudah mulai menurun.  Awan sisa hujan di sebelah Barat masih menutupi matahari sore  yang  sudah mulai condong ke ufuk. Namun cahayanya terlihat jelas yang  membuat awan dibawahnya menjadi terang dengan cahaya yang menembus sela-sela awan.  Bak sudah hampir selesai ngumbut pukatnya hanya  tinggal pis terakhir.

“Udangnya sudah mulai menghilang karena angin ributnya sudah mulai reda,” Bak seperti berbicara pada diri sendiri.

Wan mendengar dengan seksama setiap ucapan Bak sambil terus memperbaiki posisi plastik yang menyelimuti badannya agar tak kemasukan air hujan.

“Memangnya udang kemana, Bak?” Wan tak bisa menutupi rasa penasarannya.

“Sembunyi dengan mengubur diri di pasir atau lumpur di dasar laut,” Bak menjelaskan kebiasan udang di bawah air, “ini tidak sebanyak tadi. Di buang kedua ini kita hanya dapat 181 ekor,” Bak sambil menarik pelampung ujung pukat ke perahu.

Bak berdiri sejenak mengamati keadaan sekitar. Kemudian mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan menutup nyala korek api dengan kedua telapak tangannya. Bak baru bisa  merokok setelah hujan reda.

“Buang air perahu itu,” Bak menyuruh Wan membuang air dalam perahu yang sudah cukup banyak karena hujan barusan, “kita pulang sekarang. Nanti udang itu segera antar ke haji Sauba, beritongnya besok saja biar Bak pagi-pagi ke sana,” kata Bak sembari meraih dayung.

Bak mendayung gontai perahunya menuju suwak.  Berdayung sambil bersenandung lagu-lagu yang dulu  biasa dia nyanyikan di masa mudanya, seperti Bunga Seroja, Cinta Hampa, Fatwa Pujangga dan lain-lain.

Hujan sudah reda sama sekali dan hembusan angin sudah melembut dan gelombang bergerak dengan teratur.  Matahari yang sejak tadi sembunyi  di balik awan,  kini menampakkan diri dengan sinarnya yang mulai melemah pertanda sore akan segera berakhir. Bak sesekali menghentikan dayungnya untuk menikmati  sisa rokoknya. Namun perahunya tetap melaju terbawa gerakan gelombang yang berkejaran menuju pantai.  ()

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top