Sering orang menyebut hidup itu bak lautan atau laksana samudera. Ada gelombangnya, ada angin sepoi-sepoi, ada badainya, juga ada luas dan dalamnya dan lain sebagainya. Maka dalam banyak cerita, ada metaphora “samudera kehidupan” untuk menggambarkan bahwa hidup yang kita jalani itu tak ubahnya seperti samudera. Untuk melewati samudera itu diperlukan perahu dan ketrampilan mengendalikannya serta pemahaman tentang musim dan cuaca di laut yang akan diseberangi itu. Jika tidak, maka kita akan tenggelam ditelan gelombang dan badai yang ada di dalamnya.
Bagi orang yang jarang atau tinggal jauh dari laut tidak mudah untuk memahami ungkapan “hidup layaknya samudera”. Bisa jadi yang terbayang hanya dalam dan luasnya saja. Tapi bagaimana gelombangnya, anginnya, ombaknya, badainya, ikannya, perahunya, dayungnya, alat tangkapnya, pelampungnya, kemudinya, layarnya dan lain-lain lebih mudah dicerna oleh mereka yang sehari-harinya memang hidup di laut.
Bak paham dengan laut yang akan diarunginya. Maka perahunya pun hanya berukuran kecil untuk berlayar di laut dangkal dan cukup untuk menopang kebutuhan keluarganya. Bak sudah menghitung resikonya, juga ongkos yang harus dikeluarkan untuk perawatan perahu itu jika ada kebocoran dan kerusakan lain. Ukuran perahu itu berbanding lurus dengan laut yang akan diarungi dan besarmya gelombang yang akan dilewati. Karena Bak tahu, kadang-kadang untuk melewati gelombang yang dibutuhkan bukan ukuran perahu saja tetapi ketepatan mengambil keputusan dan perlengkapan yang digunakan untuk selamat sampai tujuan. Bak tidak menggunakan dayung untuk melewati gelombang kecil tetapi memilih menggunakan pengayuh untuk melewatinya. Pada momen itu yang diperlukan bukan kecepatan tetapi ketepatan gerakan mengimbangi gerakan gelombang. Terutama pada gelombang yang akan memecah menjadi ombak, jika salah menentukan posisi maka perahu akan terbalik atau karam. Namun adakalanya, dayung dan pengayuh tidak perlu digunakan jika gelombangnya berubah menjadi badai. Dalam situasi badai seperti itu perahu pun lebih baik ditambat saja di kayu pancang alias tidak kemana-mana.
“Sulit kita besar jika perahu kita hanya segini-gini saja,” Zainudin berbicara kepada Bak yang sedang mendempul perahunya siang itu. Zainudin duduk diatas akar pohon kelapa di sebelah perahu tertelungkup yang sedang Bak perbaiki.
“Terus mau diapakan supaya besar?” Bak merespon kawannya itu dengan terus melanjutkan pekerjaannya.
“Kita buat kapal bermesin,” Zainudin menjawab enteng.
“Caranya?” Bak menghentikan pekerjaan dan menoleh ke arah kawannya itu
“Kita buat bersama-sama, jangan sendirian. Saya datang ke sini mengajakmu untuk gabung membuat kapal bermesin. Kita hanya perlu 5 orang saja berkongsi uang dan tenaga membuat kapal besar itu,” Zainuddin memaparkan idenya yang menjadi tujuannya menemui Bak sore itu.
“Siapa saja yang sudah bergabung?” Bak menyelidik..
“Kamu orang ketiga yang saya temui. Denan dan Miji sudah setuju,” Zainudin menyebut dua nama kawannya yang sudah setuju kongsi.
“Mengapa harus saya? Saya kan tidak punya uang untuk bisa urun modal membuat kapal” kejar Bak untuk tahu alasan kawannya itu.
“Kamu sudah punya pengalaman mengendalikan kapal, pekerja keras dan kalau soal uang bisa dicari dimana saja,” Zainudin setengah memuji dan sedikit mengesampingkan soal uang.
“Kalau sudah punya kapal besar, apa yang akan dilakukan?” tanya Bak lagi.
“Kita akan gunakan untuk menangkap ikan ke laut dalam dan juga angkutan untuk jual beli barang dengan membuat toko dan gudang di kampung ini. Sesekali kita sewa kapal itu untuk membawa semungkel ke Singapur,” Zainudin mengurai rencana usaha yang ada di kepalanya.
“Setelah itu berjalan semua, kita akan bagaimana lagi?” cecar Bak.
“Kita jadi orang kaya yang banyak duitlah.”
“Setelah banyak duit?”
“Kita akan nikmati hidup.”
“Nikmati hidup itu seperti apa?” tanya Bak dengan terus melanjutkan pekerjaannya..
“Kita bisa santai, jalan-jalan dengan keluarga, memancing dan mengerjakan pekerjaan yang kita sukai.” Zainuddin menjawab ringan seolah-olah apa yang diceritakannya itu sudah di depan mata.
Bak menghentikan pekerjaannya dan menatap dalam-dalam wajah temannya itu. Bak menghisap rokok, menghembuskan asapnya dan menjepit rokok itu di jari tangannya. “Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai kepada tahap kita bisa menikmati hidup itu?”.
“Yaah, antara 15 hingga 20 tahun,” Zainudin menjawab ringan.
“Lama sekali. Mengapa saya harus buang waktu selama itu hanya untuk bisa santai, jalan-jalan dengan keluarga, memancing dan mengerjakan apa yang saya sukai. Karena semua itu sudah saya lakukan hari ini,” ucap Bak yang membuat Zainudin tersentak dan bungkam.
Keduanya terdiam dan suasana hening, hanya desir angin dan suara burung laut saja yang terdengar di kejauhan. Zainudin merasa ada yang salah dengan penjelasannya sehingga Bak tidak menyetujui gagasannya. Dia memikir ulang kalimat yang telah disampaikannya tadi ketika menjawab pertanyaan kawannya itu.
“Jadi, bagaimana? kamu bisa gabung, kan?” Zainudin ingin memastikan.
“Sepertinya saya tidak bisa ikut. Karena banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan sekarang,” Bak memberi alasan menolak ajakan kawannya itu.
Zainudin yang sudah menebak jawaban Bak, kemudian pamit meninggalkan Bak sendiri melanjutkan pekerjaannya.
“Duk, duk, duk, duk…” Bunyi palu kayu yang digunakan Bak untuk memasukkan kulit gelam ke dalam celah papan perahunya. Gelam itu dimasukkan sebelum didempul untuk menahan agar air tak merembes ke dalam perahu. Beberapa dempul yang sudah lama akan mengeras dan retak dan harus diganti dengan yang baru.
___________
“Tadi Zainudin ke rumah, mau bertemu Akak,” Mak menyapa begitu Bak duduk di meja makan di ruang belakang. “tapi saya bilang lagi di suwak memperbaiki perahu.”
“Iya, tadi sudah ketemu,” ujar Bak.
“Ada urusan apa?” Mak ingin tahu.
“Ngajak kongsi membuat kapal bermesin,” jawab Bak.
“Akak mau?”
“Enggak. Dia hanya menceritakan yang bagus-bagus saja tanpa mempertimbangkan resiko dan biaya untuk membuat dan menjalankan kapal itu,” Bak memperjelas sikapnya…
“Kan enak kalau kita punya kapal.” Mak memancing reaksi Bak.
“Siapa bilang?” Bak membalikkan pancingan Mak.
“Ya, kata orang-orang yang melihat orang yang punya kapal besar,” jawab Mak sekenanya.
“Itu pasti orang yang belum pernah merasakan berada di kapal besar atau belum pernah memiliki kapal besar. Kalau sudah, baru tahu apa masalah di dalamnya. Semakin besar kapal maka semakin besar pula masalahnya seiring dengan besarnya beban dan tanggung jawab,” Bak memberi pandangan berdasarkan pengalamannya selama ini..
Mak tidak membantah karena tahu Bak sudah biasa berada di kapal besar selama bertahun-tahun melewati laut dan sungai sehingga tahu betul segala seluk beluknya.
“Memangnya tidak ada keinginan untuk punya kapal besar?” Mak mencoba memancing lagi.
“Ada, tapi setelah melihat apa yang ada pada diri sendiri, saya lebih memilih perahu sederhana saja. Tidak ada gunanya besar dan banyak jika selalu merasa kurang. Lebih baik yang sederhana tetapi cukup,” balas Bak.
Mak diam dan membiarkan Bak menghirup kopinya. Diam-diam Mak mengagumi cara Bak menjelaskan alasannya menolak memiliki kapal besar seperti yang ditawarkan oleh temannya tadi. Kemampuan Bak menjelaskan adalah buah dari perjalanan hidupnya selama ini yang merasakan langsung hidup berada di kapal besar dan melihat bagaimana pemilik kapal itu mengelolanya. Kebanyakan orang hanya fokus melihat gambar besarnya saja tetapi jarang yang bisa melihat ke dalam apa masalah di baliknya.
“Bukankah dengan kapal besar kita bisa berlayar di tengah gelombang dan badai yang akan mempercepat kita sampai tujuan?” Mak memulai lagi.
“Betul. Tapi saya sudah tak ingin menentang badai dan memilih berlayar setelah badai berlalu. Meskipun pelaut saya bukan Penentang Badai tetapi hanya Pengayuh Gelombang yang bergerak dengan hati-hati untuk menyiasati gerakan gelombang dan ombak,” Bak menjelaskan pandangannya dengan bertamsil.
“Kalau ketika sedang asyik berlayar tiba-tiba terjebak badai, harus bagaimana?” Mak setengah menguji.
“Badai itu turun ada tandanya. Bacalah tanda-tanda itu dan jangan diabaikan agar tidak terjebak. Dan jika terjebak, hadapi dengan usaha mencari tempat berlindung di pulau-pulau terdekat dan berdoa dengan sungguh-sungguh mengharap pertolonganNya,” Bak menjawab seperti seorang mu’alim yang sedang berceramah.
Mak tidak melanjutkan lagi perkataannya hanya diam sambil manggut-manggut. Kemudian berlalu meninggalkan Bak sendiri menikmati kopinya.
________
Selama perahunya masih dalam perbaikan, Bak pergi menyiangi dan merawat kebun Shang atau Lada miliknya. Kebun seluas dua hektare dengan 1.500 pohon yang terletak di atas bukit kecil di kawasan Biyat. Bak tidak menanamnya sekaligus tetapi mulai dari 500 pohon dari bibit yang dibuat dari batang Shang tua di kebun sebelumnya. Setelah berumur setahun Bak memotong batangnya dijadikan bibit baru untuk menambah pohon di lahan yang belum tertanam. Dari potongan batang yang tersisa akan muncul tunas membentuk cabang dan dahan baru. Bak mengerjakan sendirian mulai dari membuka dan membersihkan lahan, mengukur jarak tanam, menggali lobang hingga menanamnya. Termasuk untuk junjong, atau tiang penyangga pohon Shang untuk merambat, Bak mengambil sendiri di hutan yang ada di sekitar kebunnya itu. Praktis untuk membuka kebun itu Bak hampir tidak mengeluarkan biaya hanya tenaga saja. Setelah tertanam semua, Mak yang banyak berperan menjaga dan membersihkan kebun dari rumput liar agar Shang dapat tumbuh sempurna.
“Haji Sauba kemarin ngomong bahwa harga Shang ini akan terus naik sampai beberapa tahun ke depan,” kata Derahman, saat mereka bertemu di pemandian di pinggir kebun. Derahman adalah pemilik kebun yang bersebelahan dengan kebun Bak. Seperti biasa, usai bekerja Bak dan Derahman mandi membersihkan badan sebelum istirahat siang. Pemandian itu adalah sungai kecil yang mengalir di bawah bukit areal perkebunan itu.
“Alhamdulillah, biar kita lebih semangat,” Bak berdiri di depan temnanya itu sembari menggantung handuknya di perempai di tepi pemandian itu.
“Kamu ikut tawaran dari tauke yang kemarin datang ke kampung?” tanya Derahman tiba-tiba
“Tawaran apa? Saya malah tidak tahu,” Bak balik bertanya.
“Kemarin ada tauke dari Pangkal Pinang yang menawarkan modal untuk siapa saja yang mau memperluas kebunnya atau membuat kebun baru. Kabarnya sudah banyak juga yang ikut,” Derahman memperjelas maksud ucapannya tadi.
“Tawarannya seperti apa?” Bak ingin tahu.
“Satu orang diberi modal untuk membangun kebun Shang seluas 5.000 sampai 10.000 pohon,”
“Modal itu sebagai pinjaman atau bagi hasil?” tanya Bak lagi.
“Katanya pinjaman dan dibayar setelah panen ditambah bunga 10 persen,”
“Kamu ikut?” Bak melangkah menuju titi kayu pemandian itu. .
“Saya masih pikir-pikir. Tapi kalau kamu ikut saya akan ambil juga,” Derahman mengikuti Bak turun menenggelam setengah badannya ke dalam air. .
“Kalau saya tegas, tidak akan ikut. Saya memilih untuk merawat yang ada saja,” Bak membasahi rambutnya dengan membenamkan kepalanya ke dalam air..
“Wah, sayang sekali. Ini kesempatan langka, kapan lagi kita akan memiliki kebun luas?” Derahman menyayangkan sikap Bak.
“Kamu sekarang punya 2.000 pohon milik sendiri tanpa harus mikir untuk bayar hutang. Bandingkan dengan kamu punya 5.000 pohon dan harus bayar hutang. Jangan-jangan hasil panenmu itu hanya untuk bayar hutang semua. Lantas kamu dapat apa dari 5.000 pohon itu? Syukur jika panennya bagus dan kamu masih dapat sisanya sebagai keuntungan. Kalau tidak, 5.000 pohon itu menjadi beban hutang semua.” Bak memberikan gambaran kepada temannya itu.
Derahman terdiam duduk di titi kayu mencerna kata-kata Bak sambil menggosok-gosok kakinya dengan sabut kelapa..
“Iya juga ya, tidak terpikir saya tadinya, jika sebenarnya tawaran itu tawaran berhutang,” kata Derahman kemudian.
“Orang hanya melihat pada besar dan banyaknya, tetapi lupa dengan tujuan akhirnya. Lebih baik kita biasa dan sederhana tapi bahagia, dari pada besar tapi tersandera,” Bak kembali turun membersihkan sisa sabun di tubuhnya..
“Byurrr,” Bak menceburkan dirinya ke dalam air sambil menggosok-gosok tubuhnya dengan tangan. .
“Byurr,” Derahman menyusul menceburkan diri di sebelah Bak..
Air sungai yang jernih itu tidak hanya menyejukkan Bak dan Derahman siang itu, tetapi juga membuat gembira seekor capung yang terus menari dengan sesekali menyentuh ekornya ke permukaan air. Setelah lelah menari dia hinggap di ujung kayu yang menyembul di atas permukaan air sungai itu. ()
