04. Malam Tujuh Likor

Beduk Ketiter sudah bertalu, terdengar dari surau kampung.  Beduk itu menandai jika besok pagi sudah masuk Bulan Puasa karena hari ini adalah hari terakhir Bulan Ruwah. Warga kampung sudah maklum kalau beduk ketiter sore itu sebagai pemberitahuan besok sudah mulai puasa.  Beduk ketiter memang hanya akan dibunyikan untuk momen tertentu  seperti pemberitahuan puasa, hari raya, atau membangunkan orang sahur.  Irama pukulan beduk itu berbeda dengan beduk tanda masuk waktu sembahyang atau beduk pemberitahuan ada warga yang meninggal.

Mak sudah terbiasa membuat persiapan masuk bulan puasa.  Kue-kue kering pada Hari Raya Ruwah 2 minggu lalu dijadikan sebagai salah satu menu untuk berbuka.  Hari Raya Ruwah adalah hari raya yang dirayakan sama meriahnya dengan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Hari Raya Ruwah jatuh pada pertengahan Bulan Ruwah atau biasa yang dikenal dengan Nishfu Sya’ban.  Hari Raya Ruwah ini dirayakan khusus untuk mendoakan para orang tua dan leluhur yang sudah meninggal yang ditandai dengan berkunjung ke pemakaman pada pagi harinya.  Ziarah itu juga dijadikan waktu membersihkan areal pemakaman agar tetap terjaga dan mudah dikenali.  Di situ para orang tua menceritakan tentang silsilah keluarga kepada anak-anaknya.  Maka seringkali, ziarah atau berkunjung ke pemakaman ini menjadi ajang silaturrahmi keluarga besar yang berasal dari garis keturunan yang sama.

Mak berdiri di depan pintu menyongsong  Bak yang baru pulang.

“Akak puasa besok?” Mak menyapa Bak  yang tengah menurunkan pikulan peralatanan nelayannya.

Bak tidak langsung menjawab tapi  melewati Mak menuju pondok kecil untuk meletakkan pengayuh dan pukatnya.

“Puasalah,  meskipun orangnya tidak puasa tapi bulannya tetap puasa,” Bak  berlalu masuk ke rumah menuju meja makan di ruang belakang.

Mak tidak menyambung lagi dan merasa cukup dengan jawaban suaminya itu.  Mak lalu bergegas  membenahi ikan-ikan dan  rantang wadah sangu Bak di dalam keranjang yang dipikul nya tadi.  Mak akan mempersiapkan makanan untuk  sahur nanti malam.

Beduk ketiter  yang tadi bertalu sudah tak terdengar lagi karena waktu sudah menjelang maghrib.  Mak pun sudah selesai membuat persiapan untuk malam dan dinihari nanti.  Ikan untuk lauk sahur sudah dibersihkan dan siap untuk dimasak  setengah matang. Menjelang sahur nanti baru dipanaskan lagi agar matang sempurna.

Bulan puasa memang spesial bagi Mak, karena sejak kecil dia dididik keras oleh bapaknya sehingga tahu dengan makna dan apa yang terkandung di bulan suci itu.  Mak juga membiasakan anak-anaknya untuk berpuasa dengan membangunkan mereka sahur setiap malam.  Di sore hari,  biasanya Mak membuat kue-kue basah untuk berbuka.  Air kelapa dicampur cincau atau selasih menjadi minuman pembuka yang selalu  tersedia yang membuat anak-anaknya bergembira menanti beduk maghrib.

Beda dengan Bak yang menganggap bulan puasa itu biasa saja.  Bak akan sangat gampang membatalkan puasa bila dirasa hari itu sangat panas ketika berada di laut.  Karena tidak terbiasa berpuasa sejak usia muda membuat Bak memandang puasa bukan hal yang penting.  Baginya, nafkah keluarganya jauh lebih penting, karena sehari dia tidak bekerja maka akan menganggu  kepulan asap dapurnya.  Kalaupun dia berpuasa lebih karena menghargai istrinya yang sudah menyiapkan  makanan untuk berbuka dan sahur.

“Saya ini sedang berusaha agar dunia saya tak goyang. Sebab kalau dunia goyang, maka akherat akan tumbang,” Bak berkelit setiap kali bila ada kawannya bertanya mengapa dia tidak puasa.

Bak memang tidak mendapat didikan dan pelajaran seperti Mak.  Sekolahnya hanya sampai kelas 4 SD, karena harus meninggalkan sekolah untuk membantu pekerjaan bapaknya seorang nelayan. Dia anak laki-laki satu-satunya dari 6 bersaudara.  Sebagai anak tertua, Bak harus ikut memikul beban orang tuanya mencari nafkah. Menjelang remaja dia sudah bekerja sendiri dengan menjadi anak buah kapal penangkap ikan dan kapal angkutan barang. Bekerja seharian di atas kapal membuat Bak terbiasa tidak berpuasa. Ditambah kawan-kawan sesama pekerja pun jarang ada yang kuat berpuasa.

Kalau ada kesempatan, Bak memilih tidak puasa.  Beberapa kali Bak sengaja ke ladang dengan membawa beras yang disembunyikan di balik bajunya.  Pulang di sore hari, bersikap seperti  orang tidak makan minum seharian.  Pergi ke ladang ini adalah trik yang biasa Bak lakukan untuk menghindari omelan istrinya yang selalu mengingatkan agar memberi contoh untuk anak-anaknya.

Sampai suatu ketika triknya itu ketahuan karena dia mengajak anaknya, Wan dan Dan ikut ke ladang.  Kedua anak itu heran melihat Bak menanak nasi saat istirahat siang.  Namun keduanya tetap diam karena mengira Bak menanak nasi untuk memberi makan  Nibong, anjing jantan yang tinggal di pondok itu menjaga ladang.  Keheranan Wan dan Dan bertambah karena Bak makan nasi yang dimasaknya tadi. Tapi keduanya tetap diam dan saling pandang karena ikut menikmati  nasi panas dengan lauk ikan asin bakar dan lempah darat alar keladi.

Menjelang maghrib, meja makan di ruang belakang itu sudah tertata makanan dan minuman buka puasa.  Mak menyiapkan menu khusus kue yet-yet dan celepon ubi  dengan minuman air kelapa muda dicampur cincau.  Dodol sisa Hari Raya Ruwah lalu juga tersedia sebagai menu pembuka.

Ima sudah duduk dekat meja karena telah berpuasa seharian dan berhak menikmati menu berbuka itu. Wan dan Dan merasa ragu mendekat karena tadi siang ikut makan siang di ladang. Sementara Bak duduk tenang seperti layaknya seorang yang puasa seharian.

“Duk,duk,duk,duk,dukk..!”

“Hah, itu beduknya,”  Ima bersemangat yang langsung membaca doa berbuka dan “sruuttt..,” Ima meminum air kelapa cincau.

Wan dan Dan sudah tidak tahan untuk ikut menikmati minuman itu. Tapi keduanya ragu karena ingat dengan aturan yang dibuat Mak, bahwa yang tidak puasa tidak boleh mendekat sebelum orang yang berpuasa selesai berbuka.

“Ayo Kak, Dik Dan..! kita berbuka,” Ima mengajak kakak dan adiknya yang belum juga menyentuh gelas minumannya.

Wan dan Dan saling pandang, lalu meraih gelas dengan ragu-ragu.  Tapi keraguan keduanya lenyap setelah melihat Bak minum dengan tenang tanpa rasa bersalah.

Mak masih sibuk di depan tungku menyelesaikan pekerjaannya. Kebetulan pada hari itu dia tidak puasa dan memilih melayani keluarganya.  Tapi sebagai ibu rumah tangga yang biasa mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu, Mak melihat ada keraguan Wan dan Dan  saat meraih gelas minumannya.  Biasanya kedua anaknya yang paling semangat untuk berbuka.

“Kalian berdua ini  tidak puasa?” Mak tiba-tiba berdiri di belakang kursi keduanya.

Wan tidak menjawab.  Adiknya Dan mengerling ke arahnya dengan saparo kue yet-yet sudah masuk  mulutnya. Keduanya tak berani menoleh ke belakang melihat tatapan Mak.

“Tahu kan aturannya? bagi yang tidak berpuasa!” ujar Mak  yakin kedua anaknya tidak puasa. “kok,  berani mendekati meja ketika orang berbuka?”

Dan yang  sudah tanggung dengan kue di mulutnya buru-buru menelannya.

“Karena Bak juga berani mendekati meja dan ikut berbuka,” kata Dan polos.

Mak menoleh dan melotot ke arah Bak yang pura-pura tak mendengar  dialog  Mak dengan anak-anaknya.  Bak terus melahap kue celepon dan yet-yet dan air kelapa cincau di depannya.

“Jadi Bakmu juga tidak puasa?” Mak dengan nada tinggi menoleh ke arah Bak..

“Tidak. Di ladang tadi Bak makan bersama kami,” ujar Dan berani karena merasa ada yang lebih bertanggung jawab atas kesalahannya.

“Akak tidak puasa?” Mak memelototkan matanya.

Bak menoleh pelan dengan mulut tetap mengunyah.  Tatapan tajam Mak memaksanya harus segera menjawab.  Namun Bak diam sejenak mengambil jeda dengan mengunyah terus kue celepon  di mulutnya untuk menyusun jawaban yang tepat.

“Akak puasa tidak, tadi?!”  Mak mengulang pertanyaan dengan nada meninggi setelah melihat Bak masih terus menguyah dan belum menjawab.

“Tadi siang itu, saya menanak nasi untuk jaga-jaga kalau Wan dan Dan tiba-tiba lapar setelah membersihkan rumput di kebun Shang di bukit itu.  Waktu memasak lempah darat alar keladi saya mencicipinya, tapi kuahnya tertelan. Karena terlanjur ya sudah saya makan sekalian,” jawab Bak mengarang dengan raut muka tak yakin.

Mendengar jawaban Bak seperti anak kecil itu Mak langsung mengintrogasi kedua anaknya.

“Kalian memang berniat untuk tidak puasa, tadi?” Mak membalik padangan pada kedua anaknya.

“Kami mau puasa. Tapi kami lihat Bak menanak nasi. Kami kira menanak nasi untuk Nibong. Tapi kok terus ngelempah alar keladi  dan bakar ikan asin.  Setelah itu Bak menimba nasi dan lempah ke piring dan memberinya ke kami,” jawab Dan.

“Begitu, Wan?” Mak mengecek jawaban Dan dengan bertanya kepada Wan yang diam sejak tadi.

Wan mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Pikirannya berkecamuk antara rasa bersalah dan keinginan untuk membela Bak.  Bingung membuatnya diam dan mengikuti cara Mak membongkar trik puasa Bak selama ini.

“Yang makan duluan, siapa?” tanya Mak lagi.

“Bak,” Dan menyambar cepat dengan mengarahkan telunjuknya ke arah Bak.

Bak sudah tak bisa mengelak dan mengarang cerita lagi karena semua bukti dan keterangan mengarah kepadanya sebagai tersangka tidak puasa.  Bak diam tapi mulutnya terus mengunyah diselingi dengan sesekali minum air kelapa cincaunya.

“Sudah makannya!,” kata Mak ketus dengan menarik kasar piring kue dan gelas di depan Bak.. Tapi  piring dan gelas yang ditarik itu sudah kosong karena semua isinya sudah habis. “lain kali kalau mau berbuka urus sendiri. Capek-capek saya menyiapkan semuanya, malah dibohongi. Anak-anak yang harusnya diajari dan diberi contoh yang baik,  malah diajari untuk melanggar dan berbohong. Mau jadi apa nanti anak-anak ini kalau bapaknya sendiri sudah memberi contoh buruk.”

Mak mengerjakan pekerjaan dapurnya, sambil terus “ceramah” yang membuat suasana buka puasa senja itu jadi tegang.   Mak menumpahkan rasa kesal dan  kecewanya dengan menghamburkan kata dan kalimat yang membuat Bak merasa bersalah. Mak  mengancam tidak akan mempersiapkan lagi makanan dan minuman berbuka dan sahur. Bak memilih diam mendengar ceramah istrinya  yang menumpahkan rasa kesal dan amarah.  Namun diamnya kali ini merenungi beberapa kalimat istrinya yang menyebut dirinya bukan bapak yang baik yang tak bisa memberi contoh pada anak-anaknya.

Setengah jam kemudian, ruang belakang rumah semi permanen itu hening dan tak terdengar lagi suara Mak yang menceramahi suami dan anak-anaknya.  Hanya meja persegi panjang dan empat  buah kursi  saja yang masih tetap di ruangan itu ditemanii asap tipi dari sisa kayu bakar di tungku dapur yang mengepul hampir padam…
______________

Bulan puasa sudah berada di penghujungnya.  Nyala lampu-lampu  minyak yang dibuat dari bambu itu satu dua sudah mulai terpasang sepanjang jalan di depan rumah-rumah  warga.  Sesuai adat dan kebiasaan,   warga menyambut 10 malam terakhir bulan puasa dengan memasang lampu bambu di depan rumahnya.  Puncaknya, pada malam ke-27 dimana lampu itu akan terpasang merata di setiap rumah.  Satu potong bambu dengan 2 atau 3 ruas  berisi 7  sumbu atau lebih.  Di malam hari  barisan lampu itu berjejer di kiri- kanan jalan mengikuti liku-liku jalan kampung.  Suasana makin meriah dengan suara Stabal atau meriam bambu yang bersahutan dimainkan anak-anak di sudut-sudut kampung

Wan, Ima dan Dan sudah mempersiapkan malam Tujuh Likor atau malam ke-27 itu dengan mengumpulkan batok kelapa.  Batok kelapa itu akan dibuat menara dengan cara melobanginya dan  menyusun batok itu  pada sepotong kayu yang ditancapkan ke tanah.  Ketinggian menara itu tergantung pada panjang kayu poros yang ditancapkan ke tanah itu.

Selepas Ashar, tiga menara batok kelapa sudah berdiri di depan rumah.  Yang paling tinggi adalah menara Wan, kemudian di sebelahnya lebih rendah milik Dan.  Menara Ima adalah yang paling rendah diantara ketiganya.  Menara batok kelapa itu akan dibakar setelah hari mulai gelap yang akan menjadi  penerang di sekitar halaman dan jalan di depan rumah.

Menjelang  beduk berbunyi  Bak dan anak-anaknya sudah mengelilingi meja bersiap untuk berbuka.  Suasana ini sempat vakum beberapa hari karena Mak ngambek tidak mau menyiapkan menu berbuka, tidak terima dengan puasa pura-pura Bak yang ketahuan.  Bak pun sempat menyiapkan segalanya sendiri selama kekesalan  Mak masih belum pulih.  Namun, hati Mak luluh sendiri  setelah melihat kesabaran dan kesungguhan Bak untuk berpuasa.  Sementara, Bak berpuasa sebagai bentuk penyesalan dan nalurinya sebagai seorang bapak yang menginginkannya anak-anaknya kelak tumbuh menjadi orang-orang baik.

“Mak!  baju baru saya sudah ada, kan?”  Dan tiba-tiba bertanya saat mereka berbuka.

“Mak sudah keliling ke toko Bik Hos, toko Ngah Dayang dan toko Bik Akew, tapi belum ketemu ukuran yang pas,” Mak menyebut toko-toko  yang menjual pakaian di kampung.

“Terus, kalau tidak ketemu, bagaimana? Sekarang sudah malam tujuh likor, tiga hari lagi sudah hari raya,” Dan berkata dengan nada cemas.

“Masih ada waktu tiga hari lagi.  Biasanya 2-3 hari sebelum hari raya, orang toko akan membawa baju-baju banyak,” Mak menenangkan Dan. “akakmu, Yu Ma, dan adik-adikmu juga belum ada yang beli baju baru.”

Dan lega dan fokus lagi dengan buka puasanya setelah mendengar penjelasan Mak  yang memberinya harapan untuk punya baju baru  pada hari raya nanti.  Hari raya memang waktu yang ditunggu-tunggu karena baju baru yang telah dismpan berbulan-bulan yang tak boleh dikeluarkan dari lemari akan diambil dan dipakai pada hari itu.  Namun, kini tiga hari menjelang hari raya baju baru itu belum ada di lemari, yang terus mengganggu pikirannya beberapa hari ini.  Namun, penjelasan Mak tadi membuat hatinya lebih tenang.

Wan, Ima dan Dan berhamburan lari ke halaman membawa kaleng kecil berisi minyak tanah dan korek api.  Mereka akan membakar menara batok kelapa karena hari sudah gelap.  Lampu-lampu bambu di depan rumah itu sudah menyala sejak sebelum maghrib tadi.  Bak yang menyalakannya sebelum mereka berbuka tadi.

“Kak, punya saya dibakar sekalian ya!” Ima meminta Wan untuk membakar menara batoknya..

“Iya,” Wan menjawab dari atas kursi untuk membakar puncak menara batoknya..

Di sebelahnya, Dan tidak mau kalah menaiki kursi menyalakan menaranya.  Hanya Ima yang tidak menggotong kursi keluar.  Dia berharap kakak atau adiknya dapat menyalakan menaranya.

“Kaleng minyaknya itu ke sini!” Wan meminta Ima mengulurkan kaleng minyak tanah.

“Nih!” Ima menyodorkan kaleng bekas susu yang berisi minyak tanah kepada Wan yang sudah berdiri di kursi di depan menara batok Ima.

Tak lama berselang, terdengar suara gemeratak api yang memakan batok kelapa kering di ketiga menara itu.  Arangnya berjatuhan membentuk lingkaran di sekeliling menara itu,  Wan, Ima dan Dan duduk memandang nyala api di puncak menara yang menerangi di sekitar halaman. Bulan sudah tak tampak lagi dan akan segera muncul bulan baru pada sore hari terakhir bulan puasa.

“Asap api itu akan kemana ya, Kak?” tanya Dan tiba-tiba.

“Melayang ke atas sampai tak kelihatan lagi,” jawab Wan sekenanya.

“Kalau kita bisa menaiki asap itu, kita bisa pergi jauh ya?” Ima menyela.

“Seandainya kita bisa menaiki asap, kamu mau kemana, Dik Ma?’ Wan menoleh ke arah Ima

“Saya mau naik ke atas lihat-lihat kampung kita dari atas dan terbang mengelilingi sekitar kampung saja,” Ima menyebut keinginannya.

“Kamu,  Dik Dan?” Wan menoleh ke arah Dan.

“Saya mau terbang melihat Pulau Bangka ini dan terus sampai ke Jawa,” jawab Dan tentang keinginan terbangnya.

“Akak terbang ke mana?” tanya Ima

“Saya ingin terbang berkeliling Indonesia dan melihat-melihat negara-negara di dunia,” Wan menyebut khayalannya.

Malam terus beranjak menuju  titik tengahnya.   Wan dan kedua adiknya masih duduk di depan menara batok kelapa memandang nyala api di bagian atasnya.  Langit cerah dengan bintang yang bertaburan menghiasi membuat jangkrik dan serangga malam lainnya keluar dari sarang masing-masing untuk bertasbih dan membesarkan nama Penciptanya.   Udara yang tenang membuat asap api ketiga menara batok itu membumbung tinggi  menerbangkan khayalan Wan dan kedua adiknya. ()

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top